BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Film
“Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” adalah sebuah film karya Deddy Mizwar yang
mencerminkan realitas social yang ada di dalam kehidupan masyarakat di negeri
ini. Kelompok kami memilih film ini karena beberapa alasan, salah satu alasan
pemilihan film ini sebagai tugas analisis film yang akan dikaitkan dengan
system komunikasi yang ada di Indonesia adalah karena di dalam film ini
terkandung berbagai macam makna kehidupan mulai dari makna religi,
nasionalisme, kehidupan social, serta pendidikan untuk memilih mana yang baik
atau benar dan yang mana yang salah.
Pada film
ini kami tertarik untuk mengkajinya karena di dalam film ini terpapar jelas
tentang
kisah nyata di negeri ini bahwa eksploitasi anak benar-benar ada dan nampak
nyata di
negeri. Generasi-generasi muda yang seharusnya belajar dan mencari ilmu
setinggi-tingginya,
malah dituntut dan di ajarkan untuk melakukan sesuatu yang tidak halal, yaitu
mencopet. Mereka jadi terbiasa dan menjadikan pekerjaan yang tidak halal ini
menjadi sesuatu yang menyenangkan dan baik bagi mereka. Mereka jadi terbiasa
dengan kehidupan enak dan santai dengan jalan mencopet dan malas untuk mencari
pekerjaan yang halal seperti mengasong contohnya.
Film yang
mengandung sedikit komedi di dalamnya ini juga menggambarkan bahwa kesenjangan
social yang ada di masyarakat ternyata mempengaruhi tingkat pendidikan dari
masyarakat itu sendiri. Para masyarakat yang tidak memiliki tingkat ekonomi
yang mencukupi pada kenyataannya mempengaruhi pendidikan dari masyarakat itu
sendiri. Kebanyakan dari mereka yang tidak memiliki keuangan yang mencukupi
memiliki pendidikan yang rendah, bahkan tidak berpendidikan sama sekali. Begitu
juga dengan orang-orang yang telah memiliki gelar belum tentu juga mendapatkan
pekerjaan atau kehidupan yang layak karena di negeri ini, uang adalah hal yang
paling penting. Segalanya sepertinya dapat terbayarkan oleh uang.
Di Film ini
juga digambarkan bahwa kurangnya lapangan pekerjaan mempengaruhi tingkat
pengangguran dan kriminalitas di negeri ini dimana orang-orang yang tidak
memiliki kekuasaan atau uang biasanya kebanyakan menjadi pengangguran, pengamen
atau pengemis karena kenyataan di negeri ini bahwa mencari suatu lapangan
pekerjaan itu sangatlah susah dan membutuhkan yang namanya pengalaman,
pendidikan, kekuasaan, dan yang paling utama adalah uang untuk mendapatkan
pekerjaan yang bermakna dan berharga di negeri ini.
Oleh karena
susahnya mencari yang namanya pekerjaan atau lapangan pekerjaan di negeri ini,
maka perlu adanya pembangunan paradigm baru, yaitu paradigm entrepreneurship
yang harus dimiliki oleh seluruh generasi muda. Ini bertujuan agar para
generasi muda tidak selalu bergantung pada orang lain dan berusaha untuk
menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, dengan begitu di negeri tingkat
lapangan kerja dapat bertambah dan tingkat pengangguran, pengemis dan
pengamenpun dapat berkurang.
Pada film
ini juga digambarkan bobroknya mental aparatur Negara dalam hal ini lebih
ditekankan pada aparat kepolisian dan anggota DPR. Polisi disini digambarkan
sesuai dengan kenyataan yang ada di negeri ini yang mana begitu mudahnya di
bayar oleh uang. Aparat kepolisian juga diperlihatkan seperti tidak memiliki
hati nurani dan perasaan dengan mengejar dan menangkap para anak-anak penjual
asongan yang sedang berusaha mencari uang secara halal dan tidak memperhatikan
bahwa telah jelas di undang-undang pasal 34 ayat 1 yang berbunyi,”fakir miskin
dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara.” Tentu saja yang dilakukan
oleh para aparat kepolisian itu sangat berlawanan dengan isi dari pasal
tersebut.
Disini juga
anak-anak pencopet ini diberi bekal pendidikan tentang nasionalisme dan religi.
Mereka di ajarkan mengenai nilai-nilai yang terkandung didalam pancasila,
bagaimana lagu kebangsaan Negara ini yang mungkin sebelumnya tidak pernah
mereka dengar, serta tentang agama yang mungkin dia tidak tahu sama sekali
sebelumnya tentang pengertian agama itu sendiri. Mereka diajarkan bagaimana
cara beribadah dan juga diajarkan pengetahuan tentang mana hal-hal yang benar
atau halal dan mana yang salah atau halal dari segi agama. Mereka juga dididik
tentang kebersihan serta membaca menulis agar mereka mendapatkan walau hanya
sedikit tentang tulisan-tulisan yang pasti ada disekitar mereka.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas,
maka permasalahan yang ingin diungkap peneliti adalah “Seberapa besar
prosentase kemunculan pesan sosial dalam film Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”.
C.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan di adakannya penelitian ini
adalah untuk menganalisis seberapa besar prosentase kemunculan pesan sosial
dalam film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” dengan menggunakan analisis isi.
D.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain :
1. Manfaat teoritis
a) Memperluas pengetahuan peneliti dalam hal isi
pesan yang terdapat pada sebuah film, khususnya film “Alangkah Lucunya (Negeri
Ini)”.
b) Memberikan gambaran tentang teori-teori pesan
sosial.
c) Memberi sumbangan dan penelitian dalam bidang
film, khususnya pada pesan-pesan sosial di dalam sebuah film.
2. Manfaat Praktis
a) Dapat di gunakan para insan perfilman untuk
mengukur bukti secara ilmiah tentang isi pesan sosial dalam pembuatan sebuah
film.
b) Bagi kalangan akademis, dapat menambah bidang
penelitian terutama dalam bidang perfilman, dalam hal ini tentang pesan-pesan
sosial dalam sebuah film dan juga dapat dijadikan dasar kebiijaksanaan dalam
menindaklanjuti hal tersebut.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. PENGERTIAN FILM
Film adalah
gambar-hidup, juga sering disebut movie. Film, secara kolektif, sering disebut
sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak. Film
juga sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa di kenal di
dunia para sineas sebagai seluloid. Pengertian secara harafiah film
(sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos
(cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya
adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak dengan
cahaya, kita harus menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan
kamera.
Film
dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur
palsu) dengan kamera, dan/atau oleh animasi. Kamera film menggunakan pita
seluloid (atau sejenisnya, sesuai perkembangan teknologi). Butiran silver halida
yang menempel pada pita ini sangat sensitif terhadap cahaya. Saat proses
cuci film, silver halida yang telah terekspos cahaya dengan ukuran yang tepat
akan menghitam, sedangkan yang kurang atau sama sekali tidak terekspos
akan tanggal dan larut bersama cairan pengembang (developer).
Definisi
Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media
komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi
dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan
hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran
melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau
tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem
Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya;
Istilah film
pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik yang dilapisi dengan zat
peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut selluloid. Dalam bidang
fotografi film ini menjadi media yang dominan digunakan untuk menyimpan
pantulan cahaya yang tertangkap lensa. Pada generasi berikutnya fotografi
bergeser padapenggunaan media digital elektronik sebagai penyimpan gambar.
Dalam bidang
sinematografi perihal media penyimpan ini telah mengalami perkembangan yang
pesat. Berturut-turut dikenal media penyimpan selluloid (film), pita
analog, dan yang terakhir media digital (pita, cakram, memori chip). Bertolak
dari pengertian ini maka film pada awalnya adalah karya sinematografi yang
memanfaatkan media selluloid sebagai penyimpannya.
Sejalan
dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi, maka pengertian
film telah bergeser. Sebuah film cerita dapat diproduksi tanpa
menggunakan selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film
yang menggunakan media selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap
pasca produksi gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital dapat
disimpan pada media yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat
disimpan Pada media selluloid, analog maupun digital.
Perkembangan
teknologi media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari istilah yang
mengacu pada bahan ke istilah yang mengacu pada bentuk karya
seniaudio-visual. Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang)
seni yang menggunakan audio (suara) dan visual (gambar) sebagai
medianya.Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik
yang dilapisi dengan zat peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut
selluloid. Dalam bidang fotografi film ini menjadi media yang dominan digunakan
untuk menyimpan pantulan cahaya yang tertangkap lensa.
Pada
generasi berikutnya fotografi bergeser padapenggunaan media digital elektronik
sebagai penyimpan gambar. Dalam bidang sinematografi perihal media
penyimpan ini telah mengalami perkembangan yang pesat. Berturut-turut dikenal
media penyimpan selluloid (film), pita analog, dan yang terakhir media
digital (pita, cakram, memori chip). Bertolak dari pengertian ini maka film
pada awalnya adalah karya sinematografi yang memanfaatkan media selluloid
sebagai penyimpannya.
Sejalan
dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi, maka
pengertian film telah bergeser. Sebuah filmcerita dapat diproduksi tanpa
menggunakan selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit
film yang menggunakan media selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap
pasca produksi gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital
dapat disimpan pada media yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat disimpan
Pada media selluloid, analog maupun digital.
Perkembangan
teknologi media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari istilah yang
mengacu pada bahan ke istilah yeng mengacu pada bentuk karya
seniaudio-visual. Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang)
seni yang menggunakan audio (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.
B. Unsur-Unsur
Film
Film mempunyai unsur-unsur yang
terkandung di dalam unsur-unsur tersebut adalah:
a. unsur Intrinsik
unsur yang
terdapat di dalam karya sastra.yang mempengaruhi karya sastra
tersebut,unsure intrinsik dalam cerita meliputi
Tema
Pokok persoalan dalam cerita.
Karakter tokoh
Tokoh dalam
cerita. Karakter dapat berupa manusia, tumbuhan maupun benda
Karekter
dapat dibagi menjadi:
Karakter
utama:
tokoh yang
membawakan tema dan memegang banyak peranan dalam cerita
Karakter
pembantu:
tokoh yang
mendampingi karakter utama
Protagonis :
karakter/tokoh yang mengangkat tema
Antagonis :
karakter/tokoh
yang memberi konflik pada tema dan biasanya berlawanan dengan karakter
protagonis.
(Ingat, tokoh antagonis belum tentu jahat).
Konflik
Konflik
adalah pergumulan yang dialami oleh karakter dalam cerita dan . Konflik
ini merupakan inti dari sebuah karya sastra yang pada akhirnya membentuk plot.
Ada empat macam konflik, yang dibagi dalam dua garis besar:
Konflik
internal
Individu-diri sendiri: Konflik ini tidak melibatkan orang lain, konflik ini
ditandai dengan gejolak yang timbul dalam diri sendiri mengenai beberapa hal
seperti nilai-nilai. Kekuatan karakter akan terlihat dalam usahanya menghadapi
gejolak tersebut
Konflik
eksternal
Individu – Individu: konflik yang dialami seseorang dengan orang lain
Individu – alam: Konflik yang dialami individu dengan alam. Konflik ini menggambarkan perjuangan individu dalam usahanya untuk mempertahankan diri dalam kebesaran alam. Individu- Lingkungan/ masyarakat : Konflik yang dialami individu dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya.
Individu – alam: Konflik yang dialami individu dengan alam. Konflik ini menggambarkan perjuangan individu dalam usahanya untuk mempertahankan diri dalam kebesaran alam. Individu- Lingkungan/ masyarakat : Konflik yang dialami individu dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya.
Seting
Keterangan
tempat, waktu dan suasana cerita.
Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta
keadaan ketika cerita berlangsung
Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta
keadaan ketika cerita berlangsung
Plot
Jalan cerita
dari awal sampai selesai
Eksposisi :
penjelasan awal mengenai karakter dan latar( bagian cerita yang mulai
memunculkan konflik/ permasalahan)
Klimaks :
puncak konflik/ ketegangan
Falling
action: penyelesaian
Sudut pandang
Sudut
pandang yang dipilih penulis untuk menyampaikan ceritanya.
Orang
pertama: penulis berlaku sebagai karakter utama cerita, ini ditandai dengan
penggunaan kata “aku”. Penggunaan teknik ini menyebabkan pembaca tidak
mengetahui segala hal yang tidak diungkapkan oleh sang narator. Keuntungan dari
teknik ini adalah pembaca merasa menjadi bagian dari cerita.
Orang kedua:
teknik yang banyak menggunakan kata ‘kamu’ atau ‘Anda.’ Teknik ini jarang
dipakai karena memaksa pembaca untuk mampu berperan serta dalam cerita.
Orang
ketiga: cerita dikisahkan menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti: mereka
dan dia.
Teknik penggunaan bahasa
Dalam
menuangkan idenya, penulis biasa memilih kata-kata yang dipakainya sedemikian
rupa sehingga segala pesannya sampai kepada pembaca. Selain itu, teknik
penggunaan bahasa yang baik juga membuat tulisan menjadi indah dan mudah
dikenang. Teknik berbahasa ini misalnya penggunaan majas, idiom dan peribahasa.
Amanat
Nilai
(amanat) : pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang emalalui
cerita
cerita
BAB III
ANALISIS
A.
SINOPSIS
Film
Alangkah Lucunya (Negeri Ini) merupakan film yang disutradarai oleh Deddy
Mizwar dan didukung oleh sejumlah pemain seperti Reza rahardian, Slamet
Rahardjo, Tio Pakusadewo dll. Film yang sarat akan pesan moral dan kritikan
sosial yang tersampaikan dengan apik dari awal film sampai akhir.
Film ini mengisahkan mengenai Muluk (Reza Rahadian), seorang pemuda yang mempunyai gelar sarjana management, namun masih belum menemukan pekerjaan yang tepat untuknya. Akan tetapi, ia tak pernah patah semangat. Ia selalu mendapat dukungan dari sang ayah, Pak Makbul (Deddy Mizwar), serta sang kekasih, Rahma. Suatu ketika, saat Muluk sedang melewati pasar, ia bertemu dengan pencopet cilik yang bernama Komet sedang mencopet seorang bapak-bapak. Merasa tersinggung karena tahu betapa susahnya mencari uang, Muluk pun menangkap pencopet itu dan berniat membawanya ke kantor polisi. Namun urung dilakukannya.
Merasa
tertolong karena tidak diadukan ke polisi, pencopet cilik ini mulai akrab
dengan Muluk dan dia membawanya ke markas pencopet. Lalu, Muluk diperkenalkan
dengan Bang Jarot (Tio Pakusadewo) selaku bos pencopet yang mengurus sekumpulan
anak-anak yang pekerjaannya tidak lain adalah mencopet. Muluk mengajak Bang
Jarot dan anak-anak pencopet ini untuk melakukan kerjasama dengannya. Sebuah
kerjasama yang melibatkan ilmu yang didapatnya dari bertahun-tahun kuliah,
yakni manajemen. Ia akan melakukan sistem manajemen terhadap setiap penghasilan
yang didapat dari setiap pencopet di setiap harinya. Muluk beralasan, dengan
cara ini, maka sedikit demi sedikit, uang tersebut akan terkumpul dan para
pencopet cilik tersebut nantinya dapat membuka sebuah usaha dan tak perlu lagi
mencopet.
Dengan
mengenakan biaya 10% dari hasil setiap mencopet akan diberikan pada Muluk,
Jarot pun setuju menjalani kerjasama tersebut.
Kemudian dengan bantuan dari dua orang temannya, Pipit (Ratu Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan), untuk mengajarkan anak-anak tersebut ilmu kewarganegaraan serta ilmu agama. Hasilnya, kini anak-anak pencopet tersebut telah menjadi orang yang “berpendidikan”, baik secara sosial maupun relijius.
Namun,
apakah pendidikan mampu membuat mereka untuk berhenti dari mencopet?
Berbagai kritik moral dan sosial yang terjalin di sepanjang jalan cerita film ini, tentu saja merupakan sebuah tamparan keras pada mereka orang-orang yang mengaku berpendidikan dan memiliki nilai moral tinggi, namun dengan tega merampas hak-hak rakyat yang seharusnya mereka berikan. Hal ini mampu disampaikan Deddy Mizwar dengan jalan yang lancar, komikal dan dipenuhi anekdot-anekdot politis yang pas ukurannya.
Berbagai kritik moral dan sosial yang terjalin di sepanjang jalan cerita film ini, tentu saja merupakan sebuah tamparan keras pada mereka orang-orang yang mengaku berpendidikan dan memiliki nilai moral tinggi, namun dengan tega merampas hak-hak rakyat yang seharusnya mereka berikan. Hal ini mampu disampaikan Deddy Mizwar dengan jalan yang lancar, komikal dan dipenuhi anekdot-anekdot politis yang pas ukurannya.
Hasilnya,
tanpa disadari oleh setiap penontonnya, berbagai pendidikan moral nan religius
mengalir lancar dalam 100 menit masa penayangan film ini.
Dengan
cemerlang, Deddy Mizwar dapat membungkus pesan-pesan menusuk tersebut lewat
kemasan komedi yang menghibur. Walau disampaikan dengan tidak serius dan
dibawakan lucu oleh para pemainnya, namun jangan salah, justru formula seperti
ini yang biasanya mujarab menyentil hati nurani kita. Sepertinya tidak ada satu
pun yang luput dari kritikan, apalagi ketika berbicara soal para petinggi
negeri ini yang duduk di kursi empuk setiap harinya. Dengan menggunakan simbol
`pencopet`, Deddy Mizwar berusaha menyampaikan pesan-pesan moral ke dalam film.
Dialog-dialog yang hadir sepertinya secara halus menyentil mereka (para
pemimpin negeri) yang tidak lagi peduli dengan nasib bangsa ini dan mereka yang
“betah” memperkaya diri sendiri, membuang muka dari kenyataan bahwa negeri ini
sedang menderita. Mungkin juga kritikan tersebut akan mampir mengetuk hati
nurani kita, setidaknya berharap bisa sedikit mengingatkan betapa “lucunya”
tanah air yang kita tinggali dari lahir ini.
Alangkah
Lucunya (Negeri Ini) ditampilkan dengan ringan sehingga mudah mengena kepada
para penontonnya. Dengan dukungan barisan jajaran pemeran yang sangat kuat,
naskah cerita yang tampil sederhana dan tidak berlebihan, serta dukungan teknis
berupa tata suara dan sinematografi yang seringkali mengisi masuk ke dalam
jalan cerita yang disampaikan, Alangkah Lucunya (Negeri Ini) mungkin akan
menjadi suatu fenomena tersendiri di industri film Indonesia dimana film ini
mampu berbicara secara kualitas serta dengan mudah akan disukai para penontonnya.
B. Unsur Intrinsik
1.
Tokoh:
• Muluk: diperankan oleh Reza Rahardian. Adalah seorang sarjana management yang tak kenal putus asa dalam mencari pekerjaan.
• Samsul: sarjana pendidikan yang kerjanya hanya bermain gaple di pos ronda. Diperankan oleh Asrul Dahlan.
• Pipit: putri haji sarbini yang pekerjaannya hanya mengikuti kuis di tv. Karakter ini diperankan oleh Ratu Tika Bravani. Bersama dengan Samsul mengajar para pencopet.
• Pak Makbul : Ayah Muluk yang diperankan oleh sang sutradara sendiri, yakni Dedy Mizwar. Seorang ayah yang taat pada ajaran agamanya.
• Haji Rahmat: Ayah Pipit yang juga bertetangga dengan Muluk.
• Para Pencopet: Komet, Glen, Ribut dll.
. 2. Penokohan
Ø Muluk
:Pantang
menyerah, gigih, baik, pintar, resah
Ø
Pipit
:Pintar, kurang berusaha
Ø Syamsul :Pintar, mudah menyerah
Ø Makbul :Tegas, sensitif
Ø
H.Sarbini :Suka
memandang rendah orang lain, keras kepala
Ø
H.Rahmat :Tenang
Ø
Jarot
:Kasar, sadar akan pendidikan
Ø
Rahma
:Pendiam, solehah
Ø
Jupri
:Besar mulut
2.
Alur
Alur maju. Karena menceritakan secara runtut peristiwa dari awal sampai akhir.
3. Setting/latar
· Tempat: Pasar, Mall, Bis umum,
Gedung usang tempat tinggal copet, rumah
· Waktu : Pagi,
siang, sore, malam
· Suasana:Mengharukan,
memprihatinkan, menyedihkan
AMANAT
Itu hasil pendidikan sul, kalo lo nga berpendidikan, lo nga akan tahu kalau pendidikan itu nga penting, makanya pendidikan itu penting ~ Muluk
C. Unsur
Ekstrinsik
1.Nilai
moral
Keinginan
menurunkan jumlah copet anak
Bertemu
dengan Komet yang kedua kalinya di warung makan, bukannya Muluk yang menawari
membayarkan makan Komet si pencopet justru Komet lah yang menawarkan untuk
membayar
Makan Muluk.
Dialog ini mencerminkan bahwa anak-anak bisa memiliki uang lebih banyak dari
pada orang dewasa yang berpendidikan meskipun pekerjaannya adalah seorang
pencopet pasar. Kemudian dari dialog tersebut, munculah ide dan strategi untuk
mendapatkan pekerjaan dari Komet yakni me-manage uang hasil copet dengan
membudidayakan bagi hasil 10 persen dengan Muluk. Tujuan Muluk selain
mendapatkan pekerjaannya adalah mengubah pekerjaan mereka dari pencopet menjadi
pengasong. Suatu pekerjaan yang menghasilkan uang lebih halal dan memberikan
masadepan kepada anak anak pencopet. Intinya, Muluk ingin memberikan sesuatu
yang berharga untuk masa depan anak anak pencopet dengan mengembangkan
sumberdaya mereka sehingga jumlah pencopet di negeri ini menurun.
Tidak Putus
Asa
Awal film
yang menceritakan tokoh utama, Muluk, dia berusaha mencari pekerjaan dalam
kondisi apapun dengan jalan kaki. Dalam film ini diceritakan bahwa banyak
sarjana pengangguran
yang
kemudian oleh haji Sarbini bahwa pendidikan itu tidak penting, sebab di kampong
tersebut sarjananya pengangguran dan stress.
Meskipun
Muluk mendapat ejekan dari masyarakat, dia tetap mencari kerja dengan gelar
Sarjana Management nya. Pertama, di Perusahaan bangkrut yang sudah menggunakan
segala teknik management tetapi hasilnya adalah bangkrut, kedua penawaran TKI
bukannya ia ditolak tapi malah menolak. Namun, dia tetap berusaha mencari
segala jenis pekerjaan baik lewat Koran maupun membaca buku tentang bisnis
cacing.
“meminta dengan
baik”
Ketika Muluk
bertemu dengan Komet si pencopet pasar, dia menangkap Komet dan menegaskan pada
Komet, mintalah uang dengan cara yang baik, bukan dengan mencopet. Muluk,
Sedang
kesusahan mencari pekerjaan untuk menghasilkan uang, ia merasa betapa sulitnya
di negeri ini mencari nafkah, sedangkan Komet dengan enaknya mencuri dompet
dompet orang. Sangat tidak manusiawi mendapatkan hasil orang lain tanpa
merasakan keringat susahnya mencari uang. Meskipun di akhir perjumpaan Komet
dan Muluk yang pertama ini, Komet berani mengatakan “kan saya copet, Bang.
Bukan pengemis.” Lantas Muluk hanya terdiam.
Pentingnya
pendidikan
Gambar
disamping adalah adegan ketika Samsul sarjana pendidikan menejelaskan betapa
pentingnya pendidikan bagi mereka (read: anak-anak pencopet). Meskipun Samsul
sendiri tidak mengetahui apa esensi dari
Pendidikan
itu sendiri karena dia sebagai Sarjana pendidikan saja sampai sekarang
pengagguran dan tiap harinya pekerjaannya adalah gambling. Bagi Samsul,
pendidikan adalah sesuatu yang tidak penting meskipun dia sudah sarjana karena
sampai sekarang Samsul tetap pengangguran. Bagi Muluk, disitulah pentingnya
pendidikan yang berhasil menyadarkan Samsul bahwa pendidikan itu sesuatu yang
tidak penting. Meskipun Samsul tidak mampu menjelaskan kepada mereka apakah
orang berpendidikan bisa mencopet,
tapi justru
Muluk menjelaskan pada mereka, bahwa dengan pendidikan hidup mereka bisa
berubah. Tanpa pendidikan, mereka mungkin akan tetap menjadi pencopet dengan
penghasilan yang sama setiap harinya. Tapi
orang
berpendidikan tidak akan mencopet, orang berpendidikan akan mencuri dari
brankas, dari bank dan lain sebagainya. Pesan pentingnya pendidikan juga
digambarkan dalam dialog anak-anak pencopet dengan Bang Jarot sebagai pelindung
mereka. “Copet itu paling top masa depannya di penjara tau! Tua, tidor, mampus
dan tetep miskin!” Ucapnya pada anak-anak pencopet. “Kalau koruptor,
korupsi, duitnya tetep banyak, keluar dari penjara duitnya juga tetep banyak!
Kenapa? Karena mereka sekolah! Kaliankan tidak sekolah, kalian Cuma copet! Lu
gak punya harapan!”
Begitulah seorang bos pencopet mennggambarkan
pentingnya pendidikan, paling tidak untuk kejelasan masa depan mereka.
2.Kepercayaan
Nilai
kepercayaan pertama yang ditawarkan oleh Muluk adalah ketika ia menjelaskan
bahwa prinsip bisnis mereka (anak-anak pencopet dengan Muluk) adalah
kepercayaan. Tanpa adanya kepercayaan dari keduanya, mungkin tidak akan
berjalan seperti yang sudah di rancangkan oleh Muluk. Seperti itulah bisnis
berjalan, kepercayaan merupakan kunci keberhasilan dari suatu strategi.
Kemudian, kepercayaan kedua adalah kepercayaan sesama teman yakni kepercayaan
Muluk terhadap Pipit dan Samsul untuk
mengajar
anak-anak pencopet meskipun pekerjaan keduanya sehari hari hanyalah menulis
kupon berhadiah dan main kartu. Nilai kepercayaan tersirat dalam film “Alangkah
Lucunya (negari ini) selain dua
hal tersebut
adalah ketika seorang Muluk, mempercayai Komet seutuhnya untuk menjaga kotak
asongan dan bukan lagi menjadi pencopet melainkan menjadi pengasong untuk masa
depan. Hal terpenting dalam point kepercayaan ini adalah, Muluk sendiri yakin
dan percaya pada mereka, bahwa suatu saat mereka akan berubah. Melakukan
perubahan seperti yang diajarkan oleh Muluk, Pipit dan Samsul.
Selain itu,
anak-anak mengajarkan untuk
saling
percaya dengan rekan kerjanya untuk
melakukan
tugasnya.
3.Kewajiban
orang berpendidikan
Ibarat
sebuah buku, ia hanya diam tak bergerak tapi mampu memberikan banyak ilmu pada
semua orang. Ia mempertanggungjawabkan tugasnya sebagai sebuah buku, memberikan
ilmu. Ketika Muluk cs mengajak anak-anak pencopet untuk mengunjungi pagar DPR,
sebagaimana yang dijelaskan oleh Samsul bahwa inilah tempat yang harus di
hormati, tempat dimana orang-orang berpendidikan duduk, tempat dimana
orang-orang membela rakyat.
Tapi juga
tempat yang disalahgunakan menjadi tempat korupsi. Tempat yang diharapkan oleh
mereka untuk memawa suatu perubahan dalam hidup mereka. Tempat yang mampu
membuat mereka kagum dan berharap.
Cinta
Tanah Air
Pencopet
juga bagian dari negri ini. Meskipun mereka miskin, meskipun mereka tak
berpendidikan, meskipun hidup tanpa orang tua, meskipun hanya seorang pencopet
dan sekali lagi hanya pencopet yang menghancurkan negara,
Mereka
mencintai tanah airnya! Mereka menghormati tanah airnya, buktinya mereka
menyanyikan lagu kebangsaan, dengan menghadap kearah bendera negaranya. Untuk
apa? Untuk menghormatinya. Lalu bagaimana dengan kita yang berpendidikan?
Apakah ekspresi menghormati dan mencintai tanah air kita sama dengan mereka
yang tak berpendidikan dan masih anak-anak?
4.Nilai
sosial
Peduli
masyarakat
Pertama,
kepedulian Muluk pada Komet yang mencopet di pasar, itulah sebabnya ia
mengikuti Komet dan berusaha menegurnya. Kedua, kepedulian terhadap sesame yang
dalam film ini digambarkan pihak pemerintah setempat membagikan sembako gratis
kepada penduduk setempat. Sebagai bukti bahwa rasa sosial terhadap sesama
sangat dibutuhkan bagi orang-orang pinggiran. Kemudian,
kepedulian
Muluk kepada anak-anak pencopet adalah ketika ia memutuskan untuk mengajak
Samsul untuk mengajar mereka. Hatinya tergerak ketika mengetahui tidak ada
satupun diantara mereka yang bisa mencatat. Karena kepeduliannya kepada mereka,
ia mengajak Samsul tanpa adanya pembagian lagi. Secara tersirat, ia menunjukkan
bahwa bukan uanglah tujuan Muluk, karena ia juga memikirkan masa depan
anak-anak pencopet.
Yang
terakhir adalah melihat betapa bahagianya Muluk melihat Komet dan anak buahnya
mengasong di jalanan. Kemudian, ketika Satpol PP datang untuk menangkap mereka,
Muluk
melepaskan
salah satu dari mereka yang sudah tertangkap dan menyerahkan dirinya untuk
ditangkap karena ia lah yang telah menyuruh mereka untuk mengasong. Bagi Muluk,
anak-anak pengasong tak bersalah. Mereka hanya berusaha mencari uang dengan
cara yang halal, bukan mencopet lagi. Ia membiarkan anak-anak pergi sedangkan
ia ditangkap adalah salah satu tindakan kepeduliannya terhadap masa depan
mereka.
Sebagai
orang berpendidikan dan bertanggungjawab, ia harus peduli pada lingkungannya,
pada masyarakatnya, pada negara dimana ia dibesarkan, pada anak-anak
yang
ditelantarkan negaranya. Ia peduli pada semuanya, pada pembentukan moral
anak-anak pencopet, pada masa depan mereka, dan pada negaranya karena meskipun
mereka hanyalah pencopet sekali lagi, mereka juga generasi penerus bangsa yang
seharusnya di pelihara oleh negara “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar
dipelihara oleh negara.” Pasal 34 ayat (1) UUD 1945.
Ini negara
bebaa dan merdeka, mereka bebas melakukan apa saja.
Adegan akhir
ini sedikit menggelitik ketika ia menanyakan kenapa anak-anak harus ditangkap,
kenapa mereka tidak merasa terganggu dengan adanya koruptor dan menangkap
mereka.
Kekeluargaan
Anak-anak
pencopet ini bukanlah berasal dari satu ayah dan satu ibu, melainkan dari
berbagai macam temapt ayah dan ibu. Tetapi mereka tinggal bersama dan hidup
bersama dan bekerjasama. Kelompok pencopet pasar yang dipimpin Komet, anak
buahnya adalah sepenuhnya haknya karena mereka satu tim. Sedangkan kelompoknya
Glenn-pencopet mall- itu haknya Glenn. Namun, ketika ada Bang Jarot, ia sudah
seperti Bapak bagi mereka. Sehingga, meskipun sering bertengkar, mereka selalu
bekerja sama untuk memenuhi kehidupan. Salah satunya adalah karena mereka
saling memiliki sense of belonging.
5.Budaya
Pasar
tradisional
Di awal film
ini menyorot adanya sebuah pasar tradisional yang berisi dukun-dukun dan
peramal-peramal. Ini menunjukkan bahwa masyarakatnya memiliki budaya yang
mempercayai dukun dan peramal
D.
ANALISIS
FILM
Permasalahan sosial yang terkandung
dalam film ini yaitu:
1.
Kemiskinan
Potret kemiskinan dalam film ini
dapat kita lihat dari kehidupan anak jalanan yang tetap miskin meskipun sehari
harinya mendapatkan uang yang jumlahnya cukup banyak, hasil mereka bekerja
sebagai pencopet.
2.
Kriminalitas
Banyaknya orang miskin yang tidak mempunyai
penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, menyebabkan
terjadinya kriminalitas di mana-mana. Dalam film ini para pencopet cilik
diorganisir untuk mencopet di beberapa tempat, yaitu komplotan pencopet yang
menyamar sebagai anak SMP mencopet di Angkutan Umum, komplotan pencopet di
Pasar, dan komplotan pencopet di Mall.
3.
Pengangguran
Sempitnya lapangan pekerjaan di
negeri ini menyebabkan pengangguran yang sangat melimpah. Perbandingan para
pencari kerja dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia tidak seimbang.
Banyak lulusan sarjana yang masih bingung mencari pekerjaan. Dalam film ini
seorang pemuda yang bernama Muluk adalah seorang lulusan S1 jurusan manajemen.
Ia setiap hari mencari-cari pekerjaan. Namun dia tak menemukan lowongan
pekerjaan satupun. Bahkan karena ia tak kunjung bekerja, tetangganya ada yang
menghujatnya. Tetangganya itu berpendapat bahwa pendidikan itu tidak penting,
karena melihat Muluk yang lulusan S1 saja susah mencari pekerjaan.
4.
Pendidikan
yang tidak dapat dijangkau anak jalanan.
Hampir semua anak jalanan tidak
mendapat pendidikan yang layak. Mereka lebih senang mengemis, mencopet atau
melakukan hal-hal lain yang menghasilkan uang daripada bersekolah yang tidak
menghasilkan pundi-pundi sepersenpun.
5.
Tindakan Satpol
PP yang semena-mena
Dalam film ini Satpol PP
menjalankan tugasnya menertibkan atau membersihkan jalan di kota dari pengemis,
pengasong, gelandangan dan sebagainya. Namun faktanya di lapangan para Petugas
Satpol PP kerap menangkap paksa dengan kekerasan terhadap para pengasog dan
pengemis. Padahal pengasong itu sedang mencari rezeki dengan cara yang halal,
daripada ia bekerja sebagai pencopet sebelumnya. Di lain pihak Satpol PP memang
sudah seharusnya bertugas membersihkan jalan kota dari gelandangan dan pengemi
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Ironis
memang ketika kita mendapati salah satu pasal UUD 1954 yaang menyatakan “bahwa
fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” sementara
kenyataan yang terjadi pada negara ini sebenarnya menunjukkan kebalikannya.
Menilik dari sistem komunikasi Indonesia yang ditonjolkan pada film ini
menunjukkan bahwa sampai kapanpun persepsi orang tentang pencopet tidak akan
berubah sekalipun mereka telah mendapatkan pendidikan akademik maupun agama.
Persepsi
seperti inilah yang menyebabkan susahnya masyarakat negeri ini untuk bergerak
maju dan mendapatkan perubahan yang signifikan. Masyarakat Indonesia sudah
terlalu terpaku ada suatu hal yang mereka nilai dari luarnya sehingga terkadang
lupa oleh apa yang sebenarnya terjadi. Perbandingan yang ditonjolkan pada film
ini sebenarnya sangat klasik, koruptor dan pencopet.
Film
yang disutradarai oleh Deddy Mizwar ini bisa dikatakan telah memenuhi standar
perfilman meskipun ada sedikit kekurangan karena “Tak ada gading yang tak
retak”.Film yang bertemakan kehidupan sosial memiliki nilai moral dan
sosial yang tinggi, menjunjung tinggi pendidikan, serta memiliki banyak pesan
yang sebaiknya kita terapkan dalam kehidupan kita.
Dalam
film ini, para pemain telah menguasai teknik melakukan gerakan dengan
baik.Mereka tidak berlebihan dalam berakting (overacting).Mereka hanya melakukan gerakan sewajarnya sehingga
tidak menimbulkan kesan ramai. Dalam film ini para pemain telah melakukan gesture atau gerakan-gerakan kecil yang
bermakna, seperti mengerinyitkan dahi, menggelengkan kepala. Dalam film ini,
pemain juga telah melakukan business
atau aktivitas seorang pemain ketika ia tidak berdialog dan berbuat suatu
kesibukan sehingga suasana menjadi hidup.
Dari
segi teknik penguasaan panggung, Pemain telah menguasai panggung dengan baik,
karena penonton bisa terfokus pada mereka disebabkan mereka telah pandai
memilih posisi dan tidak membelakangi wajahnya terhadap layar kaca. Selain itu,
pemain juga telah melakukan blocking(Pengelompokan
pemain) dengan benar. .Contohnya pada saat perkelahian antara Komet dan
Glenn(Pencopet), Kelompok yang lain telah dapat menempatkan dirinya dengan baik
sehingga mereka tidak menghalangi pandangan penonton terhadap adegan tersebut.
Kemudian
Dalam film ini sebagian besar para pemain telah memiliki vokal yang jelas.
Namun, ada sebagian kata yang kurang tepat pelafalannya seperti kata “Dinas”
dibacanya dengan “Dines” dan kata “Sekali” yang dibaca “Skale”.Tetapi tekanan
yang diberikan pada ucapannya telah bervariasi dan tepat.
B.
SARAN
Adapun saran
yang penulis berikan ialah :
Diharapkan
para pembaca makalah ini dapat lebih mengenal dan mengetahui akan penokohan yang ada dalam makalah ini.
Hendaknya
mengambil hikmah dari isi film ini sebagai salah satu acuan hidup para pemuda Indonesia untuk kehidupan masa depan
kelak.
Hendaknya
dapat meneladani sifat tokoh utama dalam kehidupan.
DAFTAR
PUSTAKA
Suryanto,
Alex., Haryanta, Agus.2007.Panduan
Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia.Tangerang:esis.
www.google .co.id
alangkahlucunyanegriini/fullmovie.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar