TUGAS
KELOMPOK VII
ASPEK
KOHESI LEKSIKAL
DOSEN
PENGAMPU : RINI AGUSTINA, M.Pd
MATA
KULIAH : ANALISIS WACANA
SEMESTER
: IV (EMPAT)
KELAS
: A SORE
OLEH :
AGUSTINA
SETIAWATI (511200215)
FAUZY AHMAD HIDAYAT (511200211)
VERONIKA (511200047)
INSTITUT
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN
GURU REPUBLIK INDONESIA
(IKIP-PGRI) PONTIANAK
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
kehadirat Tuhan Yang Mahaesa yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
kami
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”aspek kohesi
leksikal” .
Makalah ini diajukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis wacana.
Kami dalam menyusun makalah ini
banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak terutama
kepada ibu Rini
agustina, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Analisis wacana.
Kami telah berusaha
semaksimal mungkin dalam penyusunan makalah ini. Namun, apabila masih terdapat
kekurangan kami
mohon maaf. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik dan saran
yang besifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.
Pontianak, 2014
Penulis.
`DAFTAR ISI
Kata
pengantar................................................................................................... i
Daftar
isi............................................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang....................................................................................... 1
B. Rumusan
masalah.................................................................................. 1
C. Tujuan
................................................................................................... 2
BAB II KAJIAN TEORI
Kajian teori ………………………………………………………………. 3
BAB III PEMBAHASAN
- Kohesi leksikal ………………………………………………………. 4
- Metode
................................................................................................. 4
BAB IV PENUTUP
A. Simpulan …………………………………………………………….. 9
B. Saran …………………………………………………………………. 9
DAFTAR
PUSTAKA................................................................................... iii
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang.
Dalam perkembangannya, dari segi bentuk
dan panjangnya cerpen merupakan karya sastra yang paling cepat dan mudah
beradaptasi dengan lingkungan media bukan sastra, misalnya koran. Entah berapa
ratus cerpen terpublikasikan di media pada setiap bulannya, sebab hampir semua
majalah hiburan dan surat kabar umum yang memiliki edisi minggu menyediakan
rubrik khusus cerpen.
Cerpen sebagai suatu karya sastra yang
relatif pendek, dengan hanya beberapa halaman, dengan kalimat-kalimat realis
yang sederhana, terbukti sanggup membuktikan kosmos suatu kondisi dengan
tampilan yang utuh. Dengan kecenderungan untuk tidak berkhotbah, cerpen dengan
cukup sarat pasti mampu menggambarkan bahwa konflik dengan kekuatan eksternal,
yakni pada sosiokultural sebuah kampung pada masa transisi dapat dibangun
dengan sempurna. Begitu pula konflik internal yang dibangun pada unsur-unsur
kohesif yang membentuk wacana cerpen, lewat penggambaran tokoh, adegan,
dialog-dialog yang diucapkan para tokoh, pun ternyata mampu membangun suatu
kesatuan yang padu.
Dalam tulisan ini akan dianalisis aspek
sosial budaya serta penanda kohesi leksikal, pada sebuah cerpen karya Harris
Effendi Thahar yang berjudul ”Dari Paris”. Cerpen ini termasuk di dalam
Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas Tahun 1994 yang berjudul
Lampor.
Cerpen ini menggambarkan tentang perubahan zaman,
dan peran keluarga sebagai pemersatu kerukunan telah menjadi ilusi semata.
Harris Effendi Thahar dengan cerdas mampu menggambarkan hilangnya ikatan batin
sebuah keluarga. Cerpen ”Dari Paris” dibangun dengan alur maju yang rapat
dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dicerna oleh siapa saja. Dengan
daya cerita yang mengalir dan gaya ungkap yang tidak menggurui, mengakibatkan
pembaca tertarik untuk membaca lebih jauh, mengerti akhir ceritanya, dan
memahami maknanya.
B. Rumusan Masalah
Adapun
permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. metode apa saja yang digunakan untuk menganalisis cerpen
”Dari Paris” dengan aspek kohesi leksikal?
2. Bagaimanakah penanda kohesi leksikal dalam cerpen ”Dari
Paris”?
C. Tujuan
1. Mengetahui metode yang digunakan
untuk menganalisis cerpen ”Dari Paris” dengan aspek kohesi leksikal
2. Mengetahui penanda kohesi leksikal dalam cerpen ”Dari Paris”
BAB II
KAJIAN TEORI
Pada tataran wacana kohesi
(keterkaitan) adalah kaitan semantis antara satu proposisi atau kalimat dengan
proposisi lainnya dalam wacana itu. Kaitan itu pada tataran wacana
diperlihatkan oleh alat kohesi, yang dapat berupa unsur leksikal.
Kesinambungan rentetan kalimat dalam
wacana terjadi karena adanya benang pengikat yang mempertalikan proposisi
dengan proposisi yang lain, yang lebih dikenal dengan konsep keterkaitan
(kohesi) (Dardjowidjojo 1986:94). Keterkaitan merupakan satu kesatuan yang
mendukung keberadaan suatu wacana. Halliday dan Hassan (1979:75) berpendapat
bahwa kohesi merupakan konsep makna yang mengacu pada hubungan makna di dalam
suatu wacana. Kohesi adalah kesatuan semantis antara satu ujaran dengan ujaran
lainnya dalam suatu wacana.
Hubungan kohesif di dalam wacana dapat
ditandai secara formal oleh pemarkah-pemarkah (alat kohesi). Pemarkah-pemarkah
itu menghubungkan apa yang dikatakan dengan apa yang telah dinyatakan
sebelumnya di dalam wacana itu (Samsuri 1987/1998:38). Pemarkah-pemarkah itu
berfungsi mengikat dan membentuk keutuhan wacana. Kaitan itu
diperlihatkan oleh alat kohesi yang dapat berupa unsur leksikal.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Kohesi leksikal
Hubungan kohesi
leksikal adalah hubungan kohesif wacana yang terjadi apabila dua unsur di dalam
wacana dihubungkan melalui satu pengertian. Alat kohesi leksikal terdiri dari
dua macam yaitu reiterasi, dan kolokasi. Masing-masing kategori terbagi atas
sub-subkategori. Tipe hubungan reiterasi dibedakan menjadi perulangan, sinonim,
superordinat, dan unsur umum. Tipe kedua adalah kolokasi yang merupakan
unsur-unsur yang memiliki jaringan semantik yang sama yag muncul secara teratur
di dalam sebuah wacana.
B.
Metode
1. Data
Dalam makalah
ini akan disajikan data-data berupa penggalan kata-kata, kalimat, atau paragraf
untuk mengidentifikasi unsur-unsur yang membangun karya sastra cerpen.
Unsur-unsur yang akan dibahas tersebut meliputi analisis situasi dan konteks
sosial budaya dalam cerpen, serta identifikasi penanda kohesi leksikal dalam
naskah cerpen.
2. Sumber data.
Seluruh data
diperoleh dari naskah cerpen berjudul ”Dari Paris” karya Harris Effendi Thahar,
yang diperoleh dari Cerpen Pilihan Kompas 1994. Cerpen ini sendiri
termuat di Harian Kompas edisi 7 Februari 1993.
3. Metode analisis data.
Metode analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini metode analisis deskriptif. Selain
menggambarkan aspek sosial budaya dalam cerpen ”Dari Paris”, dilakukan juga
pendekatan penulisan dengan interpretasi data. Pendekatan tersebut digunakan
dalam menganalisis penanda kohesi dalam cerpen ”Dari Paris”.
4. Fokus bahasan.
Analisis
Situasi dan Konteks Sosial Budaya Cerpen ”Dari Paris”
a)
Analisis
situasi
Pak Kasim,
seorang pensiunan guru yang telah renta, sangat mendambakan anaknya Alwi, anak
lelakinya satu-satunya, untuk pulang ke Sumatra. Lebih dari sepuluh tahun Alwi
tak pulang ke rumah. Walaupun Pak Kasim agak kecewa dengan keadaan itu, toh ia
selalu membanggakan anaknya itu di depan teman-teman ngobrolnya di warung kopi
Jalil.
Dari aspek
situasional tokoh utama, Pak Kasim, akhirnya meninggal setelah mengalami masa
kritis yang memuncak. Pak Kasim terlalu berat menanggung beban kerinduan
terhadap Alwi yang telah lama dipendamnya. Disebabkan perbincangannya dengan
Tan Marajo yang dirasakannya telah melukai hatinya, seolah menyindirnya, dengan
mengatakan anak Tan Marajo yang jualan sate di Jakarta masih sempat pulang
menjelang lebaran. Berbeda dengan Alwi yang tak pernah pulang sekalipun.
Hingga pada
masa kerinduannya yang amat sangat, Pak Kasim seperti biasanya menunggu telepon
dari Alwi. Namun hingga larut malam Alwi tak kunjung meneleponnya. Ketika Pak
Kasim nekat menelepon Alwi namun hanya dijawab oleh pembantunya yang mengatakan
Alwi beserta keluarga sedang pergi ke Paris, hilanglah semangat Pak Kasim yang
menyebabkan ia meninggal setelah sempat menulis surat untuk anaknya Alwi.
Sedangkan
Alwi, hanya bisa menyesal mendapati tanah merah kuburan ayahnya beserta warisan
berupa buku tabungan, ketika ia terbang pulang ke Sumatera, dari Paris.
b) Analisis sosial budaya
Dalam konteks ini penulis menempatkan si pelaku dalam masa transisi,
pada pergeseran budaya perkotaan dalam lingkup kehidupan sosiokultural yang tak
lagi tradisional.
Dalam cerpen ini penulis memotret suatu keprihatinan sosial yang tidak
bermuara pada protes. Karena di dalam suatu gejala sosial belum tentu terdapat
pihak yang dianggap bersalah. Harris Effendi Thahar dalam cerpen ini mengangkat
keprihatinan sosial yang bermuara pada perubahan nilai-nilai sosial.
Perubahan memang merupakan sebuah konsekuensi sebagai akibat dari
bias-bias perubahan zaman. Perubahan yang terkadang membuat peran keluarga
sebagai pemersatu kerukunan telah menjadi ilusi semata. Ikatan batin di dalam
sebuah keluarga seperti hilang. Zaman memang telah berubah. Namun siapa yang
disalahkan? Tidak ada. Masing-masing individu terlibat. Protes tidak mungkin
dilayangkan kepada siapapun. Tapi toh, rasa sesal terhadap perubahan itu tetap
ada. Rasa sesal, sebagaimana halnya protes dapat menciptakan sebuah karikatur.
Begitu sebuah karikatur tercipta, sebuah melodrama pun ikut tercipta.
Melodrama
bisa menjadi sangat instrumental dalam memancing kesadaran. Meninggalnya
seorang ayah memang dapat memacu kesadaran anak akan kesalahannya. Namun,
kesadaran datang setelah segala sesuatunya terlambat. Karena itu, kehendak
zaman tetap menang. Keluarga sebagai lembaga pemersatu tetap merupakan ilusi.
5. Analisis Leksikal Penanda Kohesi Cerpen ”Dari Paris”
Aspek leksikal adalah
hubungan antarunsur dalam wacana secara semantis.
Analisis aspek leksikal
dalam wacana meliputi: Reiterasi dan Kolokasi. Berikut ini adalah pemaparan
aspek-aspek leksikal yang dijumpai dalam cerpen ”Dari Paris”.
a) Reiterasi
1) Repetisi
Ya, ayah
tidur, eh tunggu sebentar... Ayah...ayah... Bangun Yah. Aduh, bagaimana ini.
Bang Syariiif, ayah meninggal. Halo, ayah tidak ada lagi.”
Pada contoh di atas terdapat perulangan kata ayah di awalan, tengah,
dan akhir kalimat
2) Sinonimi
Sinonimi merupakan aspek
leksikal guna mendukung kepaduan wacana. Sinonim dipakai untuk menjalin
hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual lain dalam wacana.
contoh: artinya, ia masih bisa mencurahkan
perasaannya sewaktu menulis surat kepada anak laki-lakinya Alwi. Dalam suratnya
ia mengatakan bahwa ia sangat ingin mendengarkan suara anaknya, suara pewaris
keturunannya.
Pada contoh di atas, kata anak disinonimkan dengan
pewaris keturunan.
3) Antonimi
Antonimi adalah satuan
lingual yang berlawanan, disebut juga dengan istilah oposisi. Berdasarkan
sifatnya, oposisi makna dapat dibedakan menjadi lima macam; 1) oposisi mutlak,
2) oposisi kutub, 3) oposisi hubungan, 4) oposisi hirarkial, dan 5) oposisi
majemuk.
Contoh: Tuan dan nyonya baru saja berangkat ke
Paris sore ini.
Pada contoh di atas terdapat oposisi hubungan antara
tuan x nyonya.
4) Superordinat
Contoh: Biar pesawat terbang, atau taksi, apalagi bus
antarkota, ia merasa tak kuat.
Kata kendaraan atau sarana transporatasi merupakan
superordinat dari pesawat terbang, bus antarkota, dan taksi.
BAB IV
PENUTUP
A.
Simpulan
Cerpen
merupakan media yang efektif untuk mengungkapkan realitas sosial yang terjadi
di masyarakat. Dengan cerita yang menarik, tahap-tahap ketegangan cerita,
didukung dengan penciptaan karakter tokoh yang bervariasi, menjadikan cerpen
sebagai pilihan untuk itu. Berbeda dengan pidato atau khotbah yang lebih
terkesan menggurui, di dalam cerpen pembaca lebih dihadapkan pada suatu
fenomena dan akhirnya pembaca sendirilah yang akan mengambil makna dan nilai-nilai
di dalamnya, untuk kemudian dijadikan sebagai perenungan, refleksi, dan juga
kontrol sosial.
Pada
cerpen ”Dari Paris”, pengarang mencoba memotret tentang perubahan sosial yang terjadi
di Padang, Sumatra. Bagaimana disebabkan tuntutan zaman yang serba modern,
menjadikan seorang anak tidak lagi sempat untuk mengunjungi orang tuanya di
sebuah kampung yang sedang dalam masa transisi menuju ke perkotaan. Akhirnya
terciptalah sebuah drama melo ketika sang anak akhirnya menyadari kesalahannya
justeru di saat sang ayah meninggal dunia, meninggalkan buku tabungan yang
sebenarnya merupakan kiriman dari sang anak setiap bulannya. Namun, oleh sang
ayah sepeserpun uang itu tak pernah dibelanjakannya.
Kebahagiaan
memang tak dapat dinilai dengan apa pun, itulah kira-kira pesan yang coba
diselipkan oleh pengarang. Selain daripada pesan-pesan moral yang lain, seperti
kewajiban seorang anak untuk memperhatikan orang tuanya, dan juga seperti
layaknya di kampung, sosialisasi menjadi hal yang sangat dijaga. Dan sebagaimana
biasanya, warung dan masjidlah yang menjadi tempat sosialisasi yang pas.
B.
Saran
Berdasar kesimpulan
diatas,diharapkan pembaca dapat
memahami aspek kohesi leksikal yang terkandung dalam cerpen “Dari Paris” karya harris
effendi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar