MODEL
PEMBELAJARAN KURIKULUM (2013) PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP-PGRI
PONTIANAK
2013/2014
FAUZY
AHMAD HIDAYAT
(511200211)
(Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia STKIP PGRI Pontianak)
ABSTRACT
Curriculum
2013 has been implemented in schools and madrasah. Any
changes to the curriculum would bring its own characteristics. Similarly,
the learning model is applied to the new curriculum. At this
writing scientific papers presented two issues, namely what model of learning
and how the learning model curriculum implementation in 2013. learning
model is able dedefinisikan learning model as a conceptual framework that
depicts the procedure of organizing systematic learning experience to achieve a
particular goal belejar, and serves as a guide for instructional designers and
teachers in planning and implementing learning activities. There are
three models of learning are applied to the curriculum in 2013, namely the
Discovery Learning model of learning, problem-based learning model and
project-based learning model. Discovbery learning learning model of learning
that took her a few steps: preparation, execution, and assessment. While the
core activity is the implementation of learning learning model of discovery
learning stimulation / arousal, statement / problem identification, data
collection, data processing, verification / evidence and draw conclusions /
generalizations. Problem-based learning is a teaching method that
uses a real problem, the process by which students learn, both memory and
critical thinking skills, problem-based learning is a teaching method with a
focus on solving the real problem, group work, feedback, discussion, and a
final report. The project is a learning model that uses a learning
model of project / activity as a medium. The teacher assigns students to
undertake exploration, assessment, interpretation, synthesis, and information
to produce various forms of learning outcomes. The learning model is a very important thing to be
considered by implementers of learning. Teachers are the spearhead of
implementing the learning in the classroom. Success or failure is entirely in
the hands of the learning teacher.
Keywords:
Curriculum, Model, and Learning
1. Latar
Belakang.
Kurikulum 2013 sudah mulai diterapkan pada sekolah
maupun madarasah. Setiap perubahan kurikulum tentu membawa karakteristik
tersendiri. Demikian juga pada model pembelajaran yang diterapkan pada
kurikulum baru tersebut. Guru mengenal beberapa model pembelajaran yang telah
terbiasa mereka terapkan pada proses pembelajaran. Namun pada kurikulum baru
ini, model pembelajaran yang diterapkan berbeda dengan model pembelajaran pada
kurikulum sebelumnya.
Guru sebagai pelaksana utama pembelajaran harus
memahami dan menguasai penerapan model pembelajaran, melakukan perubahan dan
melakukan pengembangan keterampilan mengajar.
Guru perlu memperhatikan model pembelajaran karena
model pembelajaran merupakan kunci terlaksananya proses pembelajaran di kelas.Ada
hal penting dimana guru belum membedakan antara pendekatan, metode, model dan
strategi pembelajaran. Hal tersebut memang masing-masing berbeda.Hal yang
penting bahwa perbedaan itu tidak perlu untuk diperdebatkan walaupun memang
kenyataannya masing-masing berbeda. Tujuan penerapan model pembelajaran pada
kurikulum 2013 adalah agar proses pembelajaran lebih berbobot, lebih bermakna.Saatnya
Guru meninggalkan pembelajaran tradisional dan menerapkan model pembelajaran
yang baik sehingga suasana kelas menjadi hidup.
Siswa sebagai komponen yang diberi perlakuan, mampu
untuk melakukan aktifitas belajar dengan senang, riang dan gembira tanpa
meninggalkan arti keseriusan pembelajaran. Siswa mengikuti pembelajaran tanpa
tekanan dan juga tanpa paksaan. Pembelajaran menjadi lebih menarik bagi siswa
khususnya dan bagi sekolah pada umumnya sehingga tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan dari setiap kompetensi dasar bisa tercapai dan siswa mampu melakukan
belajar tuntas.
2.
Rumusan
Masalah.
Rumusan
masalah yang dikemukakan penulis dalam penulisan artikel ini adalah sebagai
berikut:
a. Apa
model pembelajaran?
b. Bagaimanakah
penerapan model-model pembelajaran pada kurikulum 2013?
3.
Model
Pembelajaran.
Pemembelajaran adalah sebuah upaya untuk menciptakan
iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan
peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan
siswa, serta antara siswa dengan siswa. Dalam pembelajaran ada model
pembelajaran. Istilah model pembelajaran sangat dekat dengan pengertian stategi
pembelajaran. Meskipun demikian, pengertian model pembelajaran ini dibedakan
dari pengertian strategi, pendekatan dan metode pembelajaran. Istilah model pembelajaran
mempunyai makna yang lebih luas dari pada suatu strategi, metode, dan teknik.
Secara sederhana, pendekatan pembelajaran lebih melihat pembelajaran sebagai
proses belajar siswa yang sedang berkembang untuk mencapai perkembangannya.
Metode lebih berfokus pada prose belajar mengajar untuk bahan ajar dan tujuan
pembelajaran tertentu. Sedangkan model pembelajaran lebih melihat pembelajaran
sebagai suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi
lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau
perkembangan pada diri siswa.
Model pembelajaran dapat dedefinisik
an sebagai
sebuah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belejar tertentu,
dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para
pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Dengan
demikian aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang
tertata secara sistematis. Pemilihan model pembelajaran disesuaikan dengan
karakteristik mata pelajaran dan karakteristik setiap kompetensi dasar yang
disajikan. Tidak semua model pembelajarn cocok untuk setiap kompetensi dasar.
Guru perlu memilih dan menentukan mosdel pembelajaran yang sesuai dengan
kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar
terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan
siswa.
4.
Model Pembelajaran Discovery
Learning.
Discovery learning adalah
salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dan diterapkan dalam pelaksaan
pembelajaran kurikulum 2013. Guru sebagai pelasana utama pembelajaran tentu
berkewajiban untuk memahami dan menerapkan model pembelajaran ini. Model
pembelajaran discovbery learning menggamit beberapa langkah
pembelajaran yaitu: persiapan, pelaksanaan, dan penilaian. Sedangkan pada
kegiatan inti yaitu pelaksanaan pembelajaran model pembelajaran discovery
learning menggamit pemberianstimulasi/ rangsangan,
pernyataan/identifikasi
masalah, pengumpulan data, pengolahan data,verifikasi
/pembuktian dan menarik kesimpulan /generalisasi.
Tahap pertama pembelajaran model discovery
learning adalah persiapan. Kegiatan persiapan ini menggamit
kegiatan-kegiatan sebagai berikut: pertama, menentukan tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran harus dirumuskan terlebih dulu sesuai dengan kompetensi
yang ingin dicapai. Kedua, melakukan identifikasi karakteristik siswa
(kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya). Setiap anak mempunyai
keunikan tersendiri. Dalam hal ini guru harus memperlakukan siswa secara
klasikal dan secara individu. Ketiga adalah memilih materi pelajaran. Materi
pelajaran harus disesuaikan dengan kompetensi dasar dan sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan. Keempat adalah menentukan topik-topik yang
harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
Kelima adalah mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,
ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa baik secara individu
maupun secara kelompok. Keenam adalah mengatur topik-topik pelajaran dari yang
sederhana ke kompleks, dari yang kongkret ke abstrak, atau dari tahap
enaktif, ikonik sampai ke simbolik sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan
tingkat kesulitan materi. dan ketujuh adalah melakukan penilaian proses dan
hasil belajar siswa seusia dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan
Tahap pertama pelaksanaan pembelajaran pada model
discovery learning adalah. stimulasi/pemberian rangsangan. Pada tahap ini siswa
dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan keingintahuan sehingga merangsang
siswa untuk ingin tahu lebih lanjut tentang apa yang akan dipelajari. Guru
tidak memberi siswa generalisai agar siswa mempunyai keinginan untuk mau
menyelidiki sendiri baik individu maupoun kelompok. Disamping itu guru dapat
memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca
buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan
masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi
belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.
Tahap kedua pelaksanaan pembelajaran pada model
discovery learning adalah pernyataan/ identifikasi masalah. Pada kegiatan ini
siswa mempunyai tugas untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mucul untuk
dipecahkan. Selanjutnya siswa memilih satu atau lebih permasalahan yang telah
diidentifikasi untuk dibuat rumusan hipotesis jawaban sementara atas pertanyaan
masalah. Pada identifikasi ini para siswa telah dilatih membuat hipotesis baik
hipotesis nol maupun hipotesis satu. Pendekatan ilmiah sangat diterapkan pada
kegiatan ini sehingga siswa akan belajar mandiri sesuai dengan hipotesis yang
telah dirumuskan
Tahap ketiga pelaksanaan
pembelajaran pada model discovery learning adalah data pengumpulan
data. Pada kegiatan ini siswa melakukan eksplorasi dan mengumpulkan data-data
yang dapat dijumpai. Setelah informasi dapat dikumpulkan, siswa dapat
membuktikan kebenaran pada hipotesis yang telah dibuat. Guru memberi kesepatan
kepada siswa untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca
literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba
sendiri dan sebagainya.
Tahap keempat pelaksanaan pembelajaran pada model
discovery learning adalah pengolahan data. Pengolahan data
merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa
baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua
informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan lainnya, semuanya diolah,
diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara
tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Guru melatih dan
membimbing siswa untuk berlatih menata data sehingga data yang diperoleh
merupakan data yang valid dan reliable.
Tahap kelima pelaksanaan pembelajaran pada model
discovery learning adalah verifikasi (pembuktian). Pada tahap
ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau
tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan
dengan hasil data processing. Verifikasi bertujuan agar proses belajar akan
berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui
contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Contoh-contoh dalam kehidupan
sehari-hari merupakan obyek yang dipelajarai dan merupakan dokumen yang penting
bagi siswa dalam menghubungkan kehidupan nyata dengan teori yang dipelajarai
dikelas.
Tahap keenam pelaksanaan pembelajaran pada model
discovery learning adalah menarik kesimpulan/generalisasi. Kegiatan
generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang
dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang
sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi
maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setiap
siswa/kelompok siswa akan menghasilkan kesimpulan yang mungkin sama atau sebaliknya.
Guru perlu melakukan konfirmasi sehingga perbedaan pendapat dari kelas bisa
disatukan dan pemahaman siswa bisa dipadukan.
Sistem penilaian pada model pembelajaran discovery
learning dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. Penilaian
yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau penilaian
hasil kerja siswa. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif, maka
dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes
tertulis. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses,
sikap, atau penilaian hasil kerja siswa maka pelaksanaan penilaian dapat
dilakukan dengan pengamatan
5.
Model Pembelajaran Berbasis Masalah.
Problem based learning adalah,
metode mengajar yang menggunakan masalah yang nyata, proses dimana siswa
belajar, baik ingatan maupun keterampilan berpikir kritis, problem based
learning adalah metode mengajar dengan fokus pemecahan masalah yang nyata,
kerja kelompok, umpan balik, diskusi, dan laporan akhir. Dengan demikian siswa
didorong untuk lebih aktif terlibat dalam materi pelajaran dan mengembangkan
keterampilan berpikir kritis. Pembelajaran berdasarkan masalah kegunaannya
adalah untuk merangsang berfikir dalam situasi yang berorientasi masalah,
termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Problem based learning
menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat
memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.
Model pembelajaran berbasis masalah menerapkan siswa bekerja dalam kelompok-kelompok
kecil, mengidentifikasi apa yang diketahui dan yang lebih penting adalah apa
yang mereka tidak tahu serta apa yang harus dipelajari untuk memecahkan
masalah.
Problem based Learning menyediakan
pembelajaran aktif, independent, dan mandiri, sehingga menghasilkan siswa yang
independen yang mampu meneruskan untuk belajar mandiri dalam kehidupannya.
Dalam pembelajaran kelas model problem based learning suasana lebih hidup
deiigan diskusi, debat, clan kontroversi, keingintahuan siswa lebih besar,
problem based learning adalah metode mengajar yang memotivasi siswa untuk
mencapai sukses secara akademik. Problem based learning adalah
suatu strategi pelatihan, siswa bekerja bersama dalam kelompok, dan memikul
tanggung jawab untuk pemecahan masalah secara profesional. Dalam hal ini guru
berfungsi sebagai pengamat dan penasehat.
Langkah pembelajaran pada model pembelajaran
berbasis masalah menggamit konsep dasar, pendifinisian masalah, pembelajaran
mandiri, dan pertukaran pengetahuan. Pertama guru memberikan konsep dasar
tentang tatacara pembelajaran yang akan dilakukan. Dalam kegiatan ini guru
memberikan, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang
diperlukan dalam pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih cepat masuk
dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan
tujuan pembelajaran. Langkah kedua adalah pendefinisian masalah. Dalam langkah
ini guru menyampaikan skenario atau permasalahan dan siswa melakukan berbagai
kegiatan brainstorming. Semua anggota kelompok mengungkapkan
pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas sehingga
dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Langkah ketiga adalah
pembelajaran mandiri. Pada kegiatan ini siswa dibimbing untuk mencari berbagai
sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang
dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan,
halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi
memiliki dua tujuan utama, pertama agar peserta didik mencari informasi dan
mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah
didiskusikan di kelas, dan kedua informasi dikumpulkan dengan satu tujuan
yaitu dipresentasikan di kelas. langkah keempat adalah pertukaran pengetahuan.
Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah
pembelajaran mandiri, siswa diminta berdiskusi dalam kelompoknya untuk
mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok.
Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara menyuruh siswa
berkumpul sesuai kelompok dan saling memberikan presentasi serta
tanggapan.
Penilaian pembelajaran pada model pembelajaran
berbasis masalah dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian
ini dapat dilakukan oleh guru dengan portofolio yang merupakan kumpulan yang
sistematis dari pekerjaan-pekerjaan siswa yang dianalisis untuk melihat
kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan
pembelajaran. Penilaian dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment)
dan peer-assessment). Self-assessment adalah
penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan
hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard)
oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. Peer-assessment adalah
penilaian yang dilakukan di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan
penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah
dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya
6.
Model Pembelajaran Berbasis Proyek.
Model pembelajaran Proyek merupakan model
pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Guru menugaskan
siswa untuk melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan
informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Model pembelajaran
ini menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas
secara nyata. Kegiatan pembelajaran ini dirancang untuk digunakan pada
permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi
dan memahaminya. Melalui model pembelajaran ini, proses inquiry dimulai
dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan
membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan
berbagai subjek (materi). Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung siswa
dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah
disiplin yang sedang dikajinya. Model pembelajaran yang dilakukan ini merupakan
investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga
bagi perhatian dan usaha peserta didik.
Langkah-langkah pembelajaran pada pembelajaran
berbasis proyek menggamit 6 kegiatan pembelajaran yaitu penentuan pertanyaan,
menyusun rencana proyek, menyusun jadwal, monitoring, menguji hasil, dan
evalusasi pengalaman. Pada langkah penentuan pertanyaan, guru pertama-tama
menganalisis kompetensi inti dan standar kompetensi. Pada materi yang sesuai
dengan model pembelajaran project, guru melakukan inventarisasi dan memilih KD
yang benar-benar sesuai dengan model pembelajaran ini. Pada langkah menyusun
rencana proyek, guru dan siswa secara berkelompok melakukan penyusunan rencana
proyek yang mencakup menyusun jadwal kegiatan, mempersiapkan perlengkapan yang
diperlukan serta mempersiapkan bagaimana cara menyelesaikan proyek yang telah
direncanakan. Pada langkah selanjutnya, guru melakukan monitoring. Monitaring
dilakukan guru untuk mengetahui dimana siswa mendapatkan kesulitan dan kapan
siswa memerlukan bantuan guru. Belum semua siswa terbiasa dan memahami cara
kerja yang diharapkan guru untuk diselesaikan siswa. Para siswa dibimbing oleh
guru menguji hasil dan melakukan evalusasi pengalaman. Bagi siswa kegiatan ini
akan sangat berkesan dan melatih siswa untuk menjadi pribadi yang
bertanggungjawab dan mandiri namun tidak semua siswa menyukai model
pembelajaran ini terutama bagi siswa yang tidak menyukai bidang tugas proyek
semacam ini.
Sistem Penilaian yang dilakukan pada model
pembelajaran proyek adalah Penilaian proyek. Penilaian ini merupakan kegiatan
penilaian terhadap satu tugas yang harus diselesaiakan dalam kurun waktu
tertentu. Tugas tersebut meliputi penilaian dari tahap perencanaan, pengumpulan
data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat
digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan
penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran
tertentu secara jelas. Ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: kemampuan
pengelolaan, relevansi, dan kaaslian. Kemampuan pengelolaan yaitu
kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi, dan mengelola
waktu pengumpulan data dan penulisan laporan. Relevansi adalah kesesuaian
dengan mata pelajaran dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan
keterampilan dalam pembelajaran. Keaslian adalah bahwa yang dilakukan siswa
merupakan hasil karyanya.Teknik penilaian proyek dilakukan mulai dari
perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir. Tahapan yang perlu dinilai
yaitu: tahapan penyusunan desain, pengumpulan data, analis data, dan penyiapan
laporan tertulis atau poster. Instrumen penilaian berupa daftar cek
atau skala penilaian.
7.
KESIMPULAN.
Model pembelajaran adalah hal yang sangat penting
untuk diperhatikan oleh pelaksana pembelajaran. Guru merupakan ujung tombak
pelaksana pembelajaran di kelas. Berhasil tidaknya pembelajaran sepenuhnya ada
di tangan guru. Tentu banyak unsur pelaksanaan pembelajaran, namun model
pembelajaran merupakan satu unsur pembelajaran yang sangat penting untuk
mendapatkan perhatian lebih. Kurikulum 2013 telah menerapkan model pembelajaran
yang dipandang sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan.
Pada kurikulum tersebut dikembangkan tiga model
pembelajaran yaitu model pembelajaran discovery learning, model
pembelajaran berbasis masalah, dan model pembelajaran proyek. Masing-masing
model pembelajaran tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan. Namun guru tidak
perlu memperuncing kekurangn-kekurangan pada masing-masing model pembelajarn
yang dimaksud. Hal yang penting bagi guru adalah memahami, menerapkan dan
mengembangkan masing-masing model pembelajaran ini sehingga proses pembelajaran
menjadi efektif dan efesien serta berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang telah dirumuskan. Guru perlu melakukan inovasi-inovasi dari tiga model
pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah dan kelas serta saranan
prasarana yang ada. Dukumgan dari pihak kepala sekolah serta rekan sejawat
sangat diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar
Proses Pendidikan Dasar dan Menengah
Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2013
tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMP/MTs
Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81a Tahun 2013
tentang Implementasi Kurikulum
Abdul
Rachman Shaleh, 2005, Panduan Pembelajaran, Jakarta : Majelis
Pertimbangan dan Pemberdayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan (MP3A) Departemen
Agama RI.
Hisyam
Zaini, dkk., 2002, Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi,
Yogyakarta : CTSD IAIN Sunan Kalijaga.