web stats

Senin, 03 Februari 2014

PIDATO SASTRAWAN KURANG MENDAPAT APRESIASI


Nama:Fauzy Ahmad Hidayat, NIM:511 200 211 (2013/2014)

SASTRAWAN KURANG MENDAPAT APRESIASI
Asalamualaikum wr wb, selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua, yang terhormat ibu Netti Yuniarti,M.Pd selaku dosen pengampu Mata Kuliah Retorika beserta teman-teman yang saya banggakan, terimakasih sebelumnya telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pidato saya yang bertemakan Sastrawan kurang mendapatkan apresiasi.
Berbicara tentang Sastrawan, Sastrawan yaitu sebutan untuk orang yang ahli dalam menulis seni bahasa yang mengandung nilai-nilai kebaikan dengan bahasa yang indah dan memiliki makna yang dalam berdasarkan pengalaman jiwa manusia serta disusun dengan bahasa yang indah sehingga mencapai nilai estetika yang tinggi.
Sastrawan di Indonesia ini kebanyakan kurang mendapatkan apresiasi dari pemerintah, pemerintah sangat kurang memperhatikan terhadap hasil-hasil yang dibuat oleh sastrawan baik itu berupa Novel,puisi,cerpen dan lain sebagainya yang berkaitan dengan sastra, kebanyakan yang diperhatikan oleh mereka itu dari sektor pariwisata,hasil bumi,dan perkebunan-perkebunan yang lebih menguntungkan dari sisi perekonomian daripada memperhatikan nilai-nilai sastra yang lebih menyentuh kehidupan manusia.
              Lain halnya dengan Negara lain, Sastra bagi negara komunis China sudah mendapat apresiasi lebih dari pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan sastrawan mereka Mo Yan, dan orang China kedua yang terpilih menjadi penerima Penghargaan Nobel Kesusasteraan dikancah internasional pada tahun 2012 ini dengan karya-karyanya yang mengubah persepsi orang mengenai realitas kehidupan.
              Jika kita perhatikan saat ini Banyak sastrawan kita yang kurang diapresiasi oleh pemerintah.Hal ini perlu diperhatikan lagi oleh pemerintah, karena bisa memicu turunnya peringkat Indonesia khususnya di bidang sastra, padahal sastra merupakan sesuatu yang sangat penting dalam sebuah Negara.
                            Sastra bukan hanya memberikan bacaan wacana semata namun sastra juga memberikan ruh jiwa Bangsa ini sebab satra tidak pernah mengajarkan pada bangsa sesuatu yang kotor, justru sastra selalu memberikan suara kepribadian bangsa yang luhur, budaya luhur dan cinta Tanah Air.
              Demikianlah pidato dari saya, apabila saya dalam menyapaikan pidato ada kekurangan itu berasal dari diri saya pribadi, kesempurnaan itu karna allah ta’ala. Saya akhiri asalamualaikum wr wb.



Sastrawan kurang mendapatkan apresiasi.

ARTIKEL MODEL PEMBELAJARAN KURIKULUM (2013) PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)


MODEL PEMBELAJARAN KURIKULUM (2013) PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP-PGRI PONTIANAK
2013/2014
FAUZY AHMAD HIDAYAT
(511200211)
(Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Pontianak)
ABSTRACT
Curriculum 2013 has been implemented in schools and madrasah. Any changes to the curriculum would bring its own characteristics. Similarly, the learning model is applied to the new curriculum. At this writing scientific papers presented two issues, namely what model of learning and how the learning model curriculum implementation in 2013. learning model is able dedefinisikan learning model as a conceptual framework that depicts the procedure of organizing systematic learning experience to achieve a particular goal belejar, and serves as a guide for instructional designers and teachers in planning and implementing learning activities. There are three models of learning are applied to the curriculum in 2013, namely the Discovery Learning model of learning, problem-based learning model and project-based learning model. Discovbery learning learning model of learning that took her a few steps: preparation, execution, and assessment. While the core activity is the implementation of learning learning model of discovery learning stimulation / arousal, statement / problem identification, data collection, data processing, verification / evidence and draw conclusions / generalizations. Problem-based learning is a teaching method that uses a real problem, the process by which students learn, both memory and critical thinking skills, problem-based learning is a teaching method with a focus on solving the real problem, group work, feedback, discussion, and a final report. The project is a learning model that uses a learning model of project / activity as a medium. The teacher assigns students to undertake exploration, assessment, interpretation, synthesis, and information to produce various forms of learning outcomes. The learning model is a very important thing to be considered by implementers of learning. Teachers are the spearhead of implementing the learning in the classroom. Success or failure is entirely in the hands of the learning teacher.
Keywords: Curriculum, Model, and Learning
1.      Latar Belakang.
Kurikulum 2013 sudah mulai diterapkan pada sekolah maupun madarasah. Setiap perubahan kurikulum tentu membawa karakteristik tersendiri. Demikian juga pada model pembelajaran yang diterapkan pada kurikulum baru tersebut. Guru mengenal beberapa model pembelajaran yang telah terbiasa mereka terapkan pada proses pembelajaran. Namun pada kurikulum baru ini, model pembelajaran yang diterapkan berbeda dengan model pembelajaran pada kurikulum sebelumnya.
Guru sebagai pelaksana utama pembelajaran harus memahami dan menguasai penerapan model pembelajaran, melakukan perubahan dan melakukan pengembangan keterampilan mengajar.
Guru perlu memperhatikan model pembelajaran karena model pembelajaran merupakan kunci terlaksananya proses pembelajaran di kelas.Ada hal penting dimana guru belum membedakan antara pendekatan, metode, model dan strategi pembelajaran. Hal tersebut memang masing-masing berbeda.Hal yang penting bahwa perbedaan itu tidak perlu untuk diperdebatkan walaupun memang kenyataannya masing-masing berbeda. Tujuan penerapan model pembelajaran pada kurikulum 2013 adalah agar proses pembelajaran lebih berbobot, lebih bermakna.Saatnya Guru meninggalkan pembelajaran tradisional dan menerapkan model pembelajaran yang baik sehingga suasana kelas menjadi hidup.
Siswa sebagai komponen yang diberi perlakuan, mampu untuk melakukan aktifitas belajar dengan senang, riang dan gembira tanpa meninggalkan arti keseriusan pembelajaran. Siswa mengikuti pembelajaran tanpa tekanan dan juga tanpa paksaan. Pembelajaran menjadi lebih menarik bagi siswa khususnya dan bagi sekolah pada umumnya sehingga tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dari setiap kompetensi dasar bisa tercapai dan siswa mampu melakukan belajar tuntas.
2.      Rumusan Masalah.
Rumusan masalah yang dikemukakan penulis dalam penulisan artikel ini adalah sebagai berikut:
a.       Apa model pembelajaran?
b.      Bagaimanakah penerapan model-model pembelajaran pada kurikulum 2013?
3.      Model Pembelajaran.
Pemembelajaran adalah sebuah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa. Dalam pembelajaran ada model pembelajaran. Istilah model pembelajaran sangat dekat dengan pengertian stategi pembelajaran. Meskipun demikian, pengertian model pembelajaran ini dibedakan dari pengertian strategi, pendekatan dan metode pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada suatu strategi, metode, dan teknik. Secara sederhana, pendekatan pembelajaran lebih melihat pembelajaran sebagai proses belajar siswa yang sedang berkembang untuk mencapai perkembangannya. Metode lebih berfokus pada prose belajar mengajar untuk bahan ajar dan tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan model pembelajaran lebih melihat pembelajaran sebagai suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa.
Model pembelajaran dapat dedefinisik
an sebagai sebuah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belejar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Dengan demikian aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis. Pemilihan model pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan karakteristik setiap kompetensi dasar yang disajikan. Tidak semua model pembelajarn cocok untuk setiap kompetensi dasar. Guru perlu memilih dan menentukan mosdel pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa.
4.      Model Pembelajaran Discovery Learning.
Discovery learning adalah salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dan diterapkan dalam pelaksaan pembelajaran kurikulum 2013. Guru sebagai pelasana utama pembelajaran tentu berkewajiban untuk memahami dan menerapkan model pembelajaran ini. Model pembelajaran discovbery learning menggamit beberapa langkah pembelajaran yaitu: persiapan, pelaksanaan, dan penilaian. Sedangkan pada kegiatan inti yaitu pelaksanaan pembelajaran model pembelajaran discovery learning menggamit pemberianstimulasi/ rangsangan, pernyataan/identifikasi
masalah, pengumpulan data, pengolahan data,verifikasi /pembuktian dan menarik kesimpulan /generalisasi.
Tahap pertama pembelajaran model discovery learning adalah persiapan. Kegiatan persiapan ini menggamit kegiatan-kegiatan sebagai berikut: pertama, menentukan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran harus dirumuskan terlebih dulu sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Kedua, melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya  belajar, dan sebagainya). Setiap anak mempunyai keunikan tersendiri. Dalam hal ini guru harus memperlakukan siswa secara klasikal dan secara individu. Ketiga adalah memilih materi pelajaran. Materi pelajaran harus disesuaikan dengan kompetensi dasar dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Keempat adalah menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi). Kelima adalah mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa baik secara individu maupun secara kelompok. Keenam adalah mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang  kongkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan tingkat kesulitan materi. dan ketujuh adalah melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa seusia dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan
Tahap pertama pelaksanaan pembelajaran pada model discovery learning adalah. stimulasi/pemberian rangsangan. Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan keingintahuan sehingga merangsang siswa untuk ingin tahu lebih lanjut tentang apa yang akan dipelajari. Guru tidak memberi siswa generalisai agar siswa mempunyai keinginan untuk mau menyelidiki sendiri baik individu maupoun kelompok. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.
Tahap kedua pelaksanaan pembelajaran pada model discovery learning adalah pernyataan/ identifikasi masalah. Pada kegiatan ini siswa mempunyai tugas untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mucul untuk dipecahkan. Selanjutnya siswa memilih satu atau lebih permasalahan yang telah diidentifikasi untuk dibuat rumusan hipotesis jawaban sementara atas pertanyaan masalah. Pada identifikasi ini para siswa telah dilatih membuat hipotesis baik hipotesis nol maupun hipotesis satu. Pendekatan ilmiah sangat diterapkan pada kegiatan ini sehingga siswa akan belajar mandiri sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan
    Tahap ketiga pelaksanaan pembelajaran pada model discovery learning adalah data pengumpulan data. Pada kegiatan ini siswa melakukan eksplorasi dan mengumpulkan data-data yang dapat dijumpai. Setelah informasi dapat dikumpulkan, siswa dapat membuktikan kebenaran pada hipotesis yang telah dibuat. Guru memberi kesepatan kepada siswa  untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
Tahap keempat pelaksanaan pembelajaran pada model discovery learning adalah pengolahan data. Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan lainnya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Guru melatih dan membimbing siswa untuk berlatih menata data sehingga data yang diperoleh merupakan data yang valid dan reliable. 
Tahap kelima pelaksanaan pembelajaran pada model discovery learning adalah verifikasi (pembuktian).  Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing. Verifikasi bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari merupakan obyek yang dipelajarai dan merupakan dokumen yang penting bagi siswa dalam menghubungkan kehidupan nyata dengan teori yang dipelajarai dikelas.
Tahap keenam pelaksanaan pembelajaran pada model discovery learning adalah menarik kesimpulan/generalisasi. Kegiatan generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka  dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setiap siswa/kelompok siswa akan menghasilkan kesimpulan yang mungkin sama atau sebaliknya. Guru perlu melakukan konfirmasi sehingga perbedaan pendapat dari kelas bisa disatukan dan pemahaman siswa bisa dipadukan.  
Sistem penilaian pada model pembelajaran discovery learning dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes.  Penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif, maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis.  Jika bentuk penilaiannya  menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa maka pelaksanaan penilaian  dapat dilakukan dengan pengamatan
5.      Model Pembelajaran Berbasis Masalah.
Problem based learning adalah, metode mengajar yang menggunakan masalah yang nyata, proses dimana siswa belajar, baik ingatan maupun keterampilan berpikir kritis, problem based learning adalah metode mengajar dengan fokus pemecahan masalah yang nyata, kerja kelompok, umpan balik, diskusi, dan laporan akhir. Dengan demikian siswa didorong untuk lebih aktif terlibat dalam materi pelajaran dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Pembelajaran berdasarkan masalah kegunaannya adalah untuk merangsang berfikir dalam situasi yang berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Problem based learning menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Model pembelajaran berbasis masalah menerapkan siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil, mengidentifikasi apa yang diketahui dan yang lebih penting adalah apa yang mereka tidak tahu serta apa yang harus dipelajari untuk memecahkan masalah.
Problem based Learning menyediakan pembelajaran aktif, independent, dan mandiri, sehingga menghasilkan siswa yang independen yang mampu meneruskan untuk belajar mandiri dalam kehidupannya. Dalam pembelajaran kelas model problem based learning suasana lebih hidup deiigan diskusi, debat, clan kontroversi, keingintahuan siswa lebih besar, problem based learning adalah metode mengajar yang memotivasi siswa untuk mencapai sukses secara akademik. Problem based learning adalah suatu strategi pelatihan, siswa bekerja bersama dalam kelompok, dan memikul tanggung jawab untuk pemecahan masalah secara profesional. Dalam hal ini guru berfungsi sebagai pengamat dan penasehat.
Langkah pembelajaran pada model pembelajaran berbasis masalah menggamit konsep dasar, pendifinisian masalah, pembelajaran mandiri, dan pertukaran pengetahuan. Pertama guru memberikan konsep dasar tentang tatacara pembelajaran yang akan dilakukan. Dalam kegiatan ini guru memberikan, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Langkah kedua adalah pendefinisian masalah. Dalam langkah ini guru menyampaikan skenario atau permasalahan dan siswa melakukan berbagai kegiatan brainstorming. Semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Langkah ketiga adalah pembelajaran mandiri. Pada kegiatan ini siswa dibimbing untuk mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, pertama agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan kedua  informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas. langkah keempat adalah pertukaran pengetahuan. Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, siswa diminta  berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara menyuruh siswa  berkumpul sesuai kelompok dan saling memberikan presentasi serta tanggapan.
Penilaian pembelajaran pada model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian ini dapat dilakukan oleh guru dengan portofolio yang merupakan kumpulan yang sistematis dari pekerjaan-pekerjaan siswa yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment). Self-assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. Peer-assessment adalah penilaian yang dilakukan di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya
6.      Model Pembelajaran Berbasis Proyek.
Model pembelajaran Proyek  merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Guru menugaskan siswa untuk melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Model pembelajaran ini menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Kegiatan pembelajaran ini dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui model pembelajaran ini, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi). Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung siswa dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. Model pembelajaran yang dilakukan ini  merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi perhatian dan usaha peserta didik.
Langkah-langkah pembelajaran pada pembelajaran berbasis proyek menggamit 6 kegiatan pembelajaran yaitu penentuan pertanyaan, menyusun rencana proyek, menyusun jadwal, monitoring, menguji hasil, dan evalusasi pengalaman. Pada langkah penentuan pertanyaan, guru pertama-tama menganalisis kompetensi inti dan standar kompetensi. Pada materi yang sesuai dengan model pembelajaran project, guru melakukan inventarisasi dan memilih KD yang benar-benar sesuai dengan model pembelajaran ini. Pada langkah menyusun rencana proyek, guru dan siswa secara berkelompok melakukan penyusunan rencana proyek yang mencakup menyusun jadwal kegiatan, mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan serta mempersiapkan bagaimana cara menyelesaikan proyek yang telah direncanakan. Pada langkah selanjutnya, guru melakukan monitoring. Monitaring dilakukan guru untuk mengetahui dimana siswa mendapatkan kesulitan dan kapan siswa memerlukan bantuan guru. Belum semua siswa terbiasa dan memahami cara kerja yang diharapkan guru untuk diselesaikan siswa. Para siswa dibimbing oleh guru menguji hasil dan melakukan evalusasi pengalaman. Bagi siswa kegiatan ini akan sangat berkesan dan melatih siswa untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan mandiri namun tidak semua siswa menyukai model pembelajaran ini terutama bagi siswa yang tidak menyukai bidang tugas proyek semacam ini.
Sistem Penilaian yang dilakukan pada model pembelajaran proyek adalah Penilaian proyek. Penilaian ini merupakan kegiatan penilaian terhadap satu tugas yang harus diselesaiakan dalam kurun waktu tertentu. Tugas tersebut meliputi penilaian dari tahap perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: kemampuan pengelolaan, relevansi, dan kaaslian. Kemampuan pengelolaan yaitu kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi, dan mengelola waktu pengumpulan data dan penulisan laporan. Relevansi adalah kesesuaian dengan mata pelajaran dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. Keaslian adalah bahwa yang dilakukan siswa merupakan hasil karyanya.Teknik penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir. Tahapan yang perlu dinilai yaitu: tahapan penyusunan desain, pengumpulan data, analis data, dan penyiapan laporan  tertulis atau poster. Instrumen penilaian  berupa daftar cek atau skala penilaian.
7.      KESIMPULAN.
Model pembelajaran adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh pelaksana pembelajaran. Guru merupakan ujung tombak pelaksana pembelajaran di kelas. Berhasil tidaknya pembelajaran sepenuhnya ada di tangan guru. Tentu banyak unsur pelaksanaan pembelajaran, namun model pembelajaran merupakan satu unsur pembelajaran yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian lebih. Kurikulum 2013 telah menerapkan model pembelajaran yang dipandang sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan.
Pada kurikulum tersebut dikembangkan tiga model pembelajaran yaitu model pembelajaran discovery learning, model pembelajaran berbasis masalah, dan model pembelajaran proyek. Masing-masing model pembelajaran tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan. Namun guru tidak perlu memperuncing kekurangn-kekurangan pada masing-masing model pembelajarn yang dimaksud. Hal yang penting bagi guru adalah memahami, menerapkan dan mengembangkan masing-masing model pembelajaran ini sehingga proses pembelajaran menjadi efektif dan efesien serta berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Guru perlu melakukan inovasi-inovasi dari tiga model pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah dan kelas serta saranan prasarana yang ada. Dukumgan dari pihak kepala sekolah serta rekan sejawat sangat diperlukan.










DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMP/MTs
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81a Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum
Abdul Rachman Shaleh, 2005, Panduan Pembelajaran, Jakarta : Majelis Pertimbangan dan Pemberdayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan (MP3A) Departemen Agama RI.
Hisyam Zaini, dkk., 2002, Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi, Yogyakarta : CTSD IAIN Sunan Kalijaga.


Bagaimanakah menejemen pendidikan di Kalimantan Barat yang seharusnya dipergunakan berlandaskan system pendidikan Indonesia?


Tugas Individu mengangkat sebuah kasus kemudian dianalisis

1.     
Bagaimanakah menejemen pendidikan di Kalimantan Barat yang seharusnya dipergunakan berlandaskan system pendidikan Indonesia? 

Fasilitas dan kuantitas pendidikan di Kalimantan Barat dan dampaknya terhadap kurangnya semangat Individu.
Berdasarkan UUD 1945 Pasal 31 dan UU No 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Salah satu prinsip gerakan reformasi dalam pendidikan adalah pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta mereka dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pendidikan. Pertanyaannya adalah apakah sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh para pemangku kebijakan telah berlandaskan kepada ketetapan undang-undang tersebut? Jika kita melihat realita yang terjadi saat ini bahwa sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah belum sesuai dengan konstitusi negara Indonesia. Mengapa demikian?
Pertama, Pemerintah masih belum serius menangani masalah akses pendidikan di Kalimantan Barat. Seperti kita ketahui bersama, Kalimantan Barat merupakan provinsi yang sebagian besar terdiri atas perairan. Maka akses antar daerah di Kalimantan Barat sebagian besar menggunakan transportasi sungai.
Kedua, mutu pendidikan di Kalimantan Barat masih terbilang rendah. Hal tersebut terbukti dengan out put (keluaran) yang di produksi di Kalimantan Barat belum menunjukkan tingkat keberhasilan pendidikan.
Ketiga, pemerintah masih belum maksimal dalam mengelola pendidikan di Kalimantan Barat. Salah satu bukti kuat yang mendukung pernyataan tersebut adalah belum seriusnya pemerintah dalam menyimbangkan pendidikan umum dengan pendidikan keagamaan. Baik itu dalam hal sarana dan prasarana maupun dalam hal financial.
Selain ketiga permasalahan di atas saya juga masih sangat prihatin dengan pendidikan yang ada di perbatasan Kalimantan barat-malaysia.
Saya melihat ditelevisi  betapa menyedihkannya keadaan putra-putri Indonesia di wilayah perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia, yang harus dihadapkan pada kenyataan, bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau menempuh pendidikan untuk memperoleh ilmu.
Dibalik semuanya, masalah perekonomian adalah masalah yang sangat mendasar. Karena keadaan ekonomi-lah yang seringkali  memaksa putra-putri daerah untuk meninggalkan pendidikan demi mencari uang. Kasus seperti ini memerlukan perhatian khusus dari pemerintah karena menjadi faktor terbesar rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, Sudah seharusnya pemerintah memberikan fasilitas pendidikan yang memadai sehingga meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut. Sekolah gratis adalah jawaban bagi mereka yang tidak mampu. Dengan anggaran pendidikan yang telah disediakan pemerintah, sekolah gratis bukan tidak mungkin terlaksana.
Hak yang paling mendasar yang bisa dilakukan pemerintah adalah pendekatan untuk merangkul masyarakat, menjelaskan bahwa pendidikan sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf  hidup di masa depan. Untuk itu pemerintah harus menyediakan fasilitas pendidikan yang cukup, serta menyediakan tenaga pengajar berkualitas yang mampu mentransfer ilmu yang dimiliki kepada anak didik. Lalu, menyediakan sarana dan prasarana pendukung, seperti akses jalan yang baik sehingga masyarakat mudah menjangkau banyak tempat, menyediakan akses listrik dan air bersih sehingga membangkitkan gairah hidup masyarakat.