TUGAS INDIVIDU
MENGANALISIS UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK FILM
DOSEN: WIENDI WIRANTY, S.Pd
PRODI: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEMESTER 1 (SATU)
KELAS A SORE
OLEH:
o
FAUZY AHMAD HIDAYAT (511200211)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERSATUAN
GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP - PGRI)
PONTIANAK
2012/2013
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pengarang.
Andrea Hirata Seman Said Harun lahir di pulau Belitung 24 Oktober 1982, Andrea Hirata sendiri merupakan anak
keempat dari pasangan Seman Said
Harunayah dan NA Masturah.
Ia dilahirkan di sebuah desa yang termasuk desa miskin dan letaknya yang cukup
terpelosok di pulau Belitong. Tinggal di sebuah desa dengan segala keterbatasan
memang cukup mempengaruhi pribadi Andrea sedari kecil. Ia mengaku lebih banyak
mendapatkan motivasi dari keadaan di sekelilingnya yang banyak memperlihatkan
keperihatinan.
Nama Andrea Hirata sebenarnya bukanlah nama
pemberian dari kedua orang tuanya. Sejak lahir ia diberi nama Aqil Barraq Badruddin. Merasa tak
cocok dengan nama tersebut, Andrea pun menggantinya dengan Wadhud. Akan tetapi,
ia masih merasa terbebani dengan nama itu. Alhasil, ia kembali mengganti
namanya dengan Andrea Hirata Seman Said
Harun sejak ia remaja.
“Andrea diambil dari nama seorang
wanita yang nekat bunuh diri bila penyanyi pujaannya, yakni Elvis Presley tidak
membalas suratnya,” ungkap Andrea.
Sedangkan Hirata sendiri diambil dari nama
kampung dan bukanlah nama orang Jepang seperti anggapan orang sebelumnya. Sejak
remaja itulah, pria asli Belitong ini mulai menyandang nama Andrea Hirata. Andrea tumbuh seperti
halnya anak-anak kampung lainnya. Dengan segala keterbatasan, Andrea tetap
menjadi anak periang yang sesekali berubah menjadi pemikir saat menimba ilmu di
sekolah. Selain itu, ia juga kerap memiliki impian dan mimpi-mimpi di masa
depannya.
Seperti yang
diceritakannya dalam novel Laskar Pelangi, Andrea kecil bersekolah di sebuah
sekolah yang kondisi bangunannya sangat mengenaskan dan hampir rubuh. Sekolah
yang bernama SD Muhamadiyah tersebut diakui Andrea cukuplah memperihatinkan.
Namun karena ketiadaan biaya, ia terpaksa bersekolah di sekolah yang bentuknya
lebih mirip sebagai kandang hewan ternak. Kendati harus menimba ilmu di
bangunan yang tak nyaman, Andrea tetap memiliki motivasi yang cukup besar untuk
belajar. Di sekolah itu pulalah, ia bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang
dijuluki dengan sebutan Laskar Pelangi.
Di SD
Muhamadiyah pula, Andrea bertemu dengan seorang guru yang hingga kini sangat
dihormatinya, yakni NA (Nyi Ayu) Muslimah.
“Saya menulis buku Laskar Pelangi
untuk Bu Muslimah,” ujar Andrea dengan tegas kepada Realita.
Kegigihan Bu
Muslimah untuk mengajar siswa yang hanya berjumlah tak lebih dari 11 orang itu
ternyata sangat berarti besar bagi kehidupan Andrea. Perubahan dalam kehidupan
Andrea, diakuinya tak lain karena motivasi dan hasil didikan Bu Muslimah.
Sebenarnya di Pulau Belitong ada sekolah lain yang dikelola oleh PN Timah.
Namun, Andrea tak berhak untuk bersekolah di sekolah tersebut karena status
ayahnya yang masih menyandang pegawai rendahan. “Novel yang saya tulis
merupakan memoar tentang masa kecil saya, yang membentuk saya hingga menjadi
seperti sekarang,” tutur Andrea yang memberikan royalti novelnya kepada
perpustakaan sebuah sekolah miskin ini.
Tentang
sosok Muslimah, Andrea menganggapnya sebagai seorang yang sangat menginspirasi
hidupnya. “
Perjuangan
kami untuk mempertahankan sekolah yang hampir rubuh sangat berkesan dalam
perjalanan hidup saya,” ujar Andrea.
Berkat Bu
Muslimah, Andrea mendapatkan dorongan yang membuatnya mampu menempuh jarak 30
km dari rumah ke sekolah untuk menimba ilmu. Tak heran, ia sangat mengagumi
sosok Bu Muslimah sebagai salah satu inspirator dalam hidupnya. Menjadi seorang
penulis pun diakui Andrea karena sosok Bu Muslimah. Sejak kelas 3 SD, Andrea
telah membulatkan niat untuk menjadi penulis yang menggambarkan perjuangan Bu
Muslimah sebagai seorang guru. “Kalau saya besar nanti, saya akan menulis
tentang Bu Muslimah,” ungkap penggemar penyanyi Anggun ini. Sejak saat itu,
Andrea tak pernah berhenti mencoret-coret kertas untuk belajar menulis cerita.
Setelah
menyelesaikan pendidikan di kampung halamannya, Andrea lantas memberanikan diri
untuk merantau ke Jakarta selepas lulus SMA. Kala itu, keinginannya untuk
menggapai cita-cita sebagai seorang penulis dan melanjutkan ke bangku kuliah
menjadi dorongan terbesar untuk hijrah ke Jakarta. Saat berada di kapal laut,
Andrea mendapatkan saran dari sang nahkoda untuk tinggal di daerah Ciputat
karena masih belum ramai ketimbang di pusat kota Jakarta. Dengan berbekal saran
tersebut, ia pun menumpang sebuah bus agar sampai di daerah Ciputat. Namun,
supir bus ternyata malah mengantarkan dirinya ke Bogor. Kepalang tanggung,
Andrea lantas memulai kehidupan barunya di kota hujan tersebut.
Beruntung
bagi dirinya, Andrea mampu memperoleh pekerjaan sebagai penyortir surat di
kantor pos Bogor. Atas dasar usaha kerasnya, Andrea berhasil melanjutkan
pendidikannya di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Merasakan bangku
kuliah merupakan salah satu cita-citanya sejak ia berangkat dari
Belitong.
Setelah menamatkan dan memperoleh gelar sarjana, Andrea juga mampu mendapatkan
beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 Economic Theory di Universite de
Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, Inggris.
Berkat
otaknya yang cemerlang, Andrea lulus dengan status cum laude dan mampu meraih
gelar Master Uni Eropa. Sekembalinya ke tanah air, Andrea bekerja di PT Telkom
dan Mulailah ia bekerja sebagai seorang karyawan Telkom. Kini, Andrea masih
aktif sebagai seorang instruktur di perusahaan telekomunikasi tersebut. Selama
bekerja, niatnya menjadi seorang penulis masih terpendam dalam hatinya. Niat
untuk menulis semakin menggelora setelah ia menjadi seorang relawan di Aceh
untuk para korban tsunami. “Waktu itu saya melihat kehancuran akibat tsunami,
termasuk kehancuran sekolah-sekolah di Aceh,” kenang pria yang tak memiliki
latarbelakang sastra ini.
Kondisi
sekolah-sekolah yang telah hancur lebur lantas mengingatkannya terhadap masa
lalu SD Muhamadiyah yang juga hampir rubuh meski bukan karena bencana alam.
Ingatan terhadap sosok Bu Muslimah pun kembali membayangi pikirannya.
Sekembalinya dari Aceh, Andrea pun memantapkan diri untuk menulis tentang
pengalaman masa lalunya di SD Muhamadiyah dan sosok Bu Muslimah. “Saya
mengerjakannya hanya selama tiga minggu,” aku pria yang berulang tahun pada 24
Oktober ini.
Naskah
setebal 700 halaman itu lantas digandakan menjadi 11 buah. Satu kopi naskah
tersebut dikirimkan kepada Bu Muslimah yang kala itu tengah sakit. Sedangkan
sisanya dikirimkan kepada sahabat-sahabatnya dalam Laskar Pelangi. Tak sengaja,
naskah yang berada dalam laptop Andrea dibaca oleh salah satu rekannya yang
kemudian mengirimkan ke penerbit.
Bak
gayung bersambut, penerbit pun tertarik untuk menerbitkan dan menjualnya ke
pasar. Tepatnya pada Desember 2005, buku Laskar Pelangi diluncurkan ke pasar
secara resmi. Dalam waktu singkat, Laskar Pelangi menjadi bahan pembicaraan
para penggemar karya sastra khususnya novel. Dalam waktu seminggu, novel
perdana Andrea tersebut sudah mampu dicetak ulang. Bahkan dalam kurun waktu
setahun setelah peluncuran, Laskar Pelangi mampu terjual sebanyak 200 ribu
sehingga termasuk dalam best seller. Hingga saat ini, Laskar Pelangi mampu
terjual lebih dari satu juta eksemplar.
Penjualan
Laskar Pelangi semakin merangkak naik setelah Andrea muncul dalam salah satu
acara televisi. Bahkan penjualannya mencapai 20 ribu dalam sehari. Sungguh
merupakan suatu prestasi tersendiri bagi Andrea, terlebih lagi ia masih
tergolong baru sebagai seorang penulis novel. Padahal Andrea sendiri mengaku
sangatlah jarang membaca novel sebelum menulis Laskar Pelangi. Sukses dengan
Laskar Pelangi, Andrea kemudian kembali meluncurkan buku kedua, Sang Pemimpi
yang terbit pada Juli 2006 dan dilanjutkan dengan buku ketiganya, Edensor pada
Agustus 2007. Selain meraih kesuksesan dalam tingkat penjualan, Andrea juga
meraih penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award (KLA) pada tahun 2007.
Lebaran di
Belitong. Kini, Andrea sangat disibukkan dengan kegiatannya menulis dan menjadi
pembicara dalam berbagai acara yang menyangkut dunia sastra. Penghasilannya pun
sudah termasuk paling tinggi sebagai seorang penulis. Namun demikian, beberapa
pihak sempat meragukan isi dari novel Laskar Pelangi yang dianggap terlalu
berlebihan. “Ini kan novel, jadi wajar seandainya ada cerita yang sedikit digubah,”
ungkap Andrea yang memiliki impian tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di
dunia yang terletak di pegunungan Himalaya. Kesuksesannya sebagai seorang
penulis tentunya membuat Andrea bangga dan bahagia atas hasil kerja kerasnya
selama ini.
Meski
disibukkan dengan kegiatannya yang cukup menyita waktu, Andrea masih tetap
mampu meluangkan waktu untuk mudik di saat Lebaran lalu. Bahkan bagi Andrea,
mudik ke Belitong di saat Lebaran adalah wajib hukumnya. “Orang tua saya sudah
sepuh, jadi setiap Lebaran saya harus pulang,” ujar Andrea dengan tegas. Di
Belitong, Andrea melakukan rutinitas bersilaturahmi dengan orang tua dan
kerabat lainnya sembari memakan kue rimpak, kue khas Melayu yang selalu hadir
pada saat Lebaran. Kendati perjalanan ke Belitong tidaklah mudah, karena
pilihan transportasi yang terbatas, Andrea tetap saja harus mudik setiap
Lebaran tiba. Terlebih lagi, bila ia tak kebagian tiket pesawat ke Bandara
Tanjung Pandan, Pulau Belitong, maka mau tak mau Andrea harus menempuh 18 jam
perjalanan dengan menggunakan kapal laut.
Perasaan
bangga dan bahagia semakin dirasakan Andrea tatkala Laskar Pelangi diangkat
menjadi film layar lebar oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. “Saya percaya dengan
kemampuan mereka,” ujarnya tegas. Apalagi, film Laskar Pelangi juga sempat
ditonton oleh orang nomor satu di negeri ini, Susilo Bambang Yudhoyono beberapa
waktu lalu. “
Kini Laskar
Pelangi memiliki artikulasi yang lebih luas daripada sebuah buku. Nilai-nilai
dalam Laskar Pelangi menjadi lebih luas,” tutur Andrea
Menjadi seorang
penulis novel terkenal mungkin tak pernah ada dalam pikiran Andrea Hirata sejak
masih kanak-kanak. Berjuang untuk meraih pendidikan tinggi saja, dirasa sulit
kala itu. Namun, seiring dengan perjuangan dan kerja keras tanpa henti, Andrea
mampu meraih sukses sebagai penulis memoar kisah masa kecilnya yang penuh
dengan keperihatinan.
B.
Rumusan Masalah
- Apa
Tema dari film Laskar Pelangi?
- Bagaimana
alur cerita dalam film Laskar Pelangi?
- Apa
latar cerita dari film Laskar Pelangi?
- Siapa
saja Tokoh dan Penokohan dalam film Laskar Pelangi?
- Sudut
Pandang apa yang digunakan dalam film Laskar Pelangi?
- Amanat
apa yang tersurat atau tersirat dalam film Laskar Pelangi?
C.
Tujuan Penulisan
- Untuk
mengetahui Tema dari film Laskar Pelangi.
- Untuk
mengetahui alur cerita dalam film Laskar Pelangi.
- Untuk
mengetahui latar cerita dari film Laskar Pelangi.
- Untuk
mengetahui Tokoh dan Penokohan dalam film Laskar Pelangi.
- Untuk
mengetahui Sudut Pandang yang digunakan dalam film Laskar Pelangi.
- Untuk
mengetahui Amanat yang tersurat atau tersirat dalam film Laskar Pelangi.
D.
Manfaat Penulisan
- Supaya
mengetahui judul dari film Laskar Pelangi.
- Supaya
mengetahui alur cerita dalam film Laskar Pelangi.
- Supaya
mengetahui latar cerita dari film Laskar Pelangi.
- Supaya
mengetahui Tokoh dan Penokohan dalam film Laskar Pelangi.
- Supaya
mengetahui Sudut Pandang yang digunakan dalam film Laskar Pelangi.
- Supaya
mengetahui Amanat yang tersurat atau tersirat dalam film Laskar Pelangi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Unsur Intrinsik
1. Tema
Tema utama dalam film “Laskar Pelangi” ini adalah
pendidikan. Namun uniknya tema pendidikan ini diselingi oleh kisah persahabatan
yang erat antara anggota ‘Laskar Pelangi’. Tema pendidikan ini sendiri
dipadukan dengan tema ekonomi. Namun tema pendidikan lah yang lebih menonjol.
2. Plot (alur)
a. Pengenalan Situasi Cerita
`
Cerita diawali dengan dibukanya penerimaan murid baru di SD Muhammadiyah yang
ada di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur, Sumatera Selatan.
Sebuah daerah yang kaya akan sumber daya alamnya yaitu timah. Belitong
merupakan daerah yang menjadi tempat penambangan timah terbesar dan
menghasilkan banyak sekali keuntungan. Meski pun begitu, kehidupan di sana
seperti terpetak-petak antara yang kaya dan yang miskin.
Pagi itu, satu demi satu calon siswa yang
didampingi oleh orang tuanya berdatangan mendaftarkan diri di sekolah yang
hampir roboh dan mungkin sudah tidak layak untuk dipakai sebagai tempat
belajar-mengajar.
b. Menuju Adanya Konflik
Dalam film “Laskar Pelangi” ini, banyak sekali
bermunculan masalah-masalah atau konflik-konflik. Namun konflik awal yang
pertama muncul adalah saat suasana mulai tegang karena ternyata pendaftar tidak
mencukupi batas minimal siswa yang disyaratkan oleh Depdikbud Sumsel. Apabila calon
siswa yang mendaftar kurang dari sepuluh anak, maka SD Muhammadiyah harus
ditutup.
c. Puncak Konflik
Puncak konfliknya ialah setelah ditunggu hingga siang,
ternyata jumlah pendaftar tidak lebih dari sembilan orang. Jumlah ini tentu
saja belum mencukupi persyaratan Depdikbud. Hal ini tentu saja sangat
mencemaskan Pak Harfan sang kepala sekolah dan Bu Muslimah sang guru. Sampai
pada akhirnya Pak Harfan memutuskan untuk memberikan pidato sekaligus
mengumumkan bahwa penerimaan siswa baru dibatalkan.
Selanjutnya konflik-konflik
lain bermunculan dari masing-masing tokoh. Namun konflik selanjutnya yang
secara garis besar melibatkan hampir semua tokoh ialah saat akan diadakannya
lomba karnaval dan cerdas cermat antar sekolah.
d. Penyelesaian
Sesaat hampir saja Pak Harfan memulai pidatonya untuk
memberitahukan bahwa penerimaan siswa baru di SD Muhammadiyah dibatalkan,
seorang ibu muncul untuk mendaftarkan anaknya (Harun) yang mengidap
keterbelakangan mental. Tentu saja kedatangan Harun dan ibunya ini memberikan
napas lega kepada Pak Harfan, Bu Muslimah dan juga para calon siswa serta orang
tuanya. Harun telah menggenapi jumlah siswa untuk menghindarkan SD Muhammadiyah
dari penutupan.
Sekolah yang jika malam dipakai sebagai kandang ternak
ini akhirnya memulai kegiatan belajar-mengajar meski dengan fasilitas yang
seadanya. Tiba saatnya mengikuti karnaval antar sekolah. Keikutsertaan SD
Muhammadiyah sempat diperdebatkan karena ketidakadaan dana dan sikap pesimistis
yang muncul. Namun, Bu Muslimah bersikeras mengikutkan murid-muridnya. Karena
nilai keseniannya paling tinggi dan dianggap sebagai murid yang kreatif, Mahar
pun ditunjuk sebagai ketua untuk mengurusi persiapan karnaval. Dengan ide
cemerlang dan kreativitasnya, Mahar berhasil menggiring teman-temannya merebut
piala kemenangan.
SD Muhammadiyah kembali mengikuti perlombaan. Kali ini
adalah perlombaan cerdas cermat. Bu Muslimah, Ikal dan kawan-kawan sempat
khawatir karena tak lama perlombaan akan dimulai namun ujung tombak tim mereka
belum juga datang. Untungnya meski hampir terlambat, akhirnya si cerdas itu pun
datang (Lintang). Awalnya tim dari SD Muhammadiyah tertinggal angka melawan SD
PN dan SD Negeri. Namun pada saat memasuki soal yang berbau angka SD
Muhammadiyah mengejar ketertinggalan dan berhasil keluar sebagai juara.
3. Latar Cerita
a. Latar Tempat
Latar tempat yang digunakan dalam film ini adalah di
sebuah sekolah bernama SD Muhammadiyah yang terletak di Desa Gantung, Kabupaten
Gantung, Belitong Timur, Sumatera Selatan. Namun, ada pula yang latarnya adalah
di rumah, pohon, gua, tepi pantai, pasar dan lain-lain tapi masih di kawasan
Belitong.
b. Latar Waktu
Dikarenakan film “Laskar Pelangi” ini merupakan novel
yang menceritakan kisah nyata meski ada bumbu imajinasi, maka latar waktu yang
disampaikan pun jelas yaitu terjadi pada tahun 1974.
c. Latar Suasana
Latar suasana yang ada dalam film ini beragam
dikarenakan konflik-konfik yang muncul juga beragam. Ada kalanya senang, sedih,
hingga cemas. Berikut beberapa penggalan kisah yang menjelaskan suasana dalam
novel :
· Suasana Sedih
Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana
sedih ialah saat Ikal, teman-temannya dan Bu Muslimah berpisah dari Lintang
yang memutuskan berhenti sekolah karena harus mengurusi keluarga yang ditinggal
mati ayahnya.
· Suasana Senang
Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana
senang ialah saat tim cerdas cermat SD Muhammadiyah berhasil memenangkan
pertandingan.
· Suasana Cemas
Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana
cemas ialah saat Pak Harfan, Bu Muslimah dan calon murid SD Muhammadiyah
beserta orang tuanya menunggu untuk menggenapkan calon siswa yang mendaftar
agar sekolah tidak ditutup.
4. Penokohan
Tokoh-tokoh yang berperan dalam film ‘Laskar Pelangi’
antara lain :
a) Ikal
Ikal atau yang di dalam film laskar pelangi berperan
sebagai ‘aku’ merupakan tokoh utama. Ikal adalah salah seorang anggota ‘Laskar
Pelangi’. Di sekolah ia termasuk murid yang lumayan pandai, namun kepandaiannya
masih di bawah dari temannya yaitu Lintang. Ia selalu berada di peringkat kedua
di sekolah setelah Lintang. Ikal termasuk orang yang tidak mudah putus asa,
selalu bersemangat melakukan hal yang ia sukai dan tegar. Ikal begitu menyukai
dunia sastra terutama puisi. Dalam film ini, Ikal diceritakan menyukai seorang
gadis keturunan Tionghoa bernama A Ling. Ia sering sekali mengirimkan puisi
tentang luapan perasaannya kepada A Ling.
b) Taprani
Taprani merupakan sosok yang tampan, rapi,
perfeksionis, lumayan pintar, bicara seperlunya (pendiam), santun, sangat
berbakti kepada orang tua dan manja. Ia bercita-cita menjadi guru di daerah
terpencil untuk memajukan pendidikan orang melayu pedalaman. Taprani selalu
diperhatikan ibunya. Apa pun yang akan dilakukannya harus selalu diketahui
ibunya. Ia sangat tergantung pada ibunya.
c) Sahara
Sahara merupakan satu-satunya murid perempuan yang
bersekolah di SD Muhammadiyah. Tubuhnya ramping dan selalu berjilbab rapi. Di
sekolah ia termasuk murid yang pintar. Meski pun ia adalah sosok yang
perhatian, namun ia termasuk tipe orang yang temperamental, ketus, skeptis,
susah diyakinkan dan tidak mudah terkesan. Sahara Sangat menjujung tinggi nilai
kejujuran. Ia paling tidak suka berbohong. Dalam film itu diceritakan bahwa ia
bertengkar dengan A Kiong yang tidak pernah sependapat atau satu pemikiran
dengannya.
d) A Kiong
A Kiong adalah satu-satunya murid keturunan Tionghoa
yang bersekolah di SD Muhammadiyah. Sifatnya begitu polos dan selalu
mempercayai apa yang dikatakan Mahar. Ia selalu menjadi pendukung sekaligus
pengikut setia Mahar. A Kiong memiliki rasa persahabatan yang tinggi dan suka
menolong. Ia sering kali bertengkar dengan Sahara.
e) Harun
Harun yang sudah mulai memasuki jenjang pendidikan
Sekolah Dasar pada usia lima belas tahun ini mengidap keterbelakangan mental.
Sifatnya santun, pendiam, dan murah senyum. Laki-laki yang memiliki model
rambut seperti Chairil Anwar ini hobi sekali mengunyah permen asam jawa. Ia pun
selalu berpakaian rapi. Di kelas, ia sama sekali tidak bisa menangkap pelajaran
membaca atau pun menulis. Ia pun sering kali bercerita tentang kucing belang
tiganya yang melahirkan tiga anak yang juga bebelang tiga secara
berulang-ulang.
f) Borek
Borek memilki tubuh yang tinggi tinggi dan besar. Ia
sangat terobsesi dengan body building dan tergila-gila dengan citra cowok
macho.
g) Syahdan
Karakter Syahdan tidak begitu menonjol dalam film itu
Ia adalah salah satu anggota ‘Laskar Pelangi’ yang selalu setia menemani Ikal
membeli kapur tulis di took Sinar Harapan milik orang tua A Ling. Syahdan
merupakan saksi cinta pertama Ikal kepada A Ling. Ia memiliki cita-cita sebagai
aktor.
h) Kucai
Kucai adalah salah satu anggota ‘Laskar Pelangi’ yang
diamanahi sebagai ketua kelas. Ia sempat frustrasi ketika menjadi ketua kelas
karena kesulitan dalam mengatur teman-temannya. Meski begitu, laki-laki yang
menderita rabun jauh ini selalu terpilih menjadi ketua kelas dan pada akhirnya
ia menerima keputusan itu. Anak yang banyak bicara dan susah diatur ini
berbakat menjadi seorang politikus.
i) Lintang
Lintang merupakan anak yang paling jenius dan gigih di
antara teman-temannya. Meski pun jarak rumahnya dari sekolah sangat jauh (80
km), ia tetap semangat untuk pergi ke sekolah dan menjadi anak yang paling pagi
datang. Setiap berangkat sekolah, ia harus melalui jalan yang merupakan tempat
buaya tinggal. Ayahnya adalah seorang nelayan miskin yang bertanggung jawab
menafkahi empat belas nyawa yang tinggal di rumahnya. Di sekolah, Lintang
begitu serius belajar dan aktif. Otaknya yang jenius dan cermat membawa tim SD
Muhammadiyah menjadi pemenang dalam lomba cerdas cermat. Lintang sangat suka
membaca dan mempelajari berbagai ilmu penngetahuan. Lintang pun tak segan
membagi ilmunya kepada teman-temannya. Idenya sangat kreatif. Lucunya,
kelihaiannya dalam berpikir tidak dibarengi dengan tulisan tangan yang indah.
j) Mahar
Mahar memiliki bakat dalam bidang seni, baik itu
menyanyi, melukis, seni rupa dan lain sebagainya. Pemikirannya imajinatif dan
kreatif. Anak tampan ini termasuk orang yang menggemari dongeng-dongeng yang
tak masuk akal (mungkin karena ia terlalu imajinatif). Mahar sering kali diejek
dan ditertawakan teman-temannya karena pemikirannya dianggap aneh.
k) Bu Muslimah
Wanita bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari ini
adalah guru di SD Muhammadiyah. Ia sangat gigih dalam mengajar meski pun
gajinya belum dibayar. Ia sangat berdedikasi terhadap dunia pendidikan dan
dengan segenap jiwa mengajar murid-murid di SD Muhammadiyah. Wanita cantik yang
menyukai bunga ini memiliki pendirian yang progresif dan terbuka terhadap
ide-ide baru. Ia termasuk orang yang sabar dan baik hati.
l) Pak
Harfan
Pria bernama lengkap K.A Harfan Efendy Noor ini
menjabat sebagai kepala SD Muhammadiyah. Bersama Bu Muslimah, ia tetap mempertahankan
sekolah yang hampir ditutup karena kekurangan siswa. Pak Harfan juga memiliki
dedikasi tinggi terhadap pendidikan.
m) A Ling
Gadis keturunan Tiongoa ini merupakan cinta pertama
Ikal. Ia memiliki tubuh yang ramping dan tinggi. Anak dari pemilik toko Sinar
Harapan ini ternyata juga menyukai Ikal. Namun sayangnya ia pindah ke Jakarta.
n) Flo
Ia merupakan murid pindahan dari sekolah PN. Gadis
tomboi yang berasal dari keluarga kaya ini merupakan tokoh terakhir yang muncul
sebagai anggota ‘Laskar Pelangi’.
5. Sudut Pandang yang
Digunakan
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah
sudut pandang orang pertama pelaku utama karena dalam penceritaan novel penulis
menggunakan kata ‘aku’. Tokoh ‘aku’ dalam novel itu diceritakan paling dominan
sehingga si tokoh ‘aku’ dapat dikatakan sebagai tokoh atau pelaku utama.
6. Amanat
Banyak sekali amanat yang terkandung dalam film “Laskar
Pelangi” ini. Diantaranya adalah :
·
Jangan mudah
menyerah oleh keadaan (jangan putus asa)
Keadaan boleh saja serba kekurangan, namun kekurangan
janganlah menjadi alasan untuk tidak berusaha. Justru jadikanlah kekurangan itu
sebagai motivasi untuk bisa menutupinya. Dalam film ini diceritakan tentang
kehidupan pendidikan yang keadaannya serba minim. Namun, tokoh-tokoh di
dalamnya tidak menyerah dengan keadaan seperti itu. Mereka tetap bersemangat
mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kemiskinan bukan alasan untuk tidak
belajar.
·
Jauhi sifat
pesimis
Saat menengadahkan perasaan kepada orang-orang yang
ada di atas kita, bukan berarti kita harus merasa kecil dan lemah di hadapan
mereka. Kita ada di bawah, bukan berarti kita tidak bisa seperti orang yang ada
di atas. Menengadahkan perasaan ke atas mestinya dijadikan cambuk semangat
untuk bisa seperti orang itu atau bahkan bisa lebih baik lagi. Contonya pada
film ini yang menceritakan sebuah sekolah kampung (SD Muhammadiyah) biasa yang
selalu optimis untuk bisa lebih baik dari sekolah yang dari awal memang sudah
baik (SD PN).
·
Sebagai guru
haruslah dengan ikhlas mengajar dan berdedikasi tinggi terhadap pendidikan.
Dalam film ini diceritakan seorang guru yang begitu
tinggi dedikasinya terhadap pendidikan. Guru diibaratkan kompas yang
menunjukkan kemana murid-muridnya akan pergi. Bu Muslimah merupakan sosok yang
menjadi guru teladan yang dengan segenap kemampuannya berjuang untuk memajukan
pendidikan di sebuah kampug kecil.
B. Unsur
Ekstrinsik
Selain unsur intrinsik, dalam film “Laskar Pelangi” ini amat kental dengan
pengaruh unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik yang ada dalam film “laskar
pelangi” tidak lepas dari latar belakang kehidupan pengarang entah itu dari
segi budaya yang dipegang, kepercayaan, lingkungan tempat tinggal dan lain
sebagainya. Ada pun beberapa unsur ekstrinsik yang dibahas antara lain :
1. Latar Belakang Tempat
Tinggal
Lingkungan tempat tinggal pengarang mempengaruhi
psikologi penulisan novel. Apalagi novel “Laskar Pelangi” merupakan adaptasi
dari cerita nyata yang dialami oleh pengarang langsung. Letak tempat tinggal
pengarang yang jauh berada di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur,
Sumatera Selatan ternyata benar-benar dijadikannya latar tempat bagi penulisan
novelnya.
2. Latar Belakang Sosial
dan Budaya
Pada novel ini banyak sekali unsur-unsur sosial dan
budaya masyarakat yang bertempat tinggal di Belitong. Adanya perbedaan status
antara komunitas buruh tambang dan komunitas pengusaha yang dibatasi oleh
tembok tinggi merupakan latar belakang sosial. Dimana interaksi antara kedua
komunitas ini memang ada dan saling ketergantungan. Komunitas buruh tambang memerlukan
uang untuk melanjutkan kehidupan, sedang komunitas pengusaha memerlukan tenaga
para buruh tambang untuk menjalankan usaha mereka.
3. Latar Belakang Religi
(agama)
Latar belakang religi atau agama si pengarang sangat
terlihat seperti pantulan cermin dalam film “Laskar Pelangi” ini. Nuansa
keislamannya begitu kental. Dalam beberapa penggalan cerita, pengarang sering
kali menyelipkan pelajaran-pelajaran mengenai keislaman.
4. Latar Belakang
Ekonomi
Sebagian masyarakat Belitong mengabdikan dirinya pada
perusahaan-perusahaan timah. Digambarkan dalam cerita bahwa Belitong adalah
pulau yang kaya akan sumber daya alam. Namun tidak semua masyarakat Belitong
bisa menikmati hasil bumi itu. PN memonopoli hasil produksi, sementara
masyarakat termarginalkan di tanah mereka sendiri. Latar belakang ekonomi dalam
cerita ini diambil dari kacamata masyarakat belitong kebanyakan yang tingkat
ekonominya masih rendah. Padahal sumber daya alamnya tinggi.
5. Latar Belakang
Pendidikan
Dalam novel ini terkandung banyak sekali nilai-nilai
edukasi yang disampaikan pengarang. Pengarang tidak hanya bercerita, tapi juga
menyajikan berbagai ilmu pengetahuan yang diselipkan di antara ceritanya.
Begitu banyak cabang ilmu pengetahuan yang diselipkan antara lain seperti sains
(fisika, kimia, biologi, astronomi). Pengarang gemar sekali memasukkan
istilah-istilah asing ilmu pengetahuan yang tertuang dalam cerita. Ini
menandakan bahwa pengarangnya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.
BAB III
ANALISIS
A.
Sinopsis
Sebuah
adaptasi sinema dari film fenomenal LASKAR PELANGI karya AndreaHirata. Hari
pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat
menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan
(Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di
desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar,
sekolah akan ditutup.
Hari itu, Harun, seorang murid istimewa
menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh
Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.
5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolahmereka.
5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolahmereka.
Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan
sekolah, mereka kehilangan sosok yang mereka cintai. Sanggupkah mereka bertahan
menghadapi cobaan demi cobaan?
Film ini dipenuhi kisah tentang tantangan kalangan pinggiran, dan kisah penuh haru tentang perjuangan hidup menggapai mimpi, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.
Film ini dipenuhi kisah tentang tantangan kalangan pinggiran, dan kisah penuh haru tentang perjuangan hidup menggapai mimpi, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.
B.
Ringkasan Cerita
Sebuah adaptasi sinema dari film fenomenal “Laskar
Pelangi” karya Andrea Hirata, yang mengambil setting di akhir tahun 70-an. Hari
pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat
menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan
(Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di
desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar,
sekolah akan ditutup.
Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan
mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah,
menjalin kisah yang tak terlupakan.
5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid
dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa
sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal
(Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan
kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.
Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah,
mereka kembali harus menghadapi tantangan yang besar. Sanggupkah mereka
bertahan menghadapi cobaan demi cobaan?
Film ini dipenuhi kisah tentang kalangan pinggiran,
dan kisah perjuangan hidup menggapai mimpi yang mengharukan, serta keindahan
persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah
pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.
B. Analisa
Film
Laskar Pelangi adalah bagian pertama dari tetralogi
karangan Andrea Hirata yang menulis film ini berdasarkan pengalaman hidupnya.
Walau sebuah autobiografi, penggunaan nama fiksional menandakan bagian dari
serian ini adalah fiksi. Gw sendiri belom baca bukunya. Kemaren abis nonton mau
beli, ternyata harus 69rb. Udah gitu tebel. Akhirnya tadi gw download aja.
Cuman ~700kb. Tapi males bacanya. Gw lagi baca Michelangelo & plafon sang
Paus.
Anyway, Kisah ini mengikuti 10 anak yang sekolah di
sebuah SD gubuk, di Belitong, dimana sebuah perusahaan tambang timah bermerk
Timah menimbang timah & yang kerja disono ceritanya dapet sekolah di SD PN
Timah. Walau klaim sang narrator bahwa kekayaan alam Belitong dirampas
perusahaan tersebut, dan rakyat disitu tidak mendapat menikmati hasilnya, SD PN
timah menggunakan meja2 baru dipoles dengan pensil yang selalu baru diserut
dengan kontras gubuknya SD Muhammadiyah. Kontras ini dipertajam dengan SD Timah
selalu memakai seragam yang baru dijahit dan memakai batik hari Senin, dan
murid2 SD Muhammadiyah, dipakaikan baju satu2nya.
Menariknya, film ini tidak ditulis dengan bahasa baku
selayaknya film indonesia biasa, namun masih disuntik peribahasa indonesia baku
untuk accesibility.
Seperti lainnya film seperti ini, 10 anak ini memiliki
keteguhan hati baja untuk bersekolah, dimana gurunya, walau ditekan oleh
departemen pendidikan untuk menutup sekolah tersebut, karena tidak ada angkatan
lain selain angkatan 10 anak ini, terus tegar mengajar sampe kepala sekolahnya
mati di kantor, meninggalkan guru cenya sendirian ngajar 10 anak, yang lalu
putus asa, namun anak2 ini tetap tegar untuk terus belajar sendiri. Namun
sayang sekali, walau kisah ini sebenarnya adalah kisah tentang Lintang & … siapa
tuh nama anak pemeran utamanya? Penuturan cerita ini sangatlah vague tentang
kisah siapa ini yang diceritakan, dengan 1/20 bagian pertamanya menceritakan
tentang… siapa tuh nama pemeran utamanya, yang balik kampung, 1/3 kemudian
menceritakan tentang 2 guru teladan seideal film jaman orde baru, 1/3 kemudian
tentang … apapula lah termasuk cinta yang cintanya ga kerasa & kerasa
konyol (audience ketawa, nggak bisa disangkal), dan 1/3 terakhir menekankan
bahwa mereka harus belajar lebih tekun untuk sesuatu yang harus mereka
menangkan, yang ternyata cuma lomba cerdas cermat, yang terancam gagal karena
seekor buaya ngehalangin jalan anak yang paling pinter.
Idealisme warisan jaman orde baru seperti ini
sayangnya meracuni film dari dunia “yang sempurna” ini, dan dengan clichenya
anak yang paling pinter pun bapaknya tewas melaut supaya dia bisa putus sekolah
& menafkahi adik2nya.
Waktu pertama melihat film ini, saya merasa film ini
sepertinya dibuat oleh orang lulusan sekolah seni. (dan ternyata iya, Riri Riza
lulusan IKJ) Dimana ada adegan si tokoh utama jatuh cinta ketika melihat tangan
ce Chinese yang terang benderang lengkap dengan lens flare dan bunga2
berjatuhan. Juga betapa hancur dunianya ketika dia mendapati ce tersebut pindah
ke Jakarta dengan berjatuhannya benda2 di sekitarnya.
Kontrasnya aktor berpengalaman yang bermain di film
ini membuat aktor2 amatir di film ini menonjol seperti jempol yang merah. Entah
apa ini kurang arahan dari sutradara, atau bagian kasting, tapi sebagian anak
di film ini tampaknya mereka cuma senang aja bisa muncul di layar lebar, dan
kurang mengerti peran mereka.
Sinema Indonesia masih harus banyak belajar dari
Sinema asing tentang struktur cerita, sinematografi dan simbolisme.
Seperti yang diangkat Mbah Fauzie, warna film ini sangat
belel. Laiknya warna film Dono/Kasino/Indro di tahun 80an. Saya tahu Indonesia
bisa membuat film dengan warna yang baik dan lebih konstan antara adegan,
seperti film Jalangkung dulu yang ditransfer ke DVD pun warnanya masih baik.
Namun, akhirnya ada film indonesia yang bukan tentang
cerita cinta ataupun sesetanan. Walau katanya film denias mengangkat topik yang
sama, sepertinya kisahnya nggak sebesar ini.
Inti dari film ini adalah harapan untuk anak Indonesia
yang paling terpuruk. Kalau anak yang sekolah di SD bobrok di pedalaman bisa
sekolah di Paris, tentu saja siapapun bisa menggapai impian mereka. Sayang
sekali dalam produksi film ini, tidak tertekankan impian si anak ini untuk
menuju ke Paris, walau telah di hint hint dengan kaleng dengan gambar menara
eiffel, dan pencapaian “Impian” ini jatuh secara tiba2 ketika, siapa tuh
namanya pemeran utamanya, kembali ke Belitong untuk memberitahu temannya yang
putus sekolah, bahwa dia telah mendapat beasiswa ke Paris, Sorbonne.
Ini adalah jenis film yang diperlukan masyarakat
indonesia, namun bukan film dengan kualitas produksi yang patut mereka
dapatkan. Terutama mereka yang tidak mampu membayar 15-20 ribu untuk menonton
di studio berAC.
Demikian resensi ini ditulis tanpa pengetahuan tentang
kisah dari buku aslinya, namun ditulis secara kritis hanya berdasarkan filmnya.
Lirik Lagu Laskar Pelangi OST. Laskar Pelangi – Nidji
mungkin adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
telah hilang
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya
laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa
menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
selamanya…
cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau ini kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita
laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi
menarilah dan terus tertawa
walau dunia takseindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
selamanya…
Persiapan Pembuatan Film
Laskar Pelangi Siap di Layar Lebar Kolaborasi Peran 12
Anak Belitong Asli dengan 12 Aktor Profesional Indonesia
Setelah sukses menjadi novel best seller dengan
penjualan lebih dari 500.000 eksemplar, kini Laskar Pelangi siap diangkat ke
layar lebar dan akan memasuki tahap syuting pada tanggal 25 Mei 2008. Film ini
diproduksi oleh Miles Films bekerjasama dengan Mizan Cinema Productions, ”B”
Edutainment dan Iluni UI.
Laskar Pelangi adalah sebuah kisah anak bangsa yang
menggambarkan perjuangan guru dan 10 siswa di Belitong untuk sebuah pendidikan.
Ide pembuatan film ini berawal dari rasa kagum Mira Lesmana dan Riri Riza
selaku Produser dan Sutradara film ini terhadap buku karya Andrea Hirata yang
diterbitkan pertama kali pada tahun 2004. “Buku Laskar Pelangi sanggup membuat
kita tiba-tiba merasa bangga jadi orang Indonesia dan memompa semangat serta
optimisme kebangsaan, dengan hadirnya karakter anak-anak Laskar Pelangi, Ibu
Muslimah dan Bapak Harfan,” ucap Mira Lesmana selaku Produser film ini.
Selaku sutradara film Laskar Pelangi, Riri Riza
mengungkapkan: “Laskar Pelangi memiliki cerita yang unik dan penuh dinamika
dengan hadirnya 10 siswa dengan kararkter yang sangat kuat dan seorang guru
ambisius yang mempunyai cita-cita besar dan luhur. Dan Andrea Hirata adalah
faktor yang sangat penting kenapa kami ingin memfilmkan buku Laskar Pelangi
ini. Saat pertama kali ketemu dengan Andrea, ada antusiasme yang terlihat di
dirinya. Bertemu Andrea Hirata seperti melihat matahari yang bersinar keras
sekali dan sangat inspiring.”
Bagi sang penulis, Andrea Hirata, bukan hal yang mudah
untuk mengijinkan karya sastra pertamanya ini untuk difilmkan. Jelas Andrea
mempunyai alasan khusus kenapa ia mempercayakan penggarapan film Laskar Pelangi
ini kepada Mira Lesmana dan Riri Riza. “Ada beberapa alasan kenapa saya rela
menyerahkan cerita Laskar Pelangi ini kepada Mira Lesmana dan Riri Riza.
Pertama, Mira dan Riri adalah sineas yang memiliki integritas, yang tidak
semata melihat keinginan pasar dalam membuat karyanya. Kedua, Mira dan Riri
mempunyai talent yang langka dalam membuat sebuah karya seni. Mereka bisa
membuat film box office, tapi tetap bermutu. Dan setelah lama bergaul dengan
mereka, saya semakin yakin kalau kedua sineas ini mempunyai indra keenam dalam
membuat sebuah karya dan mempunyai perspektif yang unik,” ungkap Andrea.
Sementara menurut Putut Widjanarko, Vice President
Operation Mizan Publika, dengan terjunnya Mizan dalam produksi film ini
merupakan konsekuensi logis dari strategi pengembangan Mizan ke depan. “Mizan
Prouductions sangat bangga bekerjasama dengan Miles Films menghadirkan film
yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh masyarakat Indonesia ini. Apalagi buku
best seller Laskar Pelangi adalah terbitan salah satu penerbit dalam kelompok
Mizan, yaitu penerbit Bentang Pustaka.”
Setelah melewati proses pertemuan dan diskusi dengan
sang penulis selama satu tahun, akhirnya Juli – Desember 2007, proses penulisan
skenario yang ditulis oleh Salman Aristo, dibantu oleh Riri Riza dan Mira
Lesmana pun dimulai. Dan persiapan produksi pun sudah dilakukan sejak Juli 2007
lalu dengan melakukan proses penulisan skenario, survey lokasi, serta casting
para pemain Laskar Pelangi. “Dalam proses pembuatan film ini hampir 100%
pengambilan gambar dan syuting dilakukan di Belitong. Dan satu hal yang cukup
istimewa di film ini, 12 orang pemain, 10 Laskar Pelangi dengan dua karakter
pelengkap yang memerankan Flo dan A Ling, semuanya asli dari Belitong,” cerita
Mira, antusias.
Adapun keinginan Rira dan Mira untuk menampilkan
anak-anak asli Belitong agar chemistry antara cerita dan para pemain muncul
secara real dan natural. “Sejak awal kami memang tidak terpikirkan untuk
menggunakan pemain di luar kota Belitong untuk tokoh-tokoh anak Laskar Pelangi.
Jadi proses hunting dan casting pemain pun sudah kami lakukan sejak awal
persiapan produksi,” ujar Riri. “Meskipun anak-anak ini belum berpengalaman dan
awam dengan dunia akting, tapi mereka ini adalah anak-anak yang sangat
berbakat, punya keberanian, mau mencoba, dan yang terpenting, mereka bisa
mempresentasikan tokoh-tokoh utama di film ini,” lanjut Mira.
Setelah menjalani proses hunting dan casting di
Belitong, akhirnya terpilih juga 12 orang pelajar Belitong yang akan memerankan
karakter Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Borek, Kucai, A Kiong, Sahara, Trapani,
Harun, Flo, dan A Ling.
Meski begitu, bukan berarti Mira luput menampilkan
para pemain profesional. 12 nama aktor profesional pun turut tampil meramaikan
film ini, seperti Cut Mini, Ikranegara, Lukman Sardi, Ario Bayu, Tora Sudiro,
Slamet Raharjo, Alex Komang, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, Robbie
Tumewu, JaJang C. Noer, dan Teuku Rifnu Wikana
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari film yang di buat oleh Andre Hirata ini, saya
dapat mengambil beberapa pelajaran hidup yang penting, salah satunya kita harus
benar-benar menghargai hidup, menghargai semua pemberian Tuhan, tidak pantang menyerah bila menginginkan
sesuatu, dan tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita mau dan berusaha. Dan
satu lagi, pintar tidak menjamin kita untuk selalu sukses, seperti cerita pada
tokoh lintang, dia anak yang pintar, namun diakhir cerita dia menjadi seorang
supir truk, disini saya dapat mengambil kesimpulan, bahwa semua kehidupan
manusia sudah ada yang mengaturnya, yaitu Tuhan. Semua yang kita kerjakan tidak
lepas dari campur tangan Tuhan.
B.
Saran
Beberapa saran dari saya, penggunaan nama-nama ilmiah dikurangi,
agar para penonton nyaman dalam dan memahami maknanya serta menyebutkan tahun
di tiap-tiap peristiwa yang terjadi agar tidak membuat pembaca bingung dengan
alurnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar