web stats

Senin, 02 Juni 2014

ASPEK KOHESI LEKSIKAL CERPEN DARI PARIS


TUGAS KELOMPOK VII
ASPEK KOHESI LEKSIKAL

DOSEN PENGAMPU : RINI AGUSTINA, M.Pd
MATA KULIAH : ANALISIS WACANA
SEMESTER : IV (EMPAT)
KELAS : A SORE


OLEH :
AGUSTINA SETIAWATI               (511200215)
FAUZY AHMAD HIDAYAT         (511200211)
VERONIKA                                     (511200047)


INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(IKIP-PGRI) PONTIANAK
2014

KATA PENGANTAR

Puji  dan syukur   kehadirat Tuhan Yang Mahaesa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudulaspek kohesi leksikal . Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis wacana.
Kami dalam menyusun makalah ini banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak  terutama kepada ibu Rini agustina, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Analisis wacana.
Kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan makalah ini. Namun, apabila masih terdapat kekurangan kami mohon maaf. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik  dan saran yang besifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.


Pontianak,  2014

                                                                                                           Penulis.

`DAFTAR ISI
Kata pengantar...................................................................................................                     i
Daftar isi............................................................................................................                     ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar belakang.......................................................................................                     1
B.     Rumusan masalah..................................................................................                     1
C.     Tujuan ...................................................................................................                     2
BAB II KAJIAN TEORI
Kajian teori ……………………………………………………………….                     3
BAB III PEMBAHASAN
  1. Kohesi leksikal ……………………………………………………….                      4
  2. Metode .................................................................................................                      4
BAB IV PENUTUP
A.    Simpulan ……………………………………………………………..                      9
B.     Saran ………………………………………………………………….                     9
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................                   iii

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang.
Dalam perkembangannya, dari segi bentuk dan panjangnya cerpen merupakan karya sastra yang paling cepat dan mudah beradaptasi dengan lingkungan media bukan sastra, misalnya koran. Entah berapa ratus cerpen terpublikasikan di media pada setiap bulannya, sebab hampir semua majalah hiburan dan surat kabar umum yang memiliki edisi minggu menyediakan rubrik khusus cerpen.
Cerpen sebagai suatu karya sastra yang relatif pendek, dengan hanya beberapa halaman, dengan kalimat-kalimat realis yang sederhana, terbukti sanggup membuktikan kosmos suatu kondisi dengan tampilan yang utuh. Dengan kecenderungan untuk tidak berkhotbah, cerpen dengan cukup sarat pasti mampu menggambarkan bahwa konflik dengan kekuatan eksternal, yakni pada sosiokultural sebuah kampung pada masa transisi dapat dibangun dengan sempurna. Begitu pula konflik internal yang dibangun pada unsur-unsur kohesif yang membentuk wacana cerpen, lewat penggambaran tokoh, adegan, dialog-dialog yang diucapkan para tokoh, pun ternyata mampu membangun suatu kesatuan yang padu.
Dalam tulisan ini akan dianalisis aspek sosial budaya serta penanda kohesi leksikal, pada sebuah cerpen karya Harris Effendi Thahar yang berjudul ”Dari Paris”. Cerpen ini termasuk di dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas Tahun 1994 yang berjudul Lampor.
Cerpen ini menggambarkan tentang perubahan zaman, dan peran keluarga sebagai pemersatu kerukunan telah menjadi ilusi semata. Harris Effendi Thahar dengan cerdas mampu menggambarkan hilangnya ikatan batin sebuah keluarga. Cerpen ”Dari Paris” dibangun dengan alur maju yang rapat dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dicerna oleh siapa saja. Dengan daya cerita yang mengalir dan gaya ungkap yang tidak menggurui, mengakibatkan pembaca tertarik untuk membaca lebih jauh, mengerti akhir ceritanya, dan memahami maknanya.

B.     Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.   metode apa saja yang digunakan untuk menganalisis cerpen ”Dari Paris” dengan aspek kohesi leksikal?
2.   Bagaimanakah penanda kohesi leksikal dalam cerpen ”Dari Paris”?
C.    Tujuan
1.   Mengetahui metode yang digunakan untuk menganalisis cerpen ”Dari Paris” dengan aspek kohesi leksikal
2.   Mengetahui penanda kohesi leksikal dalam cerpen ”Dari Paris”























BAB II
KAJIAN TEORI

Pada tataran wacana kohesi (keterkaitan) adalah kaitan semantis antara satu proposisi atau kalimat dengan proposisi lainnya dalam wacana itu. Kaitan itu pada tataran wacana diperlihatkan oleh alat kohesi, yang dapat berupa unsur leksikal.
Kesinambungan rentetan kalimat dalam wacana terjadi karena adanya benang pengikat yang mempertalikan proposisi dengan proposisi yang lain, yang lebih dikenal dengan konsep keterkaitan (kohesi) (Dardjowidjojo 1986:94). Keterkaitan merupakan satu kesatuan yang mendukung keberadaan suatu wacana. Halliday dan Hassan (1979:75) berpendapat bahwa kohesi merupakan konsep makna yang mengacu pada hubungan makna di dalam suatu wacana. Kohesi adalah kesatuan semantis antara satu ujaran dengan ujaran lainnya dalam suatu wacana.
Hubungan kohesif di dalam wacana dapat ditandai secara formal oleh pemarkah-pemarkah (alat kohesi). Pemarkah-pemarkah itu menghubungkan apa yang dikatakan dengan apa yang telah dinyatakan sebelumnya di dalam wacana itu (Samsuri 1987/1998:38). Pemarkah-pemarkah itu berfungsi mengikat dan membentuk keutuhan wacana. Kaitan itu diperlihatkan oleh alat kohesi yang dapat berupa unsur leksikal.









BAB III
PEMBAHASAN


A.      Kohesi leksikal
Hubungan kohesi leksikal adalah hubungan kohesif wacana yang terjadi apabila dua unsur di dalam wacana dihubungkan melalui satu pengertian. Alat kohesi leksikal terdiri dari dua macam yaitu reiterasi, dan kolokasi. Masing-masing kategori terbagi atas sub-subkategori. Tipe hubungan reiterasi dibedakan menjadi perulangan, sinonim, superordinat, dan unsur umum. Tipe kedua adalah kolokasi yang merupakan unsur-unsur yang memiliki jaringan semantik yang sama yag muncul secara teratur di dalam sebuah wacana.

B.     Metode
1.      Data
Dalam makalah ini akan disajikan data-data berupa penggalan kata-kata, kalimat, atau paragraf untuk mengidentifikasi unsur-unsur yang membangun karya sastra cerpen. Unsur-unsur yang akan dibahas tersebut meliputi analisis situasi dan konteks sosial budaya dalam cerpen, serta identifikasi penanda kohesi leksikal dalam naskah cerpen.
2.      Sumber data.
Seluruh data diperoleh dari naskah cerpen berjudul ”Dari Paris” karya Harris Effendi Thahar, yang diperoleh dari Cerpen Pilihan Kompas 1994. Cerpen ini sendiri termuat di Harian Kompas edisi 7 Februari 1993.
3.      Metode analisis data.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini metode analisis deskriptif. Selain menggambarkan aspek sosial budaya dalam cerpen ”Dari Paris”, dilakukan juga pendekatan penulisan dengan interpretasi data. Pendekatan tersebut digunakan dalam menganalisis penanda kohesi dalam cerpen ”Dari Paris”.


4.      Fokus bahasan.
Analisis Situasi dan Konteks Sosial Budaya Cerpen ”Dari Paris”
a)      Analisis situasi
Pak Kasim, seorang pensiunan guru yang telah renta, sangat mendambakan anaknya Alwi, anak lelakinya satu-satunya, untuk pulang ke Sumatra. Lebih dari sepuluh tahun Alwi tak pulang ke rumah. Walaupun Pak Kasim agak kecewa dengan keadaan itu, toh ia selalu membanggakan anaknya itu di depan teman-teman ngobrolnya di warung kopi Jalil.
Dari aspek situasional tokoh utama, Pak Kasim, akhirnya meninggal setelah mengalami masa kritis yang memuncak. Pak Kasim terlalu berat menanggung beban kerinduan terhadap Alwi yang telah lama dipendamnya. Disebabkan perbincangannya dengan Tan Marajo yang dirasakannya telah melukai hatinya, seolah menyindirnya, dengan mengatakan anak Tan Marajo yang jualan sate di Jakarta masih sempat pulang menjelang lebaran. Berbeda dengan Alwi yang tak pernah pulang sekalipun.
Hingga pada masa kerinduannya yang amat sangat, Pak Kasim seperti biasanya menunggu telepon dari Alwi. Namun hingga larut malam Alwi tak kunjung meneleponnya. Ketika Pak Kasim nekat menelepon Alwi namun hanya dijawab oleh pembantunya yang mengatakan Alwi beserta keluarga sedang pergi ke Paris, hilanglah semangat Pak Kasim yang menyebabkan ia meninggal setelah sempat menulis surat untuk anaknya Alwi.
Sedangkan Alwi, hanya bisa menyesal mendapati tanah merah kuburan ayahnya beserta warisan berupa buku tabungan, ketika ia terbang pulang ke Sumatera, dari Paris.
b)      Analisis sosial budaya
Dalam konteks ini penulis menempatkan si pelaku dalam masa transisi, pada pergeseran budaya perkotaan dalam lingkup kehidupan sosiokultural yang tak lagi tradisional.
Dalam cerpen ini penulis memotret suatu keprihatinan sosial yang tidak bermuara pada protes. Karena di dalam suatu gejala sosial belum tentu terdapat pihak yang dianggap bersalah. Harris Effendi Thahar dalam cerpen ini mengangkat keprihatinan sosial yang bermuara pada perubahan nilai-nilai sosial.
Perubahan memang merupakan sebuah konsekuensi sebagai akibat dari bias-bias perubahan zaman. Perubahan yang terkadang membuat peran keluarga sebagai pemersatu kerukunan telah menjadi ilusi semata. Ikatan batin di dalam sebuah keluarga seperti hilang. Zaman memang telah berubah. Namun siapa yang disalahkan? Tidak ada. Masing-masing individu terlibat. Protes tidak mungkin dilayangkan kepada siapapun. Tapi toh, rasa sesal terhadap perubahan itu tetap ada. Rasa sesal, sebagaimana halnya protes dapat menciptakan sebuah karikatur. Begitu sebuah karikatur tercipta, sebuah melodrama pun ikut tercipta.
Melodrama bisa menjadi sangat instrumental dalam memancing kesadaran. Meninggalnya seorang ayah memang dapat memacu kesadaran anak akan kesalahannya. Namun, kesadaran datang setelah segala sesuatunya terlambat. Karena itu, kehendak zaman tetap menang. Keluarga sebagai lembaga pemersatu tetap merupakan ilusi.

5.      Analisis Leksikal Penanda Kohesi Cerpen ”Dari Paris”
Aspek leksikal adalah hubungan antarunsur dalam wacana secara semantis. Analisis aspek leksikal dalam wacana meliputi: Reiterasi dan Kolokasi. Berikut ini adalah pemaparan aspek-aspek leksikal yang dijumpai dalam cerpen ”Dari Paris”.
a)      Reiterasi
1)      Repetisi
Ya, ayah tidur, eh tunggu sebentar... Ayah...ayah... Bangun Yah. Aduh, bagaimana ini. Bang Syariiif, ayah meninggal. Halo, ayah tidak ada lagi.”
Pada contoh di atas terdapat perulangan kata ayah di awalan, tengah, dan akhir kalimat
2)      Sinonimi
Sinonimi merupakan aspek leksikal guna mendukung kepaduan wacana. Sinonim dipakai untuk menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual lain dalam wacana.
contoh: artinya, ia masih bisa mencurahkan perasaannya sewaktu menulis surat kepada anak laki-lakinya Alwi. Dalam suratnya ia mengatakan bahwa ia sangat ingin mendengarkan suara anaknya, suara pewaris keturunannya.
Pada contoh di atas, kata anak disinonimkan dengan pewaris keturunan.
3)      Antonimi
Antonimi adalah satuan lingual yang berlawanan, disebut juga dengan istilah oposisi. Berdasarkan sifatnya, oposisi makna dapat dibedakan menjadi lima macam; 1) oposisi mutlak, 2) oposisi kutub, 3) oposisi hubungan, 4) oposisi hirarkial, dan 5) oposisi majemuk.
Contoh: Tuan dan nyonya baru saja berangkat ke Paris sore ini.
Pada contoh di atas terdapat oposisi hubungan antara tuan x nyonya.
4)      Superordinat
Contoh: Biar pesawat terbang, atau taksi, apalagi bus antarkota, ia merasa tak kuat.
Kata kendaraan atau sarana transporatasi merupakan superordinat dari pesawat terbang, bus antarkota, dan taksi.
















BAB IV
PENUTUP

A.    Simpulan
Cerpen merupakan media yang efektif untuk mengungkapkan realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Dengan cerita yang menarik, tahap-tahap ketegangan cerita, didukung dengan penciptaan karakter tokoh yang bervariasi, menjadikan cerpen sebagai pilihan untuk itu. Berbeda dengan pidato atau khotbah yang lebih terkesan menggurui, di dalam cerpen pembaca lebih dihadapkan pada suatu fenomena dan akhirnya pembaca sendirilah yang akan mengambil makna dan nilai-nilai di dalamnya, untuk kemudian dijadikan sebagai perenungan, refleksi, dan juga kontrol sosial.
Pada cerpen ”Dari Paris”, pengarang mencoba memotret tentang perubahan sosial yang terjadi di Padang, Sumatra. Bagaimana disebabkan tuntutan zaman yang serba modern, menjadikan seorang anak tidak lagi sempat untuk mengunjungi orang tuanya di sebuah kampung yang sedang dalam masa transisi menuju ke perkotaan. Akhirnya terciptalah sebuah drama melo ketika sang anak akhirnya menyadari kesalahannya justeru di saat sang ayah meninggal dunia, meninggalkan buku tabungan yang sebenarnya merupakan kiriman dari sang anak setiap bulannya. Namun, oleh sang ayah sepeserpun uang itu tak pernah dibelanjakannya.
Kebahagiaan memang tak dapat dinilai dengan apa pun, itulah kira-kira pesan yang coba diselipkan oleh pengarang. Selain daripada pesan-pesan moral yang lain, seperti  kewajiban seorang anak untuk memperhatikan orang tuanya, dan juga seperti layaknya di kampung, sosialisasi menjadi hal yang sangat dijaga. Dan sebagaimana biasanya, warung dan masjidlah yang menjadi tempat sosialisasi yang pas.

B.     Saran
Berdasar kesimpulan diatas,diharapkan pembaca dapat memahami aspek kohesi leksikal yang terkandung dalam cerpen “Dari Paris” karya harris effendi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar