web stats

Kamis, 14 November 2013

Penyesalan

Penyesalan 

terkadang terlintas dibenakku timbul rasa penyesalan 
apakah aku bisa menjadi manusia yang berguna?
apakah aku bisa sukses? 
apakah kehidupanku ini bisa menjadi baik? 
Dan Aku hanya bisa pasrah menerima keadaan saat ini
Ibarat air yang mengalir tanpa ada ujungnya itu lah aku 
Aku hanya bisa menjalani hidup dengan mengikuti zaman 
Terkadang timbul rasa ingin merubah diri menjadi lebih baik 
Tetapi itu semua sia-sia 
 karna pengaruh kebiasaan hidupku 
setiap kali orang memberikan saran 
 aku merasa malu, 
 aku berfikir apakah kehidupku dan prilakuku ini bisa berubah? 
Ataukah mungkin jalan hidupku memang seperti ini! 
Aku hanya bisa pasrah, 
dan kunikmati hidupku seperti ini 
Karna penyesalan itu akan selalu datang diakhir. 

 “Fauzy ahmad hidayat”

Minggu, 29 September 2013

karya ilmiah peningkatan kemampuan membaca cepat melalui tehnik SQ3R


TUGAS INDIVIDU PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT MELALUI TEHNIK SQ3R. DOSEN PENGAMPU : HERLINA,M.Pd MATA KULIAH : MENULIS 3 SEMESTER : III (TIGA) KELAS : A SORE OLEH : o FAUZY AHMAD HIDAYAT (511200211) SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA (STKIP-PGRI) PONTIANAK 2013 `DAFTAR ISI Kata pengantar................................................................................................... i Daftar isi............................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang....................................................................................... 1 B. Rumusan masalah.................................................................................. 3 C. Tujuan ................................................................................................... 3 D. Manfaat ............................................................................................... 4 BAB II KAJIAN TEORI Kajian teori menurut para ahli.............................................................................. 5 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian.......................................................................................... 7 B. Objek dan subjek penelitian...................................................................... 8 C. Data.......................................................................................................... 8 D. Tehnik dan alat pengumpulan data........................................................... 8 E. Tehnik validasi data.................................................................................. 9 F. Tehnik analisis data................................................................................... 10 BAB IV PEMBAHASAN A. Faktor-faktor yang menghambat membaca cepat...................................... 11 B. Macam-macam membaca cepat................................................................. 13 C. Cara membaca cepat.................................................................................. 13 D. Membaca SQ3R......................................................................................... 15 E. Tujuan membaca SQ3R............................................................................. 16 F. Kerangka berfikir....................................................................................... 17 BAB V PENUTUP A. Simpulan.................................................................................................... 18 B. Saran.......................................................................................................... 18 DAFTAR PUSTAKA................................................................................ iii KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Mahaesa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul ”peningkatan kemampuan membaca cepat melalui tehnik SQ3R” . Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Menulis 3. Penulis dalam menyusun makalah ini banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak terutama kepada ibu Herlina, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Menulis 3. Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan makalah ini. Namun, apabila masih terdapat kekurangan penulis mohon maaf. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang besifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Pontianak, 2013 Penulis. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada umumnya orang tak sadar dengan masalah membaca membacanya. Kebanyakan orang telah puas dengan kondisi kemampuan membacanya, baik dalam kecepatan maupun dalam tingkat pemahaman. Padahal, secara teoretis kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan itu dapat ditingkatkan dua atau tiga kali lipat dari kecepatan dan pemahaman semula. Dalam membaca cepat terkadang di dalamnya pemahaman yang cepat pula. Bahkan pemahaman inilah yang menjadi pangkal otak pembahasan, bukannya kecepatan. Akan tetapi, tidak berarti membaca lambat akan meningkatkan pemahaman. Bahkan orang biasa membaca lambat untuk mengerti suatu bacaan akan dapat mengambil manfaat yang besar dengan membaca cepat. Sebagaimana mengendarai mobil, seorang pembaca yang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. Kecepatan membaca anda sangat tergantung pada bahan dan tujuan anda membaca anda harus sering dengan kecepatan anda memahami bahan bacaan tersebut.Dalam membaca pembaca masih ada yang membaca dengan menggunakan jari agar tidak ada kata yang terlewati maka di lakukan dengan bantuan jari atau pensil yang menunjukan kata demi kata. Karena cara demikian itu dipraktekkan terus-menerus dan tidak ada yang memberikan petunjuk lebih lanjut bahwa sebetulnya tidak perlu dilakukan apabila kita telah pandai membaca, akhirnya itu menjadi kebiasaaan dan dilakukan sampai dewasa. Cara membaca dengan menunjuk jari atau benda lain itu sangat menghambat membaca sebab gerakan tangan lebih lambat dari pada gerakan mata. Selain itu ada juga pembaca dalam membaca masih ada yang menggerakkan kepalanya karena semasa kanak-kanak penglihatan kita memang masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan. Akibatnya adalah bahwa kita menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk padat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa penglihatan kita telah mampu secara optimal sehingga seharusnya cukup mata saja yang bergerak, cara membaca seperti itu menghambat membaca sebab menggerakkan mata itu lebih cepat dan lebih mudah dilakukan daripada menggerkakkan kepala. Banyak orang menghadapi buku atau bacaannya dari awal sampai akhir dari membaca beranggapan bahwa dengan cara itu mereka pasti menguasai isi bacaan. Ternyata hal itu tidak benar. Untuk memahami suatu bacaan kita tidak cukup hanya membaca sekali saja, tetapi kita harus mengambil langkah-langkah yang strategis untuk menguasai bahan itu dan mengingatnya lebih lama. Jadi, usaha yang efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan cara mengorganisasikan bahan yang di baca dalam kaitan yang mudah dipahami, mengaitkan fakta yang satu dengan yang lain atau dengan menghubungkan pengalaman atau konteks yang anda hadapi. Pemahaman atau komprehensip adalah kemampuan membaca untuk mengerti ide pokok, detail yang penting, dan seluruh pengertian. Selain itu banyak pelajar lebih cenderung memilih bacaan yang menarik daripada bacaan yang lebih banyak manfaatnya karena banyak pelajar yang hobi membaca buku komik yang ceritanya itu sedikit manfaatnya daripada buku pelajaran. Padahal buku pelajaran adalah buku yang berisi ilmu-ilmu penting yang menambah pengetahuan kita. Sehingga sebagian pelajar ada yang membaca buku lambat sebab buku yang dibaca tidak disukai. Oleh sebab itu selain membaca buku yang di sukai orang tua juga harus memperhatikan buku yang dibaca anak seperti buku-buku pelajaran agar siswa suka dan hobi membaca buku dengan cepat. Siswa yang tidak mendapat bimbingan, latihan khusus membaca cepat, sering mudah lelah dalam membaca karena lamban dalam membaca, tidak ada gairah, merasa bosan tidak tahan membaca buku, dan terlalu lama untuk menyelesaikan buku yang tipis sekalipun. Orang pun cepat lelah karena kegiatan lebih bertumpu pada aktivitas otot. Sejak lima puluh terakhir para ahli psikologi pendidikan telah menyelidiki cara-cara membaca yang efisien dan mengemukakan beberapa sistem salah satu yang banyak dikenal dan dipraktekkan orang adalah SQ3R. Secara umum sistem-sistem yang di kemukakan orang ahli itu memakai pendekatan sama yang membuata kita aktif dan bertujuan dalam menghadapi bacaan. Teknik-teknik yang diberikan dimaksudkan untuk menemukan ide pokok dan detail penting yang mendukung ide pokok serta mengingatnya lebih lama. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh (Francis P. Robinson 1941) merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah : survey, question, read, recite, review (SQ3R). Dengan membaca menggunakan teknik SQ3R kita akan mudah dan cepat menangkap ide-ide pokok bacaan dengan cara mensurvei buku bacaan. Sehingga pembaca mengerti apa isi maksud yang terkandung dalam bacaan tersebut. Selain itu pembaca juga akan cepat menangkap gagasan bacaan itu dengan detail. Pada saat kita membaca bagian-bagian yang penting usahakan supaya diperlambat dalam kita membacanya dan jangan sampai saat membaca bagian yang penting atau bagian yang dianggap kita susah kita tandai dengan garis bawahi karena itu akan mempengaruhi kita dalam membaca cepat. Selain itu dalam membaca teknik SQ3R manfaat lainnya kita menghemat waktu dalam membaca buku dan yang paling penting adalah hafal isi bacaan itu oleh karena itu di dalam teknik membaca SQ3R yang terakhir usahakan untuk menelusuri kembali judul-judul dan sub judul dan bagian-bagian penting yang perlu diingat kembali. Karena selain membaca data ingat dan akan memperjelas pemahaman kita dalam membaca. Sebab daya ingat kita terbatas, sekalipun pada waktu membaca 85 persen kita menguasai isi bacaan. Kemampuan kit dalam 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40 persen dan dalam tempo dua minggu pemahaman kita tinggal 20 persen. B. RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang yang telah kita kemukakan di atas maka dapat di rumuskan permasalahan antara lain: 1. Bagaimana peningkatan kemampuan teknik membaca cepat dengan teknik SQ3R? 2. Bagaimana respon siswa terhadap penggunaan teknik SQ3R? C. TUJUAN 1. Untuk mengetahui peningkatan teknik membaca cepat dengan teknik SQ3R 2. Untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan teknik SQ3R D. MANFAAT Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat, terutama bagi penulis, Mahasiswa dan pembaca. 1. Manfaat bagi penulis, Manfaat teoritis yaitu bagaimana meningkatan teknik membaca cepat dengan teknik SQ3R. 2. Manfaat bagi mahasiswa Mahasiswa dapat mengetahui cara bagaimana meningkatan teknik membaca cepat dengan teknik SQ3R. 3. Manfaat bagi pembaca Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membaca cepat. BAB II KAJIAN TEORI Kajian teori menurut para ahli Pengertian membaca. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis (Hendry Guntur Tarigan 1979:7) Sedangkan pengertian membaca cepat adalah Muchishoh (1992:153) mengatakan membaca cepat yaitu jenis membaca yang diberikan dengan tujuan agar para pembaca dalam waktu singkat dapat membaca secara lancar, serta dapat memahami isinya. Soedarso, Speed Reading (Gramedia, cet.11,2004), mengatakan “Metode speed reading merupakan semacam untuk mengelola secara cepat proses penerimaan informasi”. Supriyadi (1995:127), Membaca cepat adalah bagaimana kita dapat membaca dengan pemahaman yang lebih baik dalam waktu lebih cepat serta mengingatnya dengan baik pula. Menurut (Soedarso 2002:14) sebagian karena tingkat kecerdasannya orang hanya mampu membaca 125 kpm (kata per menit). Pada umumnya, orang membaca jauh lebih lambat dari pada kemampuannya. Orang dewasa di Amerika yang belum pernah mendapat latihan khusus kecepatannya antara 200-500 kpm, beberapa orang sampai 325-350 kpm, dan beberapa orang yang terlalu lambat, yaitu 125-175 kpm. Orang dewasa Indonesia, seperti yang penulis catat berdasarkan kursus-kursus yang diadakan, keadaannya seperti di Amerika, yaitu 175-300 kpm. Akan tetapi, pada pertengahan kursus (minggu kedua), pada umumnya, dapat dinaikkan menjadi 350-500 kpm. Semua itu dengan pemahaman 70 persen. (Soedarso 2002:84) mengungkapkan selain itu jurus membaca yang sangat ampuh untuk mengukur kecepatan kita dalam membaca dan sangat efektif memberikan hasil seperti itu yaitu dengan skimming dan scanning. Jika kita tidak membutuhkan fakta dan detailnya, maka lompati fakta detail itu dan pusatkan perhatian untuk cepat menguasai ide pokoknya. Cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokoknya ini disebut skimming, sedangkan kita perlu melompati lainnya dan langsung ke sasaran yang kita cari itu di sebut scanning. Selain itu kita membuat ringkasan, mengambil intisari suatu bab, bagian, atau paragraf, kita akan menguasai ide yang di kandungnya. Dari keempat pengertian membaca cepat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca cepat adalah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaan. BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan Penelitian tindakan yang di laksanakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga penelitian ini termasuk bentuk penelitian tindakan kelas. Adapun pelaksanaanya berbentuk kolaborasi antara pengamat dan peneliti sebagai pelaku tindakan. Penelitian tindakan kelas menekankan kepada kegiatan dengan mengujicobakan suatu ide ke dalam situasi nyata dalam kelas, yang diharapkan kegiatan ini mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar (Susilo 2007:10) A. Jenis Penelitian 1. Penelitian Kualitatif Istilah penelitian kualitatif pada umumnya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial secara fundamental bergantung dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya menurut Kirk dan Miller (1986:9). Mendefinisikan “ Metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat di amati menurut Bogdan dan Taylor (1975:5). 2. Penelitian Kuantitatif Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk itu pengamat mulai mencatat atau menghitung mulai dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada “Perhitungan atau jumlah” atau “Angka” atau “Kuantitas”. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya di artikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Perbedaan antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif telah banyak di temukan oleh para ahli. Menurut Guba dan Lincoln (1981:62-82). Untuk penelitian kuantitatif digunakan scientific paradigm (paradigma ilmiah, penulis), sedangkan penelitian kualitatif dinamakannaturalistic inquiry atau inkuiri alamiah. B. Obyek dan Subyek Penelitian Obyek penelitian ini adalah “Peningkatan membaca cepat dengan membaca SQ3R”. Sedangkan subyek penelitian adalah peneliti sendiri. C. Data Data penelitian berasal dari hasil membaca cepat siswa dengan metode SQ3R,, buku Bahasa indonesia kelas X D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Dalam teknik pengumpulan data ada beberapa cara yang dapat digunakan diantaranya yaitu dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Pengumpulan Data dengan Pengamatan (observasi) Menurut Nasution (1988) menanyakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan karena para peneliti karena para peneliti hanya dapat bekerja atau meneliti berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Observasi (pengalaman langsung) oleh peneliti tentang aktivitas dan sikap siswa pada saat proses pembelajaran. 2. Pengumpulan Data Dengan Wawancara (interview) Wawancara adalah pertemuan antara dua orang atau lebih untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menentukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri, atau setidaknya pada pengetahuan dan keyakinan pribadi. Jadi dengan wawancara peneliti akan mengetahui hal-hal yang mendalam tentang partisipasi dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa ditemukan melalui obeservasi. (Susan Stainback.1988). 3. Pengumpulan Data Dengan Dokumen Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observsi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara, akan lebih kredibel atau dapat dipercaya kalau didukung oelh sejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat, dan autobiografi. Tetapi perlu dicermati bahwa tidak semua dari dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi. 4. Pengumpulan Data Dengan Triangulasi/gabungan Dalam teknik pengumpulan data, Triangulasi/gabungan diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas atau kebenaran dari data itu, yaitu mengecek kebenaran data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data. E. Tehnik Validasi Data Validasi membuktikan bahwa apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada dalam dunia kenyataan, dan apakah penjelasan yang di berikan tentang dunia masih sesuai dengan sebenarnya ada atau terjadi (Nasution 1992:105). Dalam teknik validasi data penelitian menggunakan dengan cara trianggulasi. Trianggulasi dikalukan dengan cara trianggulasi teknik, sumber data dan waktu. Trianggulasi tehnik dilakukan dengan cara yang berbeda, yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Trianggulasi sumber, dilakukan dengan menanyakan hal sumber datanya adalah Kepala Dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, siswa dan masyarakat. Trianggulasi waktu artinya pengumpulan data dilakukan pada berbagai kesempatan pagi, siang, sore hari. Dengan trianggulasi dalam pengumpulan data tersebut maka dapat diketahui apakah narasumber memberikan data yang sama atau tidak. Kalau narasumber memberi data yang berbeda, maka berarti datanya belum kredibel. F. Tehnik Analisis Data Analisis adalah proses penyusunan data agar dapa ditafsirkan. Menyusun data berati menggolongkannya dalam pola, tema atau kategori. Tanpa kategorisasi atau klasifikasi data akan menjadi chaos. Tafsiran atau interpretasi artinya memberikan makna kepada analisis, menjelaskan pola atau kategori, mencari hubungan antara berbagai konsep (Nasution, 1992:126). Dalam penelitian kualitatif, teknik analisis data yang digunakan sudah jelas, yaitu diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis. Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber. Dengan pengamatan yang terus menerus mengakibatkan variasi data tinggi sekali. Data yang diperoleh biasanya data kualitatif sehingga teknik analisis data yang digunakan belum ada pola yang jelas. Oleh karena itu sering mengalami kesulitan dalam melakukan analisis. Berdasarkan hal tersebut dapat dikemukakan disini bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh daro hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori menjabarkan kendalam unit-unit, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting danyang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan setelah selesai di lapangan. Dalam hal ini, Nasution (1988), menyatakan bahwa analisis telah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, saat berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Namun dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data. BAB IV PEMBAHASAN A. Faktor-faktor yang menghambat membaca cepat Banyak faktor-faktor yang menghambat kita saat membaca buku. Selanjutnya hal-hal sangat mempengaruhi dalam membaca cepat di tuliskan di bawah ini. 1. Vokalisasi Voalisasi atau membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca, karena itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap. Menggumam, sekalipun dengan mulut terkatup dan suara tidak terdengar, jelas termasuk membaca dengan bersuara Untuk mengetahui apakah kita menguc apkan kata-kata itu atau tidak, letakkan tangan di leher sementara membaca. Bila getaran terasa di jakun (gulu menjing), itu berarti anda membaca dengan bersuara. 2. Gerakan bibir Orang dewasa ada yang meneruskan kebiasaan di waktu kecil, yaitu mengucapkan kata demi kata apa yang dibaca dengan menggerakkan bibir atau komat-kamit sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Kecepatan membaca bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca secara diam. Dengan menggerakkan bibir kita lebih sering regresi (kembali kebelakang) sebab ketika mata dapat dengan cepat bergerak maju, suara kita masih di belakang. 3. Gerakan kepala Semasa kanak-kanak penglihatan kita memang masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan. Akibatnya adalah bahwa kita menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untu dapat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa pengliatan kita telah mampu secara optimal sehungga seharusnya cukup mata saja yang bergerak. 4. Menunjuk dengan tangan Semasa baru belajar membaca kita harus mengucapkan kata demi kata apa yang kita baca. Untuk menjaga agar tidak ada kata yang terlewati maka dilakukan dengan bantuan jari atau pensil yang menunjuk kata demi kata. Karena cara demikian itu dipraktekkan terus menerus dan tidak ada yang memberikan petunjuk lebih lanjut bahwa sebetulnya tidak perlu lagi dilakukan apabila kita telah pandai membaca, akhirnya era itu menjadi kebiasaan dan dilakukan sampai dewasa. 5. Regresi Dalam membaca, mata mestinya bergerak kekanan untuk menangkap kata-kata yang terletak berikutnya. Akan tetapi,sering mata bergerak kembali ke belakang untuk membaca ulang suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Kebiasaan selalu kembali (regresi) ke belakang untuk melihat kata atu bebrapa kata yang baru di baca itu menjadi hambatan yang serius dalam membaca. 6. Subvokalisasi Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin/pikiran kata-kata yang di baca juga dilakukan oleh pembaca yang kecepatannya telah tinggi. Subvokalisasi juga menghambat karena kita menjadi lebih memperhatikan bagaimana melafalkan secara benar dari pada berusaha memahami ide yang di andung dalam kata-kata yang di baca. Dengan menghilangkan sama sekali cara membaca dengan melafalkan dalam batin apa yang kita baca memang tidak mungkin, tetapi masih dapat di usahakan dengan cara melebarkan jangkauan mata sehingga satu fiksasi (pandangan mata) dapat menangkap beberapa kata sekaligus dan langsung menyerap idenya daripada melafalkannya. Kita harus sadar bahwa yang penting dalam membaca adalah menangkap ide, bukan mengingat-ingat atau menekuni simbol-simbol yang tercetak didalamnya (Soedarso 2002:5) B. Macam-Macam Membaca Cepat 1. Membaca secara skimming atau scanning (Kecepatan lebih 1.000 kpm) di gunakan untuk : a. mengenal bahan yang akan dibaca; b. mencarari jawaban atas pertanyaan tersebut; c. mendapat struktur dan organisasi bacaan serta menemukan gagasan umum di bacaan itu. 2. Membaca dengan kecepatan tinggi (500-800 kpm) di gunakan untuk: a. membaca bahan-baham yang mudah dan telah di kenali b. membaca novel ringan untyki mengikuti jalan ceritanya. 3. Membaca secara cepat (350-500) digunakan untuk: a. membaca bacaan yang mudah dalam bentuk deskriptif dan bahan-bahan nonfiksi lain yang bersifat informatif; b. membaca fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya dan mengantisipasi akhir cerita. 4. Membaca dengan kecepatan rata-rata (250-350 kmp) di gunakan untuk: a. membaca fiksi yang kompleks untyk analisis watak serta jalan ceritanya; b. membaca nonfiksi yang agak sulit, untuk mendapatkan detail, mencari hubungan, ataun membuat evaluasi ide penulis. 5. membaca lambat (100-125 kpm) di gunakan untuk: a. mempelajari bahan-bahan yang sulit dan untuk menguasai isinya; b. menguasai baham-bahan ilmiah yang sulit dan bersifat tehnik; c. membaca analisis bahan-bahan yang bernilai sastra klasik; d. memecahkan persoalan yang di tunjuk dengan bacaan yang bersifat intruksional (pedoman) dalam (Soedarso 2002:18) C. Cara Membaca Cepat 1. Melihat dengan Otak Kegiatan membaca di lakukan bersama-sama oleh maya dan otak. Mata melihat dan otak menginterpretasikan saat itu juga sehingga “apa yang anda lihat, itulah yang anda dapat”. Otak menyerap apa yang dilihat oleh amata. Oleh karena itu, melihat adalah mengerti. 2. Gerakan Mata dalam Membaca Gerakan mata tergantung pada jarak denda yang dilihat. Apabila kita melihat jauh mengikuti benda yang bergerak di lapangan pandang yang luas, mata bergerak halus dan rasa seperti kalu kita melihat gambar atau membaca: gerakan mata cepat, tersentak-sentak dalam irama tarikan-tarikan kecil, seperti melompat-lompat. 3. Melebarkan Jangkauan Mata Pada saat mata berhenti, jangkauan mata kita dapat menangkap beberapa kata sekaligus. Kata-kata dalam jangkauan mata itu dapat di kenali sekalipun pembaca tidak memfokuskannya pada setiap kata itu. 4. Transisi Fiksasi ke Fiksasi Bacalah sebuah buku saku dengan cepat, menurut irama, dan perlebar jangkauan mata: dalam satu baris tiga fiksasi. Perpendek waktu transisi fiksasi ke fiksasi. Cobalah satu fisasi dengan sekali pandang, lalu bergerak ke fiksasi berikutnya. 5. Gerakan Otot Mata dan Latihan Gerakan mata di kendalikan oleh otot kecil yang kuat. Otot-otot ini bersama-sama menarik mata dalam rangkaian tarikan-tarikan kecil tatkal kita menelusuri baris0baris tulisan. Karena itu, apabila otot-otot mata terasa penat, kita lalu mengeluh, “mata capek”. Untuk mendobrak kebiasaan gerakan mata yang sudah mendarah daging itu diperlukan latihan yang terencana dan intensif yang memberian kesempatan otot-otot mata melakukan semacam “senam”. 6. Meningkatkan Konsentrasi Apabila perhatian kita fokuskan pada bahan yang kita baca maa gagasan dan gambaran tentang isi bacaan akan nampak jelas dan mudah kita pahami. Untuk meningkatkan daya konsentrasi ada dua kegiatan penting, yaitu: a. menghilangkan atau menjauhi hal-hal yang menyebabkan pikiran menjadi kusut b. memusatkan perhatian secara sungguh-sungguh dalam (Soedarso 2002:50) D. Membaca SQ3R Pengertian membaca SQ3R adalah membaca yang efektif dan efisisen untuk memahami dan mengingat lebih lama.Membaca dengan metode SQ3R sangat baik untuk kepentingan membaca secara intensif dan rasional. Metode pembacaan studi ini dianjurkan oleh seorang guru besar psikologi dari Ohio State University, yaitu Prof, Francis P. Robinson dalam (A. Widyamartaya 1992:60). Sistem mambaca SQ3rsingkatan dari: Survey, Question, Read, Recite, Review. SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah, yaitu: 1. Survey atau menyelidiki Dalam langkah ini kita memeriksa halaman-halaman bab yang akan dipelajari. Semua itu bertujuan untuk memperoleh kesan atau gagasan umum tentang isinya. Penyelidikan ini kita lakukan dengan membaca sekilas (skimming). 2. Question atau menanyakan Dalam langkah kedua ini kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum mulai membaca seluruh bab. Pertanyaan-pertanyaan itu akan membangkitkan keingintahuan kita, akan membantu kita untuk membaca dengan tujuan, mencari jawaban-jawaban yang penting (relevan), dan akhirnya akan meningkatkan pemahaman dan mempercepat penguasaan seluruh bab ini. 3. Read atau memabaca Dalam langkah ketiga ini kita membaca untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Kita dapat membaca cepat sekarang karena kita tahu apa yang kita cari dan dimana mencari jawaban-jawabannya. Kita akan dapat lebih cepat apabila kita telah melaksanakan langakah pertama dan kedua di atas. 4. Recite atau mendaras Dalam langkah keempat ini kita berusaha untuk memperkokoh perolehan kita dalam membaca. Di sini apa yang telah kita peroleh kita hubungkan dengan informasi yang kita peroleh sebelumnya dan kita bersiap diri untuk pembacaan selanjutnya. Pendarasan ini akan lebih lagi apabila di dukung dengan pembuatan catatan pada lembar catatan. 5. Review atau mengulangi Setiap tiap paragraf atau bagian dalam bab yang kita pelajari selesai kita baca menurut langkah ketiga dan keempat., kita ulangi kembali dan kita ingat-ingat kembali segenap isi ringkasan dan penting dari seluruh bab tersebut. Dengan langkah kelima ini, kita berusaha untuk memperoleh penguasaan bulat, menyeluruh, dan kokoh atas bahan dalam (A. Widyamartaya 1992:61). E. Tujuan Membaca SQ3R 1. Menemukan ide pokok Ide pokok dapat ditemukan di semua bagian buku. Buku secara keseluruhan mempunyai ide pokok yang umum, kemudian tiap bab mempunyai ide pokok yang agak spesifik. 2. Mengetahui Ide Pokok Paragraf Dalam suatu paragraf ada kalimat pokok atau kalimat kunci. Kalimat itu mengandung ide pokok paragraf. Kalimat lainnya adalah kalimat pendukung, yang mengurai, menjelaskan, melukiskan, menjabarkan, atau menyajikan contoh-contoh ide pokok. 3. Mengenali Detail Penting Untuk menentukan apakah detail itu penting atau tidak, hendaklah anak dapat bertanya: apakah detail tersebut merupakan contoh, penjelasan,dan pembuktian yang paling bagus terhadap ide pokok? Salah satu cara mengenali detail penulisan adalah dengan mencari petunjuk yang digunakan oleh penulis untuk membantu pembaca, baik berupa visual maupun kata-kata penuntun. Kata-kata visual itu misalnya: a. Ditulis miring b. Digaris bawahi c. Dicetak tebal d. Dibubuhi angka-angka, dan e. Ditulis dengan menggunakan huruf-huruf: a, b, dan c. 4. Mengingatkan lebih lama Untuk mengingat bacaan lebih lama kita saat membaca usahakan memahami artinya. Untuk mengerti apa yang kita baca, tergantung pada mengapa dan bagaimana kita membaca. Jika kita menemui sesuatu yang menyenangkan dan membaca apa yang kita perlukan, kita akan mengingatnya dalam (Soedarso 2002:75) F. Kerangka Berfikir Membaca cepat merupakan suatu jenis membaca yang diberikan dengan tujuan agar para siswa dalam waktu singkat dapat membaca secara lancar, serta dapat memahami isinya. Selain itu, membaca cepat biasanya di gunakan untuk mengelola secara cepat proses penerimaan informasi. Hambatan-hambatan dalam membaca cepat tersebut sering kita temui saat kita membaca buku. Membaca buku atau novel yang jumlah halamannya sangat banyak dan tebal. Faktor-faktor membaca cepat dimungkinkan dapat ditemukan dalam saat membaca buku yang jumlah halamnnya banyak atau membaca novel yang tebal. Membaca cepat berarti membaca buku dengan cara cepat dan dengan waktu yang singkat. Selain itu, membaca cepat dengan cara scanning yaitu membaca dengan tehnik melompat (skipping) untuk langsung ke sasaran yang kita cari. Dengan kata lain, cara membaca cepat adalah membaca dengan upaya kita cepat menyelesaikan bacaan dengan waktu yang singkat. Membaca dengan teknik SQ3R ini, sebelum membaca terlebih dahulu kita survei bacaan untuk mendapatkan gagasan umum apa yang akan kita baca. Lalu dengan mengajukan berbagai pertanyaan pada diri sendiri yang jawabannya kita harapkan terdapat dalam bacaan tersebut kita akan lebih mudah memahami bacaan. Dan, selanjutnya dengan mencoba mengutarakan dengan kata-kata sendiri pokok-pokok pentingnya, kita akan menguasai dan mengingatnya lebih lama. Dengan demikian membaca cepat dengan teknik SQ3R akan membantu kita dalam membaca cepat sehingga kita dengan cepat membaca dalam waktu yang singkat dan kita mengetahui pokok-pokok penting di dalam bacaan tersebut dengan mengingatnya lebih lama. BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan penjelasan di atas,maka hal yang dilakukan oleh Guru untuk meningkatkan kemampuan membaca pada siswa adalah : 1. Guru melihat sejauh mana keberhasilan siswa dalam membaca cepat. 2. Guru memberikan bimbingan pada siswa yang kurang berhasil membaca cepat dengan tepat. 3. Guru melihat keberhasilan siswa setelah pemberian bimbingan. 4. Pemberian motivasi agar siswa senang untuk membaca. B. Saran Berdasarkan simpulan diatas maka saran untuk guru dalam melakukan bimbingan adalah 1. Sebelum melakukan bimbingan pada siswa guru harus mengetahui faktor apa yang membuat kesulitan siswa dalam membaca pada siswa yang akan dibimbing. 2. Pemberian motivasi anak harus sesuai dengan apa yang akan diajarkan agar tujuan pembelajaran tercapai. DAFTAR PUSTAKA Nurhadi. (2005). Membaca Cepat dan Efektif.Bandung: Sinar baru Algensindo. Men Subama, M.dkk,(2005).Dasar-dasar Penelitian Ilmiah.Bandung: Pustaka Setia. Dr. Moleong, Lexy J.(1990).Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung: PT.Remaja Rosda Karya. Soedarso.(2002). Speed Reading Sistem Membaca Cepat dan Efektif.Jakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama. http://joice92.blogspot.com(2012)teknik-membaca-sq3r.html (diunduh 25 September 2013. pukul19.00 wib).

Jumat, 20 September 2013

ARTIKEL


BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Menulis artikel dan karya ilmiah, kini bukan lagi sekedar hobi tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi kaum intelektual, terutama mereka yang menduduki jabatan fungsional, seperti guru, dosen, peneliti, dan sebagainya. Bagi mereka, menulis artikel di media massa, dan karya ilmiah pada jurnal penelitian, merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan angka kredit untuk menaikan jenjang jabatan fungsionalnya. Bagi mahasiswa, menulis karya ilmiah merupakan kewajiban, sebelum mereka menyelesaikan masa studinya dan di wisuda menjadi seorang sarjana. Namun demikian menulis artikel atau karya ilmiah tidaklah semudah membuat karangan biasa. Ide-ide atau gagasan-gagasan yang ada dalam benak kita, tidak bisa begitu saja kita tuangkan menjadi suatu tulisan artikel atau karya ilmiah. Karena untuk menjadi artikel atau karya ilmiah, apalagi yang dipublikasikan melalui media cetak, ide atau gagasan itu, terlebih dulu harus disesuaikan dengan visi dan misi media cetak yang akan memuatnya, atau harus mematuhi kaidah-kaidah ilmiah dalam prosedur karya tulis ilmiah. Inilah kendala yang selama ini dihadapi oleh para dosen, guru, peneliti dan pejabat fungsional lainnya. Ditambah lagi belum banyak buku panduan atau contoh tulisan yang dapat mereka jadikan rujukan. Menulis artikel pada media massa, dan karya ilmiah pada jurnal ilmiah bagi para guru, dosen, peneliti, mahasiswa dan siapa saja yang berkecimpung di dunia ilmu pengetahuan, memang sangat penting dan dibutuhkan. Ini karena, dengan menulis artikel dan karya ilmiah, mereka akan terus berlatih untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang timbul baik dalam kancah keilmuan, maupun permasalahan sosial yang dihadapi pada kehidupan sosial sehari-hari. Dengan upaya memecahkan permasalahan itulah, daya pikir para guru, dosen, peneliti maupun mahasiswa terus terasah, sementara pemikiran kritis mereka semakin tajam. Ini sangat diperlukan bagi kalangan intelektual untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan. Sebenarnya, seiring dengan menjamurnya bisnis media cetak, kesempatan untuk menulis artikel terbuka semakin lebar. Inilah lahan subur bagi guru, dosen, peneliti, dan sebagainya, untuk berkarya memenuhi angka kredit bagi jenjang jabatan fungsionalnya. Jika karya tulisnya dimuat, selain karya tulisnya memperoleh angka kredit (credit point), juga mendapat honorium dari surat kabar atau majalah yang memuatnya. Ini merupakan penghargaan tambahan yang punya nilai tersendiri. Sayangnya tidak semua artikel bisa menembus media massa. Karena selain gaya penulisan yang harus komunikatif, artikelnya pun harus sesuai dengan misi, visi dan policy media cetak tersebut. Tulisan ini mencoba untuk memberi bekal, terutama bagi para dosen, guru, peneliti dan mahasiswa untuk lebih mengerti dan memahami tentang jenis-jenis artikel, kegunaannya, tata cara penulisan dan yang lebih penting bagaimana memahami policy redaktur media massa, sehingga tulisan artikelnya menjadi layak muat. Ini sangat penting mengingat kebanyakan penulis artikel gagal dimuat hanya karena tulisannya tidak sesuai dengan policy redaktur surat kabar atau majalah yang ditujunya. Demikian juga dengan penulisan karya ilmiah. Banyak para guru, dosen, peneliti yang jenjang jabatan fungsionalnya menjadi macet gara-gara tidak memenuhi KUM, misal jabatan fungsional dosen dari tenaga pengajar ke asisten ahli, lektor, lektor kepala dan guru besar dari unsur penulisan karya ilmiah, terutama dari hasil penelitian memerlukan ketekunan dan kejelian tersendiri, serta panduan orang-orang yang memang sudah sering melakukannya. Bagi mahasiswa, terutama dalam menyelesaikan tugasnya, baik tugas akhir mata kuliah maupun karya dalam mengakhiri studinya seperti skripsi, tesis maupun disertasi. Baik dalam etika penulisannya (aspek metodologi penelitian) maupun pemaparan urgensi masalahnya (teori yang dijadikan acuan pembahasan). B. RUMUSAN MASALAH. Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat disimpulkan rumusan masalah adalah Bagaimana cara menulis artikel dan karya ilmiah dengan benar. C. TUJUAN Secara umum makalah ini bertujuan untuk memperoleh cara membuat tulisan artikel dan karya ilmiah dengan baik. D. MANFAAT Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat, terutama bagi penulis, Mahasiswa dan pembaca. a. Manfaat bagi penulis Manfaat teoritis yaitu menambah wawasan khususnya tentang menulis artikel dan karya ilmiah. b. Manfaat bagi mahasiswa Mahasiswa dapat mengetahui cara penulisan karya ilmiah dengan baik. c. Manfaat bagi pembaca Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam menulis. BAB II PEMBAHASAN A. ARTIKEL Artikel dalam bahasa Inggris ditulis “article”, sedang menurut kamus lengkap Inggris-Indonesia karangan Prof. Drs. S. Wojowasito dan W.J.S. Poerwodarminto, article berarti “karangan”. Sedangkan “artikel” dalam bahasa Indonesia, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti karangan di surat kabar, majalah dan sebagainya. Dalam lingkup jurnalistik, para pakar komunikasi menerjemahkan artikel, berdasarkan sudut pandang masing-masing. Menurut R. Amak Syarifudin (Djuroto dan Bambang, 2003:3-4), artikel adalah suatu tulisan tentang berbagai alat, mulai politik, sosial, ekonomi, budaya, teknologi, olah raga dan lain-lain. Misalnya tulisan mengenai kehidupan kewanitaaan, pemuda, sejarah, film, drama dan sebagainya. Tulisan semacam ini tidak terikat gaya bahasa maupun format tulisan. Tetapi untuk mendapatkan audience-nya, penulis artikel harus pandai mengungkapkan gaya tulisannya, agar tidak membosankan. Penulisan artikel di media massa (surat kabar atau majalah), tidak harus dilakukan oleh wartawannya sendiri, orang luar pun bisa menyumbangkan artikelnya. Dalam prakteknya penulisan artikel pada surat kabar atau majalah kebanyakan dari luar. Sedang menurut Tjuk Swarsono bahwa artikel adalah karangan yang menampung gagasan dan opini penulis, bisa berupa gagasan murni atau memungut dari sumber lain, referensi, perpustakaan, pernyataan orang dan sebagainya. Artikel mengharuskan penulis mencantumkan namanya secara lengkap (by name), sebagai tanggung jawab atas kebenaran tulisannya. Juga Asep Syamsul M. Romli menyebut artikel sebagai subuah karangan faktual (non fiksi), tentang suatu masalah secara lengkap, yang panjangnya tidak ditentukan, untuk dimuat disurat kabar, majalah, bulletin dan sebagainya, dengan tujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau menghibur. Artikel termasuk tulisan ketegori views (pandangan), yaitu tulisan yang berisi pandangan, ide, opini, penilaian penulisnya tentang suatu masalah atau peristiwa. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa semua tulisan di surat kabar atau majalah yang bukan berbentuk berita, bisa disebut artikel. Yang membedakan salah satunya adalah pemuatan artikel tersebut. Jika artikel itu dimuat pada halaman opini, disebut artikel umum. Bila diletakkan di halaman seni dan hiburan dikatakan esai, dan jika dimuat di kolom khusus redaksi, diberi nama tajuk rencana dan sebagainya. Menulis artikel berbeda dengan menulis berita. Kalau berita, apa yang ditulisnya itu harus berdasarkan fakta atas kejadian atau peristiwa yang terjadi. Boleh juga penulisan berita ditambah dengan interpretasi, sepanjang itu diperuntukkan bagi penjelasan fakta. Tetapi menulis berita, sama sekali tidak diperbolehkan memasukkan opini. Untuk mewadahi penyampaian opini masyarakat pada surat kabar atau majalah, disediakan kolom khusus yaitu halaman opini (opinion page). Lantas apakah penulisan artikel harus full opinion? Jawabnya tidak juga. Menulis artikel boleh dimulai dengan pemaparan fakta sebagai data dari apa yang akan ditulisnya. Dari data yang ada itulah penulis bisa memberikan pendapat, pandangan, gagasan, atau bahkan interpretasi dari fakta yang ada pada data tersebut. Agar tidak dibingungkan oleh istilah fakta, interpretasi dan opini, berikut perbedaan ketiga istilah tersebut. Fakta adalah kenyataan yang ada sesuai dengan data yang sebenarnya. Fakta bukan buah pikiran atau pernyataan. Namun demikian, buah pikiran atau pernyataan bisa menjadi fakta asalkan dilatarbelakangi oleh peristiwa yang sebenarnya. Ini disebut dengan fact in idea. Contoh Majelis Ulama Indonesia menyatakan. Bahwa bumbu masak Ajinomoto adalah haram. Pernyataan ini didasarkan pada penelitian mereka, yang menemukan bahan baku pembuatan Ajinomoto terakumulasi lemak babi (kasus Ajinomoto 2000). Penjelasan MUI tersebut meskipun merupakan pernyataan, bisa dianggap sebagai fakta karena pernyataan itu dilandasi dari hasil suatu penelitian. Interpretasi adalah hasil pemikiran berupa penafsiran, pengertian atau pemahaman. Boleh jadi penafsiran, pemikiran atau pemahaman seseorang dengan orang lain akan berbeda. Contoh: Presiden Abdurrahman Wahid, ternyata menyatakan bumbu masak Ajinomoto adalah halal. Meurutnya, lemak babi yang digunakan pada proses pembuatan Ajinomoto tidak menyentuh langsung bahan baku bumbu masak tersebut. Lemak babi hanya berfungsi memisahkan sel-sel pada tetes tebu sebagai bahan baku utama, sehingga tidak langsung menyentuh apalagi bercampur dengan bahan baku Ajinomoto tersebut. Opini adalah pendapat atau pandangan seseorang atau kelompok terhadap masalah atau peristiwa yang terjadi. Contoh pada kasus Ajinomoto tersebut, muncul berbagai pendapat (opini) yang di antaranya menyatakan, bahwa Presiden Abdurarrahman Wahid meng-halal-kan Ajinomoto tersebut karena khawatir kehilangan investasi dari Jepang yang menanamkan modalnya pada perusahaan Ajinomoto tersebut. Dan banyak lagi contoh opini lainnya. Kesimpulannya, menulis berita bida gabungan antara fakta dan interpretasi. Sedangkan ertikel bisa terdiri dari ketiganya, yaitu fakta, interpretasi, dan opini. Penulisan artikel berbeda dengan komentar. Jika komentar tulisannya terfokus untuk menanggapi, atau mengomentari nuansa atau fenomena dari suatu permasalahan yang terjadi. Sedangkan artikel, penulisannya tidak sekadar mengomentari masalah, tetapi bisa juga mengajukan pandangan, pendapat atau pemikiran lain, baik yang sudah banyak diketahui masyarakat maupun yang belum diketahui. Kegunaan artikel bagi penerbit surat kabar atau majalah adalah untuk membedakan pemuatan antara berita (fakta) dan opini. Hampir semua penerbitan surat kabar menyediakan satu halaman. Khusus untuk artikel yang disebut opinion page. Halaman ini memberi kesempatan kepada khalayak pembacanya untuk menyampaikan pendapatnya (opini). Bagi penerbit media massa pengiriman artikel oleh pembacanya, merupakan bukti umpan balik bagi penerbitannya. Bagi pembaca surat kabar atau majalah, halam artikel atau opinion page, dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pandangan, gagasan serta argumentasi dari berita-berita atau situasi yang terjadi dan terekam dalam banaknya. Artikel tidak sekadar sebagai penyampaian tanggapan atas suatu peristiwa yang termuat dalam suatu penerbitan surat kabar atau majalah, tetapi juga untuk kepentingan penulisannya sendiri. Bagi pegawai negeri atau karyawan swasta yang mempunyai jabatan fungsional seperti peneliti, dosen, guru dan sebagainya, artikel di media massa digunakan untuk memenuhi angka kredit bagi kenaikan jabatannya. Kenaikan jabatan fungsional bagi pegawai negeri atau perusahaan swasta, salah satu persyaratannya adalah dengan menulis artikel di media massa. Dalam menulis artikel, memilih judul memerlukan perhatian khusus. Jika judul itu pas dan menarik, redaktur media massa tertarik pula untuk memuatnya. Itulah sebabnya memilih judul dalam penulisan artikel, memerlukan pemikiran, pertimbangan dan penyesuian secara khusus. Ada sebagian penulis yang menentukan judul artikelnya pada akhir dari proses penulisannya. Artinya, setelah semua permasalahan diungkapkan dalam bentuk artikel, baru ia menentukan judulnya. Tetapi ada juga justru sebaliknya, judul ditentukan terlebih dulu baru menulis isinya. Pengalaman saya sebagai penulis, yang pertama dilakukan adalah menentukan topik lebih dulu, kemudian mencari literatur, mengungkapkan permasalahan, baru memilih judul yang tepat. Karena kadang-kadang, dari isi tulisan itulah justru muncul kata-kata yang tepat untuk sebuah judul. Judul sebuah artikel sebaiknya memenuhi kriteria berikut: 1. atraktif dan baru. Artinya judul itu harus bersifat atraktif dan belum pernah dipakai oleh penulis lain. Sebaiknya judul dikaitkan dengan permasalahan inti dari artikel tersebut. Ini akan menarik dan mengundang rasa ingin tahu baik dari pembaca maupun oleh redaktur media massa. 2. tidak panjang. Membuat judul artikel jangan terlalu panjang, sebaiknya terdiri dari subjek dan predikat saja. Apabila ingin judul yang panjang, buatlah judul utama dan sub judul. Judul yang terlalu panjang, selain tidak menarik, juga menghabiskan kolom pada surat kabar, hal ini justru dihindari oleh redaktur media massa. 3. punya relevansi. Judul harus memiliki relevansi dengan isi artikel, sekaligus mencerminkan gagasan sentralnya. Artinya, jika artikel yang ditulis itu tentang dampak ekonomi, maka judulnya jangan berisi masalah ekonomi. Harusnya tentang dampak yang timbul dari gejolak ekonomi yang muncul. Redaktur media massa biasanya mengelompokkan artikel, menjadi beberapa jenis berdasarkan sudut pandang penulis, dalam memaparkan ide atau gagasannya. Pengelompokan ini oleh redaktur dipakai untuk memudahkan penempatan pemuatannya, pada halam yang sesuai dengan misi dan visi penerbitannya. Ada lima jenis artikel antara lain: 1. Eksploratif. Artikel eksploratif adalah artikel yang mengungkapkan fakta berdasarkan kajian penulisnya. Jenis ini cocok untuk menguraikan penemuan baru, misalnya seorang menemukan benda antik peninggalan zaman purba. Penulis artikel kemudian menelusuri sejarah barang yang ditemukan itu dan menguraikannya melalui suatu tulisan artikel. Tulisan ini menurut redaksi dikelompokkan dalam jenis artikel eksploratif. 2. Eksplanatif, artinya menerangkan. Artikel eksplanatif adalah artikel yang isinya memnerangkan sesuatu untuk dapat dipahami pembaca. Misalnya ketika Presiden Gusdur berkeinginan membubarkan parlemen (DPR) dengan sebutan dekrit presiden, mengundang berbagai tanggapan dari pengamat. Penulis artikel yang jeli, membuat artikel dengan menerangkan apa sih sebenarnya dekrit presiden itu, bagaimana caranya dan sebagainya. Jika ada artikel seperti ini disebut artikel ekplanatif. 3. Deskriptif. Deskriptif adalah artikel yang menggambarkan suatu permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, sehingga dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jenis artikel ini mirip dengan laporan atau reportase, bedanya jika laporan atau reportase hanya berdasarkan fakta saja, tetapi artikel, penulisnya bisa memasukan opini untuk memperjelas masalah yang digambarkan itu. Misalnya, ketika terjadi bentrok antara mahasiswa dengan aparat keamanan dalam peristiwa Semanggi di Jakarta, seorang penulis yang kebetulan melihat secara langsung dalam peristiwa itu lantas menggambarkan keadaan yang sesungguhnya dari peristiwa itu, dalam satu bentuk artikel. 4. Prediktif. Prediktif adalah artikel yang berisi perhitungan atau ramalan apa yang bakal terjadi di kemudian hari berdasarkan perhitungan penulisnya. Misal, ketika Bank Indonesia memutuskan suku bunga deposito, seorang pengamat ekonomi memperkirakan atau memprediksikan kelak kemudian hari bakal banyak deposan (orang yang mempunyai simpanan deposito) memindahlan uangnya ke luar negeri. Akibatnya modal dalam negeri banyak yang parkir di luar negeri. Arikel ini disebut artikel prediktif. 5. Preskriptif. Preskriptif adalah artikel yang memberikan tuntunan kepada pembacanya untuk melakukan sesuatu sehingga tidak mengalami kekeliruan atau kesalahan. Misalnya artikel bagaimana caranya mengurus paspor, KTP atau SIM tanpa melalui perantara. Penjelasan detail yang sifatnya menuntun pembaca, sangat diperlukan. B. KARYA ILMIAH Menurut Dr. H. Endang Danial AR., M.Pd. (2001:4) bahwa karya ilmiah adalah berbagai macam tulisan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dengan menggunakan tata cara ilmiah. Tata cara ilmiah adalah suatu sistem penulisan yang didasarkan pada sistem, masalah, tujuan, teori dan data untuk memberikan alternatif pemecahan masalah tertentu. Sedangkan Djuroto dan Bambang (2003:12-13) bahwa karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu masalah. Pembahasan itu dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian, baik penelitian lapangan, tes laboratorium ataupun kajian pustaka. Maka dalam memaparkan dan menganalisis datanya harus berdasarkan pemikiran ilmiah. Pemikiran ilmiah adalah pemikiran yang logis dan empiris. Logis artinya masuk akal, sedangkan empiris adalah dibahas secara mendalam, berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan (dapat dibuktikan). Pemikiran ilmiah pada lingkup keilmuan, terdiri dari dua tingkatan yaitu, tingkat abstrak dan tingkat empiris. Pemikiran ilmiah tingkat abstrak berkaitan dengan penalaran. Pada tingkatan ini, pemikirannya bebas tetapi sedikit terikat dengan waktu atau ruangan. Sedangkan pemikiran empiris berkaitan dengan pengamatan. Kerena berkaitan dengan pengamatan, maka pemikiran empiris ini sangat terkait dengan waktu dan ruangan. Boleh jadi pemikiran empiris ini dilakukan dalam waktu dan ruangan tertentu. Dalam proses pemikiran ilmiah seseorang selalu memulai dengan apa yang disebut pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah, merupakan gabungan dari dua pendekatan yaitu pendekatan induktif dan pendekatan deduktif. Pemahaman terhadap pendekatan induktif dan deduktif ini perlu dilakukan secara bersama, karena hasil yang dicapai dari kedua pendekatan itu berbeda. Pendekatan induktif adalah pengalaman atau pengamatan seseorang pada tingkat empiris, menghasilkan konsep, memodifikasi model hipotesis menjadi teori, dan bermuara di tingkat abstrak. Pendekatan deduktif merupakan titik tolak penalaran serta perenungan di tingkat abstrak, yang menghasilkan pengukuran konsep serta pengujian hipotesis. Karya tulis ilmiah merupakan serangkaian kegiatan penulisan berdasarkan hasil penelitian, yang sistematis berdasar pada metode ilmiah, untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang muncul sebelumnya. Banyak cara untuk menemukan jawaban dari penelitian tersebut. Untuk memperjelas jawaban ilmiah terhadap permasalahan atau pertanyaan yang ada dalam penelitian, penulisan karya ilmiah harus menggali khazanah pustaka, guna melengkapi teori-teori atau konsep-konsep yang relevan dengan permasalahan yang ingin dijawabnya. Untuk itu penulisan karya ilmiah harus rajin dan teliti dalam hal membaca dan mencatat konsep-konsep serta teori-teori yang mendukung karya tulis ilmiahnya. Dalam memberikan jawaban terhadap permasalahan yang timbul pada suatu penelitian, penulisan karya ilmiah harus bisa membuktikan melalui dua cara. Pertama, jawaban itu merupakan jawaban final terhadap permasalahan penelitian. Kedua, jawaban tersebut harus menjadi jawaban yang paling benar, meskipun masih akan dibuktikan lagi pada tahap lainnya. Jawaban pertama erupakan konklusi yang nantinya sangat diperlukan sebagai suatu thesis. Sedangkan jawaban kedua, merupakan konklusi sementara yang nantinya diperlukan sebagai hipotesis. Meskipun jawaban penelitian tersebut sudah didapatkan, penulisan karya ilmiah masih harus membuktikan, apakah jawaban tersebut memang bisa dirasakan kebenarannya. Untuk itu diperlukan sumber informasi lainnya yang mendukung jawaban yang telah didapatkan. Jawaban permasalahan yang ada pada penelitian, bisa mendukung dan juga bisa menolak hipotesis yang ada. Jika jawaban itu mendukung hipotesis maka bisa dikatakan hipotesis diterima, tetapi jika jawabannya tidak mendukung hipotesis, maka disebut hipotesis dalam penelitian ini ditolak. Dengan demikian, penulisan karya ilmiah, hanya bisa dilakukan sesudah timbul suatu masalah, yang kemudian dibahas (dijawab) melalui kegiatan penelitian. Karena berdasarkan hasil penelitian, maka pada akhirnya penulisan karya ilmiah, selalu dikemukakan suatu kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan dimaksudkan sebagai pemikiran terakhir dari proses telaah melalui penelitian, sedangkan rekomendasi diperuntukkan bagi langkah selanjutnya dalam menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan. Kesimpulan atau temuan penelitian, tidak selalu berupa sesuatu halyang baru. Bisa jadi kesimpulan atau temuan dari hasil penelitian itu, merupakan kelanjutan dari kesimpulan atau temuan pada penelitian yang dilakukan sebelumnya. Karena penelitian merupakan suatu proses, maka hasil penelitian itu tidak bisa dikatakan baik atau jelek. Jadi jika ada seseorang menyebut bahwa hasil penelitiannya itu baik atau tidak baik, atau juga menyebut benar atau tidak benar, maka sebutan itu tidak tepat. Yang tepat, sebutan untuk hasil penelitian adalah ukuran signifikansinya (significance) atau meyakinkan. Pada dasarnya semua ilmu ataupun teknologi yang ada di dunia ini, perlu diteliti, ditingkatkan dan dikembangkan fungsi dan peranannya untuk melahirkan perubahan. Karena yang kekal di dunia ini hanya satu, yaitu perubahan. Perubahan yang positif melahirkan kemajuan dan kemajuan inilah yang dituntut oleh ilmu pengetahuan. Tanpa kemajuan, kehidupan di dunia tidak ada artinya sama sekali. Salah satu cara untuk mencapai kemajuan adalah dengan melakukan pengamatan, pengkajian, dan penelitian dari sumber ilmu tersebut yang dituangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah. Salah satu tugas para ilmuwan (scientists) atau para pandit (scolars) adalah memaparkan hasil kajian, pengamatan atau penelitiannya kepada masyarakat luas. Penulisan karya ilmiah diharapkan dapat membantu para cendekiawan untuk menemukan sesuatu yang baru, guna menunjang peningkatan taraf kehidupan masyarakat secara luas. Pada lingkungan perguruan tinggi karya ilmiah berupa skripsi digunakan untuk meraih gelar sarjana (S1), tesis digunakan untuk magister (S2), dan disertasi untuk gelar doktor (S3). Sedangkan bagi pejabat fungsional, karya tulis ilmiah merupakan persyaratan untuk mendapatkan angka kredit bagi kenaikan jabatannya. Sebenarnya kegunaan penulisan karya ilmiah bukan hanya sekadar untuk mendapatkan gelar atau memperoleh kredit pont untuk kenaikan jabatan, tetapi tujuan utama dibuatnya karya tulis ilmiah adalah untuk mendokumentasikan hasil-hasil penelitian yang berhasil mendapatkan atau membuktikan kebenaran ilmiah. Mungkin yang tidak sama adalah gradasi kebenaran ilmiah yang ingin atau berhasil dicapai oleh seseorang. Bagi seorang peneliti profesional, keuntungan yang paling besar dan berharga dari semua karyanya adalah jika ia menemukan kebenaran ilmiah yang kemudian dibukukan. Penemuan kebenaran ilmiah yang kemudian dibukukan dalam karya tulis ilmiah ini bertujuan adalah (1) pengakuan scientific objective untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, dengan pemaparan teori-teori baru yang sahih serta terandalkan, (2) pengakuan practicial objective guna membantu pemecahan problema praktisi yang mendesak. Judul adalah kepala karya tulis ilmiah, sedangkan topik adalah pokok-pokok permasalahan yang akan dijadikan objek dalam penelitian sebagai bahan utama penulisan karya ilmiah. Jadi topik bisa diangkat menjadi judul, tetapi sebaliknya judul bukan merupakan topik bahasan. Judul dalam suatu karya tulis ilmiah adalah ciri atau identitas yang menjiwai seluruh karya tulis ilmiah. Judul pada hakikatnya merupakan gambaran konseptual dari kerangka kerja suatu karya tulis ilmiah. Itu sebabnya, dalam penulisan karya tulis ilmiah tidak bisa memaparkan begitu saja dari apa yang akan ditulis, tetapi harus runtut mengikuti kerangka kerja (framework) dari konsep yang akan dipaparkannya. Judul merupakan kalimat yang terdiri dari kata-kata yang jelas, tidak kabur, singkat, tidak bertele-tele. Pemilihan kata-kata untuk judul sebaiknya saling terkait atau runtut, menggunakan kalimat yang tidak puitis apalagi sampai sensasional. Menurut Sutrisno Hadi (1980), judul mempunyai dua fungsi pokok dalam penulisan karya ilmiah. Bagi pembaca, judul menunjukkan hakikat dari objek penelitian yang dilakukan sebelumnya. Sedangkan bagi penulisnya, judul merupakan patokan dalam menyusun tulisannya. Memilih judul untuk suatu karya tulis ilmiah tidak sebebas membuat judul pada penulisan artikel. Judul karya tulis ilmiah harus disesuaikan dengan topik bahasan yang sudah ditentukan sebelumnya. Jelasnya pada penulisan karya ilmiah tidak bisa langsung menulis baru menentukan judulnya. Ini karena penulisan karya ilmiah terkait dengan kegiatan ilmiah, sementara kegiatan ilmiah sudah dibuat desainnya terlebih dahulu, di mana judul termasuk di dalamnya. Seperti halnya artikel, judul karya tulis ilmiah, sebaiknya tidak terlalu panjang dan jangan juga terlalu pendek. Jika judul terlalu panjang, orang yang membacanya akan kesulitan memahami apa sebenarnya yang ada dalam karya tulis ilmiah tersebut. Itu sebabnya judul yang panjang menjadi tidak menarik. Judul karya tulis ilmiah sebaiknya terdiri dari delapan sampai dua belas kata yang merupakan hubungan dua variabel atau lebih. Pada prinsipnya semua karya tulis ilmiah itu sama yaitu hasil dari suatu kegiatan ilmiah. Yang membedakan hanyalah materi, susunan, tujuan serta panjang pendeknya karya tulis ilmiah tersebut. Untuk membedakan jenis atau macam karya tulis ilmiah dipakai beberapa sebutan, seperti laporan praktikum, naskah berkala, laporan hasil studi lapangan, texbook, hand out, paper, pra skripsi, tesis dan disertasi. Penentuan jenis atau macam karya ilmiah biasanya disesuaikan dengan keperuntukan karya ilmiah tersebut. Secara garis besar, karya ilmiah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu karya ilmiah pendidikan dan karya ilmiah penelitian. Karya ilmiah pendidikan digunakan sebagai tugas untuk meresume pelajaran, serta sebagai persyaratan mencapai suatu gelar pendidikan yang meliputi (1) paper (karya tulis) adalah karya ilmiah berisi ringkasan atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau ringkasan dari suatu ceramah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya. Tujuannya melatih mahasiswa untuk mengambil intisari dari mata kuliah atau ceramah yang diajarkan. Karena baru tahap untuk latihan, materi tulisannya juga masih sederhana, yaitu hanya berupa catatan poin-poin yang dianggap penting dari mata kuliah atau ceramah tersebut, kemudian dirangkai dalam susunan kalimat menjadi suatu karya tulis agar mudah dimengerti dan dipahami; (2) skripsi adalah karya tulis ilmiah pendidikan yang digunakan sebagai persyaratan mendapatkan gelar sarjana (S1). Istilah skripsi berasal dari kalimat deskripsi (deskription) yang berarti memberikan gambaran tentang suatu masalah yang dibahas dengan memaparkan data serta pustaka untuk menghasilkan kesimpulan. Pembahasan dalam skripsi harus dilakuakn mengikuti pemikiran ilmiah yaitu logis dan empiris; (3) tesis adalah suatu karya ilmiah pendidikan yang diperuntukannya sebagai salah satu persyaratan bagi mahasiswa pascasarjana untuk mendapatkan gelar magister (S2). Istilah tesis berasal dari kata sinthesa (sinthation). Skripsi bertujuan mendeskripsikan ilmu, maka tesis bertujuan mensinthesakan ilmu yang diperoleh dari perguruan tinggi, guna memperluas khazanah ilmu yang didapatkan di bangku kuliah. Perluasan khazanah itu terutama berupa temuan baru hasil dari suatu penelitian. Itu sebabnya penulisan skripsi dan tesis harus berdasarkan hasil penelitian ilmiah; (4) disertasi (dissertation) adalah suatu karya tulis ilmiah yang mempunyai sumbert utamanya berupa penyelidikan laboratorium, atau penelitian lapangan. Jadi disertasi harus menghasilkan suatu temuan baru, baik dari ilmu sosial maupunilmu eksakta. Di kalangan perguruan tinggi, karya tulis ilmiah disertasi merupakan tugas akhir yang dibebankan kepada seorang mahasiswa dari perguruan tingginya untuk meraih gelar doktor. Itu sebabnya seorang doktor harus menemukan sesuatu yang dapat menunjang perkembangan ilmu pengetahuan. Berbeda dengan penulisan skripsi atau tesis yang hanya bersumber dari data dan pustaka saja. Disertasi harus lebih lengkap lagi dengan tiga sumber sekaligus yaitu data lapangan, penelitian laboratorium serta kajian pustaka. Dalam mengungkapkan teori untuk memecahkan permasalahan, disertasi wajib menyatakan dalil-dalil atau teori-teori baru secara ilmiah yang diperolehnya, serta sanggahan terhadap teori lama dan sebagainya. Penemuan teori atau dalil baru inilah sebenarnya yang menunjukkan ciri khas suatu karya tulis ilmiah berupa disertasi. Temuan baru atau teori baru yang dihasilakan oleh suatu disertasi dapat berasal dari disiplin ilmu arau spesialisasi dari penulisnya sendiri atau berasal dari disiplin ilmu lainnya yang dapat menunjang atau membenarkan dalil atau teori baru yang diungkapkannya. Itu sebabnya penulisan disertasi membutuhkan waktu yang panjang, karena harus dapat menemukan dalil atau teori baru. Mahasiswa yang menulis disertasi disebut promovendus, dimana dalam pembuatan karya tulis ilmiah disertasinya itu di bawah bimbingan seorang atau beberapa orang guru besar (profesor) yang mempromotorinya. Para pembimbing inilah yang nantinya harus mempertahankan disertasi promovendus terhadap sanggahan yang akan diberikan oleh para penguji atau guru besar universitas di mana promosi seorang doktor itu dilaksanakan. Karya ilmiah panduan, meliputi: (1) panduan pelajaran (texbook), untuk memberikan panduan (guidance) kepada mahasiswa, dosen atau masyarakat umum yang berminat membuat karya ilmiah, misalnya buku panduan penulisan skripsi, panduan membuat laporan praktek kerja (magang), panduan membuat laporan kuliah kerja lapangan, dan sebagainya; (2) buku pegangan (handbook), bertujuan memberikan petunjuk cara mengoperasionalkan suatu barang yang sudah ada, misalnya buku pegangan mengoperasionalkan pengisian data penelitian dalam komputer, petunjuk penggunaan peralatan laboratorium, petunjuk pembuatan pertanyaan (kuesioner); (3) buku pelajaran (diktat), yakni dibuat oleh guru, dosen atau guru besar untuk mata pelajaran atau mata kuliah yang diajarkannya. Karya ilmiah referensi, meliputi: 1. Kamus. Berisi kata-kata yang mengandung arti yang sama, atau terjemahan kata dari dua bahasa atau lebih, misalnya kamus bahasa Inggris, bahasa Indonesia yang isinya memuat penjelasan lebih detail lagi dari suatu kata. Kamus juga bisa dikelompokkan kata-kata dalam lingkup tersendiri, misal kamus jurnalistik, kamus sosiologi, kamus antropologi, kamus ekonomi, kamus politik, kamus hukum dan sebagainya. Kamus-kamus tersebut biasanya dijadikan referensi bagi pelajar, mahasiswa dan juga masyarakat umum. 2. Ensiklopedia Buku yang berisi berbagai keterangan atau uraian ringkas tentang cerita, ilmu pengetahuan yang disusun menurut abjad atau menurut lingkungan ilmu, misal ensiklopedia ilmu-ilmu sosial, ensiklopedia satwa Indonesia, ensiklopedia flora dan fauna Indonesia dan sebagainya. Karya ilmiah penelitian, yang meliputi: 1. makalah seminar, yang terdiri atas naskah seminar dan naskah bersambung. 2. laporan hasil penelitian. 3. jurnal penelitian. BAB III PENUTUP A. SIMPULAN. Berdasarkan beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan hal-hal berikut: 1. Karya ilmiah harus mengandung kebenaran ilmiah, yakni kebenaran yang tidak hanya didasarkan atas rasio, tetapi juga dapat dibuktikan secara empiris. 2. Prose berpikir ilmiah terdiri atas pengajuan masalah, perumusan hipotesis dan verifikasi data. Sedangkan hasilnya (hasil berpikir ilmiah) disajikan dan ditulis secara sistematis menurut aturan metode ilmiah. 3. Karya ilmiah biasanya ditampilkan dalam bentuk makalah ilmiah, skripsi, tesis, disertasi dan hasil penelitian. Penelitian ilmiah lebih ditujukan untuk pengembangan ilmu dan menguji kebenaran ilmu. Sedangkan makalah ilmiah dapat juga dibuat para mahasiswa di perguruan tinggi dalam rangka penyelesaian studinya. Proses berpikir ilmiah dapat dilakukan melalui pola berpikir deduktif dan berpikir induktif. B. SARAN. Berdasar kesimpulan diatas,diharapkan pembaca dengan membuat artikel dan karya ilmiah dengan baik..

PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN


BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Manusia merupakan makhluk ciptaan tuhan yang memiliki kodrat untuk selalu membutuhkan satu dengan yang lain, dan saling bersama serta mampu menyesuaikan terhadap lingkungannya. Secara harpiah dan kebutuhan, manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain. Dan dalam kondisi apapun manusia mampu memenuhi adaptasi dengan lingkungannya. Namun, didengung – dengungkan, manusia harus mandiri dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Mengenai mandiri, biasanya di tanamkan pada diri seorang anak sejak kecil, dengan bermaksud tidak selalu tergantung pada orang lain. Kalau kata mandiri kita acukan kepada peserta didik, melainkan anak akan merasa jauh dan jenuh karena pada masa anak – anak masih di perlukannya pendekatan. Namun sebaliknya, penyesuaian diri peserta didik maka harus mampu beradaptasi secara tepat terhadap lingkungannya, padahal prospeknya memerlukan proses. Kemandirian dan penyesuaian peserta didik, menunjukan sikap anak untuk tidak selalu terpaku pada guru sekolah atau lingkungan sekolah melainkan juga di luar sekolah. Maka dari itu, makna mandiri dan penyesuaian diri peserta didik mampu member pangaruh pada peserta didik dengan mampu member pengarahan pada peserta didik untuk menjalankannya lebih baik B. RUMUSAN MASALAH Memaknai masalah yang ada, perkembangan dan penyesuaian peserta didik dilihat dari berbagai hal. Maka akan di kaji berdasarkan: a. Perkembangan Kemandirian Peserta didik 1. Pengertian Kemandirian ? 2. Bentuk Kemandirian ? 3. Tingkat dan Karakteristik Kemandirian? 4. Pentingnya kemandirian bagi peserta didik? b. Perkembangan Penyesuaian diri peserta didik 1. Macam-macam penyesuaian diri? 2. Faktor-faktor yang mampengaruhi penyesuaian diri 3. Proses Penyesuaian diri? BAB II PEMBAHASAN A. PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN. 1. Pembahasan. Menurut Chaplin Kemandirian atau Otonomi adalah kebesan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai, dan menetukan dirinya sendiri. Menurut Erikson Kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari identitas ego, yaitu merupakan perkembangan ke arah individualis yang mantap dan berdiri sendiri Pada dasarnya seseoarang melakukan itu semua di dasari atau di tandai dengan kemampuan menetukan nasib sendiri, kreatif, inisiatif, bertanggung jawab, membuat keputusan sendiri tanpa ada pengaru dari orang lain. Maka dari itu pengertian Kemandirian dapat di simpulkan : suatu kondisi dimana seorang memiliki hasrat untuk hidup sendiri, bersaing, dan ingin maju demi keabaikan dirinya sendiri dengan di tompang kemampuan yang dimiliki tanpa adanya pengaruh atau hasutan orang lain. 2. Bentuk – Bentuk Kemandirian. Menurut Robert Havighurst, membedakan kemandirian atas empat bentuk, yaitu : a. Kemandirian emosi, yaitu kemampuan mengontrol emosi sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi orang lain. b. Kemandirian ekonomi, yaitu kemampuan mengatur ekonomi sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang lain. c. Kemandirian intelektual, yaitu kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang di hadapi d. Kemandirian sosial, yaitu kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung pada aksi orang lain. 3. Karaktristik Kemandirian. kemandirian dalam perkembangannya memiliki karakteristiknya hal ini di karenakan perkembangan kemandirian seseorang berlangsung secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan kemandirian tersebut. 4. Pentingnya Kemandirian bagi peserta didik. Pentingnya kemandirian dapat di lihat dari situasi kompleksitas kehidupan dewasa ini, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kehidupan peserta didik, fenomena yang terjadi sudah mendunia di kalangan pendididik yang memerlukan adanya perhatian dari dunia pendidik.Fenomena tersebut kita bisa lihat seperti : tawauran antar pelajar, penyalah gunaan obat- obatan, perlaku menyimpang dan kebiasaan belajar yang kurang baik seperti ( menyontek, membolos , dan mencari soal – soal ujian ) hal itu tidak mencerminkan anak tersebut tidak mandiri dalam hal belajar. Sunaryo Kartadinata dalam hariannya menyebutkan beberapa gejala yang berhubungan dengan permasalahan kemandirian yang perlu mendapat perhatian dunia pendidikan, yaitu : 1. ketergantungan disiplin kepada kontrol luar buakan karena niat sendiri yang ikhlas. 2. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan hidup 3. Sikap hidup konformisi tanpa pemahaman dan konformistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala – gejala tersebut merupakan bagian kendala utama dalam mempersiapkan individu - individu yang mengarungi kehidupan masa mendatang yang semakin komplek dan penuh tantangan, oleh sebab itu, upaya yang harus di lakukan sekolah untuk mengembangkan kemandirian peserta didik, di antaranya adalah : a. Mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis, yang memungkinkan anak merasa di hargai. b. Mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dalam mengambil keputusan dan dalam berbagai kegiatan sekolah c. Memberi kebebasan kepada anak untuk mengkplorasikan lingkungan, mendorong rasa ingin tahu mereka. d. Menerima positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak, tidak membeda – bedakan anak satu dengan yang lain e. Menjalin hubungan yang harmonis dan akrab dengan anak. B. PERKEMBANGAN PENYESUAIAN DIRI. Penyesuaian diri sebagai adaptasi ( adaptation ) Penyesuaian diri lebih mengarah pada fisik, fisiologi, atau biologi, dimana adanya hubungan kepribadian individu dengan lingkungannya. Penyesuain diri sebagai bentuk konformitas ( conformity ) Mengisyaratkan bahwa individu seakan – akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku baik secara moral, sosial maupun emosional Penyesuain diri sebagai usaha penguasaan ( mastery ) Kemampuan penguasaan dalam mengembangkan diri sehingga dorongan, emosi, dan kebiasaan menjadi terkendali dan terarah. Maka makna penyesuaian diri adalah situasi individu untuk mampu melakukan dan menyesuaian berdasarkan keadaan pada lingkungannya. 1. Macam-macam Penyesuaian diri a. penyesuaian diri personal, penyesuaian diri yang di arahkan kepada diri sendiri. b. penyesuain diri moral dan religius, kapasitas untuk memenuhi kehidupan secara efektif dan bermanfaat dalam kehidupan yang baik dari individu. c. penyesuain diri sosial, pola hubungan antara kelompok. d. penyesuaian diri marital atau perkawinan. e. penyesuaian diri jabatan atau vasional, berhubungan erat dengan penyesuaian akademis. 2. Proses Penyesuaian diri. Menurut Schneiders menyatakan ada tiga unsur dalam proses kemandiria, yaitu : a. Motivasi, kekuatan internal yang menyebabkan ketegangan dan ketidakseimbangan dalam organisme b. Sikap terhadap Realitas, sikap yang sehat terhadap realitas dan kontak yang baik sangat diperlukan pada proses penyesuaian diri. c. Pola dasar penyesuaian diri, penyesuaian yang terjadi dalam sehari – hari terdapat suatu pola dasar penyesuaian diri. 3. Penyesuaian Diri yang baik. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik, jika mampu melakukan respons – respons yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Efisien artinya mampu melakukan respon dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Sehat artinya respons – respons yang di lakukannya sesuai dengan hakikat individu, lembaga, atau kelompok antar individu, dan hubungan antar individu dengan penciptanya. Dengan demikian orang di katakan mempunyai penyesuaian diri yang baik adalah individu yang telah belajar bereaksi terhadap dirinya dan lingkungannya dengan cara – cara yang matang, efisien, memuaskan dan sehat serta mampu menciptakan hubungan antar pribadi dan kebahagiaan yang mengandung realisasi dan perkembangan kepribadian secara terus – menerus. BAB III PENUTUP A. SIMPULAN Perkembangan kemandirian dan penyesuaian diri peserta didik, hendaknya di lakukan secara continue dan bertahap pada peserta didik. Karena pada dasarnya anak didik belum paham betul mengenai bagaimana kemandirian dan penyesuaian diri yang baik dan yang perlu di lakukan guna menunjang sikap disiplin pada diri seorang anak. Kemampuan untuk mandiri dan penyesuaian diri harus di berikan pada anak didik, hal ini bertujuan anak mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan anak. Kemandirian merupakan suatu sikap yang di lakukan seseorang untuk hidup sendiri tanpa mencari bantuan dari orang lain yang di tunjang dengan keterampilan yang di milikinya. Sehingga seorang merasa bahagia dengan apa yang dilkukannya dalam mencapai hidupnya, namun penyesuaian diri yang dilalkukan anak perlu di perhatikan guna menunjang kemandirian yang berhasil. Penyesuaian diri merupakan seseorang mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Maka dari hubungan semua itu harus di ketahui mengenai bentuk, tingkat dan karakteristik serta pentingya kemandirian bagi dirinya dan mampu mengaplikasikan proses dan penyesuaian diri yang baik. B. SARAN Mengenai apa yang telah di bahas di atas, tentunya kemandirian dan penyesuaian diri sangat berguna bagi peserta didik agar dapat menjaungkau dunia luar yang akan di hadapi sudah memiliki arahan dan tujuan. Maka untuk itu perlunya adanya kemnadirian dan penyesuaian yang harus di tanamkan pada peserta didik tapi jangan membuat kita sadar akan butuhnya sebagai sesama manusia dengan menjalin sosial, kekerabatan dan peduli yang tinggi.

Aspek-Aspek Dalam Membaca


KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul ”Hubungan membaca dengan menulis” .Makalah ini diajukan untuk memenuhi Tugas mata kuliah Membaca 2. Penulis dalam menyusun makalah ini banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak terutama kepada Ibu Adisti primi wulan,M.Pd Selaku dosen pengasuh mata kuliah Membaca 2. Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan makalah ini. Namun, apabila masih terdapat kekurangan, penulis mohon maaf. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang besifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Pontianak, Juni 2013 Penulis. `DAFTAR ISI Kata pengantar................................................................................................... i Daftar isi............................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang....................................................................................... 1 B. Rumusan masalah................................................................................ 2 C. Tujuan .................................................................................................... 2 D. Manfaat ................................................................................................. 2 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian membaca............................................................................... 3 B. Tujuan membaca..................................................................................... 3 C. Aspek-aspek dalam membaca.............................................................. 3 D. Hubungan Membaca Dengan Menulis................................................ 6 BAB III PENUTUP A. kesimpulan................................................................................................ 7 B. saran.......................................................................................................... 7 DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Membaca merupakan sebuah proses kegiatan untuk memperoleh informasi. Dengan membaca kita dapat mengetahui sesuatu yang belum kita ketahui, membaca juga memberikan wawasan yang luas terhadap pengetahuan kita. Begitu banyak manfaat membaca, namun kegiatan ini sangat sulit untuk di jadikan rutinitas sehari-hari. Membaca mempunyai peranan sosial yang amat penting dalam kehidupan manusia sepanjang masa. Yang dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan informasi, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. (Goodman, 1982; Smith, 1988), pembaca fasih menciptakan hipotesis terhadap teks yang akan mereka baca didasarkan pada apa yang sudah mereka baca, pengetahuan mereka dalam bidang itu, dan pengetahuan mereka akan bahasa, dan hanya menggunakan aspek tercetak yang mereka perlukan untuk menegaskan hipotesis mereka itu. Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini maka sang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktek yang banyak dan teratur. Hunting (1967) memaparkan riset untuk disertasi yang menunjukkan bahwa kuantitas tulisan tidak berkaitan dengan kualitas tulisan. Banyak sekali kajian yang menunjukkan bahwa meningkatnya kuantitas tulisan tidak mempengaruhi kualitas tulisan. Nah, tentang gaya tulisan berasal dari membaca bukan dari menulis, sejalan dengan yang diketahui tentang kemahiran berbahasa. Kemahiran berbahasa diperoleh melalui masukan (input), bukan keluaran (output), dari pemahaman, bukan hasil. Dengan demikian, jika Anda menulis satu halaman sehari, gaya tulisan Anda tidak akan meningkat. B. Rumusan masalah a. Apakah pengertian membaca dan menulis? b. Apakah tujuan dari membaca dan menulis? c. Bagaimana hubungan antara membaca menulis? C. Tujuan penulisan Disamping untuk memenuhi tugas mata kuliah Membaca 2, tujuan saya menyusun makalah ini yaitu untuk Mempelajari hubungan keterampilan membaca dengan menulis. D. Manfaat Penulisan. Penyusunan makalah ini tentunya saya harapkan dapat bermanfaat bagi kita semua dalam memperluas pengetahuan mengenai keterampila membaca. Khususnya bagi mahasiswa, semoga dapat dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri dan meningkatkan kualitas membaca. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian membaca Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan dan informasi, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (written word)dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna. ( Anderson 1972 : 209-210 ). B. Tujuan membaca Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. C Aspek-Aspek Dalam Membaca Secara garis besarnya terdapat dua aspek penting dalam membaca, yaitu: 1. Keterampilan yang bersifat mekanis (mechanical skills) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih rendah (lower order). Aspek ini mencakup: a. Pengenalan bentuk huruf. b. Pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem/grofem, kata, frase, pola klause, kalimat,dll) c. Kecepatan membaca bertaraf lambat. 2. Keterampilan yang bersifat pemahaman (comprehension skills) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi (higher order). Aspek ini mencakup: a. memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal). b. memahami signifikansi atau makna. c. evaluasi atau penilaian (isi, bentuk). d. Kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan. Di tinjau Dari Segi Terdengar Atau Tidaknya Suara Dalam Membaca. Maka proses membaca dibagi atas: 1. Membaca Nyaring Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran dan perasaan seorang pengarang. Membaca nyaring yang baik menuntut agar si pembaca memiliki kecepatan mata yang tinggi serta pandangan mata yang jauh, karena dia haruslah melihat pada bahan bacaan untuk memelihara kontak mata dengan para pendengar. 2. Membaca dalam hati Pada saat membaca dalam hati, kita hanya mempergunakan ingatan visual (visual memory), yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan. Tujuan utama membaca dalam hati (silent reading) adalah untuk memperoleh informasi.(Cole 1950 : 244-245). Membaca dalam hati dibagi menjadi 2, yaitu: a. Membaca Ekstensif Membaca ekstensif berarti membaca secara luas. Obyeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin.oleh karena itu yang menjadi tujuan dan tuntutan kegiatan membaca ekstensif adalah untuk memahami isi ang penting-penting dengan cepat dan dengan demikian membaca secara edisien dapat terlaksana.( Broughton cs 1978 : 92 ). Membaca ekstensif terbagi menjadi tiga, yaitu : 1. Membaca survei Sebelum kita mulai membaca maka biasanya kita meneliti terlebih dahulu apa-apa yang akan kita telaah. Kita mensurvei bahan bacaan yang akan dipelajari, yang akan ditelaah, dengan jalan : memeriksa, meneliti indeks-indeks daftar kata-kata yang terdapat dalam buku-buku, judul-judul bab yang terdapat dalam buku-buku yang bersangkutan. 2. Membaca sekilas Membaca sekilas atau skimming adalah sejenis membaca yang membuat mata kita bergerak dengan cepat melihat, memperhatikan bahan bahan tertulis untuk mencari serta mendapatkan informasi, penerangan. Ada tiga tujuan utama dalam membaca sekilas, yaitu: a. Untuk memperoleh suatu kesan umum dari suatu buku atau artikel, tulisan singkat. b. Untuk menemukan hal tertentu dari suatu bahan bacaan. c. Untuk menemukan/menempatkan bahan yang diperlukan dalam perpustakaan. 3. Membaca dangkal Membaca dangkal atau superficial reading pada dasarnya bertujuan untuk memperoleh pamahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca superficial ini biasanya dilakukan bila kita membaca demi kesenangan, membaca bacaan ringan yang mendatangkan kebahagiaan diwaktu senggang. Misalnya cerita pendek, novel ringan dan sebagainya.(Broughton 1978 : 92 ) . B. Membaca intensif Yang dimaksud dengan membaca intensif atau intensive reading adalah studi seksama, telaah teliti, dan penanganan. Kuesioner, latihan pola-pola kalimat, latihan kosa kata, telaah kata-kata, dikte dan diskusi umum merupakan bagian dan teknik membaca intensif. ( Brooks 1964 : 172-173 ). D. Hubungan Membaca Dengan Menulis. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak/ mendengarkan bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita membaca dan menulis. Berikut ini merupakan hubungan membaca dengan menulis. Seorang politikus inggris abad ke-18, Gordon Smith menyatakan bahwa: “Membaca tampa menulis, ibarat harta menumpuk tanpa dimanfaatkan. Menulis tanpa membaca, ibarat mengeruk air dari sumur kering. Tidak membaca dan tidak menulis, ibarat ibarat orang tak berharta jatuh kedalam sumur penuh air.” Jadi jelas sekali hubungan membaca dengan menulis tersebut sangat berkaitan. BAB III PENUTUP A. Simpulan Bedasarkan dari kegiatan membaca yang saya lakukan, ternyata banyak hal yang dapat saya pelajari maupun yang saya ketahui. Saya dapat mengatasi bagaimana cara menyikapi kesulitan atau kendala pada saat membaca, saya juga dapat belajar bagaimana cara bebicara dihadapan orang banyak dengan baik, sehingga apa yang saya sampaikan dapat dipahami oleh pendengar. B. Saran Pada saat kita membaca hendaknya kita mengetahui hal-hal apa yang dapat menghambat kegiatan membaca kita, kemudian kita belajar untuk mengatasinya. Begitu juga dengan menginformasika hasil bacaan, kita harus belajar bagaimana cara menginfomasikan hasil bacaan yang kita baca dengan baik, sehingga pesan yang kita sampaikan dapat dipahami oleh para pendengar. DAFTAR PUSTAKA Tarigan, henry gutur. 1979. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: FKSS-IKIP. Kuncoco, mudrajad. 2009. Mahir Menulis. Yogyakarta: Erlangga. Tarigan, Henry Guntur. 1987. MEMBACA. Bandung : ANGKASA. Tarigan, Henry Guntrur . 1982 .MENULIS.Bandung : ANGKASA.

Analisis Tentang Teori Pengajaran Bahasa


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Selama pemerolehan bahasa pertama, Chomsky menyebutkan bahwa ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya. Proses yang dimaksud adalah proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) secara tidak disadari. Kompetensi ini dibawa oleh setiap anak sejak lahir. Meskipun dibawa sejak lahir, kompetensi memerlukan pembinaan sehingga anak-anak memiliki performansi dalam berbahasa. Performansi adalah kemampuan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Performansi terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses penerbitan kalimat-kalimat Pendekatan yang telah lama diterapkan dalam pembelajaran bahasa, antara lain ialah pendekatan tujuan dan pendekatan struktural. Kemudian menyusul pendekatan yang dipandang lebih sesuai dengan hakekat dan fungsi bahasa, yakni pendekatan komunitatif dan pendekatan terpadu. Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar mengajar, yang harus dipikirkan dan ditetapkan terlebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa, yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai seperangkat kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus diutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu pembelajaran bahasa perlu dititik beratkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, morfologi, dan sintaksis. Dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting, jelas, bahwa aspek kognitif bahasa diutamakan. Disamping kelemahan, pendekatan ini juga memiliki kelebihan. Dengan pendekatan struktural siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang permasalahan tersebut, dappat dirumuskan beberapa rumusan masalah, yaitu : 1. Apa yang dimaksud dengan teori behavioristik,natavistik,kognivistik dan kontrukvistik? 2. Metode apa saja yang mendukung dalam pemerolehan bahasa? 3. Apa saja pendekatan dalam pengajaran bahasa? 4. Apa-apa saja prinsip dasar,teknik,tahap,hasil pendekatan dalam pengajaran bahasa? 5. Apa yang dimaksud community language learning,total physical respone,the natural approach,the silent way, suggestopedy? 6. Bagaimana belajar bahasa kedua juka dilihat dari kemunculannya metode tradisional? C. Tujuan supaya mahasiswa mengetahui tentang teori-teori,metode,dan pendekatan penggunaan bahasa pertama maupun bahasa kedua. Didalam makalah ini terdapat banyak teori supaya kita bisa mengenal serta mengetahui apa saja yang bisa kita peroleh untuk kita pelajari dalam pemerolehan bahasa dan kita juga dapat memperoleh pengetahuan yang luas. Didalam pemerolehan bahasa ini terdapat pendekatan yaitu pendekatan tujuan dan pendekatan struktural yang akan membantu kita dalam menganalisis pendekatan dalam pengajaran bahasa untuk pemerolehan bahasa pertama maupun kedua. D.Manfaat Berdasarkan paparan diatas maka manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah : Bagi masyarakat umum makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan untuk memberi informasi tentang bagaimana Teori pemerolehan bahasa dan bentuk-bentuk implementasi dalam proses pembelajaran. Bagi mahasiswa khususnya calon pendidik, makalah ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam mempelajari Teori pemerolehan bahasa dan bentuk-bentuk implementasi dalam proses pembelajaran. BAB II PEMBAHASAN A. Analisis Tentang Teori Pengajaran Bahasa. 1. Teori Behavioristik Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat. Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: a. Reinforcement and Punishment. b. Primary and Secondary Reinforcement. c. Schedules of Reinforcement. d. Contingency Management. e. Stimulus Control in Operant Learning. f. The Elimination of Responses. Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran. Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme. Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni : 1. hukum efek hukum efek. 2. hukum latihan. 3. hukum kesiapan. Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon. Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner. Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang memengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping. Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu: a. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara. b. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama. c. Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan sebagai stimulus agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif sebagai stimulus harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar sehingga ia melakukan kesalahan dikurangi bukan malah ditambah dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons. Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau pembelajar. Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi. Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka. Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar. 2. Teori Natavistik Nativisme berasal dari kata Nativus yang berarti kelahiran. Teori ini muncul dari filsafat nativisma (terlahir) sebagai suatu bentuk dari filsafat idealisme dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh hereditas, pembawaan sejak lahir, dan faktor alam yang kodrati. Pelopor aliran ini adalah Arthur Schopenhauer seorang filosof Jerman yang hidup tahun 1788-1880 dan Noam Chomsky pada awal tahun 1960. Teori nativisme terbentuk sebagai bantahan terhadap teori behavioris.Nativisme berpendapat bahwa dalam proses pemerolehan bahasa pertama, anak perlahan menggunakan kemampuan lingualnya yang telah terprogram secara genetis. Sehingga menurut para pakar teori ini, lingkungan tidak mempunyai pengaruh dalam proses pemerolehan bahasa. Chomsky mengatakan bahwa bahasa terlalu kompleks untuk dipelajari dalam waktu dekat melalui metode imitation. Sehigga ia menegaskan bahwa bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, karena: a. Perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan genetik, pola perkembangan bahasa berlaku universal, dan lingkungannya hanya memiliki peran kecil dalam proses pematangan bahasa. b. Bahasa dapat dikuasai dalam waktu singkat, tidak bergantung pada lamanya latihan seperti pendapat kaum behaviorisme. Melalui teori ini Arthur Schopenhauer juga menegaskan bahwasannya yang buruk akan menjadi buruk dan yang baik akan menjadi baik tanpa terpengaruh lingkungan yang ada. Salah satu kontribusi praktis dari teori-teori nativis ini adalah tentang sistem bahasa anak-anak bekerja. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bahasa anak-anak pada tingkatan manapun adalah suatu sistem yang diakui. Perkembangan linguistik anak-anak bukanlah proses semakin berkurangnya struktur-struktur yang tidak tepat bukan sebuah bahasa dimana tahap sebelumnya mengandung lebih banyak kekeliruan ketimbang tahap selanjutnya. Justru, bahasa anak-anak disetiap tahap adalah sistematis, dalam arti anak-anak secara bertahap membentuk hipotesis-hipotesis itu dalam percakapan. Ketika bahasa mereka berkembang maka hipotesis-hipotesis tersebut direvisi terus menerus, dibentuk ulang atau ditinggalkan. Kajian nativis mengenai pemerolehan bahasa anak menghasilkan sebuah hipotesis tentang tata bahasa bebas-susun pada bahasa anak-anak, walaupun tata bahasa semacam itu masih masih sangat didasarkan pada data empiris. perkembangan dan kemampuan berbahasa merupakan pembawaan sejak lahir/bakat. Teori ini muncul dari filsafat nativisme ( terlahir ) sebagai suatu bentuk dari filsafat idealisme dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan dan pemerolehan bahasa anak ditentukan dan diperolah oleh hereditas, pembawaan sejak lahir, dan factor alam yang kodrati. Teori ini dipelopori oleh filosof Jerman Arthur Schopenhauer (1788-1860) yang beranggapan bahwa faktor pembawaan yang bersifat kodrati tidak dapat diubah oleh alam sekitar atau pendidikan. Dengan tegas Arthur Schaupenhaur menyatakan yang jahat akan menjadi jahat dan yang baik akan menjadi baik. Teori ini sebagai lawan dari teori behavioristik yaitu .kemampuan berbahasa seorang anak diperoleh dari lingkungan yang membentuk seorang anak tersebut. Teori ini memberikan dasar bahwa suatu keberhasilan TIDAK ditentukan oleh faktor pendidikan dan lingkungan yang ada pada anak tersebut Kemampuan berbahasa ditentukan oleh anak itu sendiri. Lingkungan sekitar tidak ada, artinya sebab lingkungan itu tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Kemampuan berbahasa seorang anak dapat dipengaruhi oleh beberapa fator intern diantaranya : 1. Faktor genetic, Adalah faktor gen dari kedua orangtua yang mendorong adanya suatu bakat yang muncul dari diri manusia. Contohnya adalah Jika kedua orangtua anak itu adalah seorang penyanyi maka anaknya memiliki bakat pembawaan sebagai seorang penyanyi yang prosentasenya besar. 2. Faktor Kemampuan Anak, Adalah faktor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi yang terdapat dalam dirinya. Faktor ini lebih nyata karena anak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Contohnya adalah Ketika ada kegiatan ekstra kulikuler pidato anak tersebut tertarik untuk mengikuti guna mengembangkan bakat yang ada pada dirinya. 3. Faktor pertumbuhan Anak, Adalah faktor yang mendorong anak mengetahui bakat dan minatnya di setiap pertumbuhan dan perkembangan secara alami sehingga jika pertumbuhan anak itu normal maka dia kan bersikap enerjik, aktif, dan responsive terhadap kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, jika pertumbuhan anak tidak normal maka anak tersebut tidak bisa mngenali bakat dan kemampuan yang dimiliki. Kelebihan dan Kekurangan Teori Nativistik. Kelebihan. a. Mampu memunculkan bakat yang dimiliki Dengan teori ini diharapkan manusia bisa mengoptimalkann bakat yang dimiliki dikarenakan telah mengetahui bakat yang bisa dikembangkannya. Dengan adanya hal ini, memudahkan manusia mengembangkan sesuatu yang bisa berdampak besar terhadap kemajuan dirinya. b. Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi. Jadi dengan teori ini diharapkan setiap manusia harus lebih kreatif dan inovatif dalam upaya pengembangan bakat dan minat agar menjadi manusia yang berkompeten sehingga bisa bersaing dengan orang lain dalam menghadapi tantangan zaman sekarang yang semakin lama semakin dibutuhkan manusia yang mempunyai kompeten lebih unggul daripada yang lain. c. Mendorong manusia dalam menetukan pilihan. Adanya teori ini manusia bisa bersikap lebih bijaksana terhadap menentukan pilihannya, dan apabila telah menentukan pilihannya manusia tersebut akan berkomitmen dan berpegang teguh terhadap pilihannya tersebut dan meyakini bahwa sesuatu yang dipilihnya adalh yang terbaik untuk dirinya. d. Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang. Teori ini dikemukakan untuk menjadikan manusia berperan aktif dalam pengembangan potensi diri yang dimilii agar manusia itu memiliki ciri khas atau ciri khusus sebagai jati diri manusia. e. Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki. Dengan adanya teori ini, maka manusia akan mudah mengenali bakat yang dimiliki, dengan artian semakin dini manusia mengenali bakat yang dimiliki maka dengan hal itu manusia dapat lebih memaksimalkan bakatnya sehingga bisa lebih optimal. Kekurangan. Teori ini memiliki pandangan seolah-olah sifat manusia tidak bisa diubah karena telah ditentukan oleh sifat turunannya. Bila dari keturunan baik maka akan baik dan bila dari keturunan jahat maka akan menjadi jahat. Jadi sifat manusia bersifat permanen tidak bisa diubah. Teori ini memandang pendidikan sebagai suatu yang pesimistis serta mendeskreditkan golongan manusia yang kebetulan memiliki keturunan yang tidak baik. Bentuk-bentuk Implementasi dalam Pembelajaran. Implikasi teori Nativisme terhadap pendidikan/pembelajaran yaitu kurang memberikan kemungkinan bagi pendidik dalam upaya mengubah kepribadian peserta didik. Berdasarkan hal itu peranan pendidikan atau sekolah sedikit sekali dapat dipertimbangkan untuk dapat mengubah perkembangan peserta didik. Akan tetapi hal yang demikian justru bertentangan dengan kenyataan yang kita hadapi, karena sudah ternyata sejak zaman dahulu hingga sekarang orang berusaha mendidik generasi muda, karena pendidikan ituhal yang dapat, perlu, bahkan harus dilakukan. Jadi konsepsi Nativisme ini tidak dapat dipertahankan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Para penganut aliran nativisme berpandangan bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan bahwa “yang jahat akan menjadi jahat, dan yang baik menjadi baik. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak sendiri dalam proses belajarnya. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Penganut pandangan ini menyatakan bahwa jika anak memiliki pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya apabila mempunyai pembawaan baik, maka dia menjadi orang yang baik. Pembawaan buruk dan pembawaan baik ini tidak dapat dirubah dari kekuatan luar. 3. Teori Kognivistik Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Istilah kognitif sendiri banyak dipopularkan oleh piaget dengan teori perkembangan kognitifnya, yang sebenarnya telah dikembangkan oleh Wilhelm Wundut (Bapak Psikologi). Menurut Wundut kognitif adalah sebuah proses aktif dan kreatif yang bertujuan membangun struktur melalui pengalaman-pengalaman. Wundut percaya bahwa pikiran adalah hasil kreasi para siswa yang aktif dan kreatif yang kemudian disimpang di dalam memori. Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. a. Tokoh-tokoh Teori Belajar Kognitivistik. 1. Jean Piaget (perkembangan kognivistik). Salah satu cara mengidentifikasi seorang teuritisi adalah dengan melihat variabel perantara yang dipostulasikan. Piaget menggunakan skema sebagai variabel perantara favoritnya. Skemata lebih umum sifatnya daipad kognisi yang kita bahas sejauh ini. Skemata adalah cara mempersepsi, memahami, dan berpikir tentang dunia. Skemata mencakup beberap jenis antisipasi , terkait dengan cara berlangsungnya suatu peristiwa pada umunya. Pembentukan dan perubahan skemata ini menjadi hakikat perkembangan kognitif. Tentu saja, seorang anak mamiliki skemata yang relevan dengan bermacam-macam jenis topik, dan jumlahnya semakin banyak ketika anak mendekati masa dewasa. Piaget terutama tertarik dengan skemata-skemata yang terkait dengan dunia fisik. Skemata bisa berubah dan perubahan seperti itu penting artinya dalam perkembangan kognitif. Proses berubahnya skemata disebut akomodasi. Ketika seorang anak atau siapa saja, memiliki pengalaman yang tidak konsisten dengan suatu skema, maka skema tersebut cenderung berubah untuk mengakomodasi input baru ini. Sebagai contoh, lumrah bagi anak-anak sekitar usia 6 tahun untuk menjalankan skema bahwa benda yang bobotnya ringan akan mengapung dan benda yang bobotnya berat akan tenggelam. Ketika mereka diminta untuk membuat prediksi terhadap kayu dan logam, mereka menunjuk bahwa bahwa sebuah balok kayu yang besar (dan bobotnya yang berat) akan tenggelam, sementara sebatng logam kecil akan mengapung. Namum demikian ketika mereka berulang-ulang melihat prediksi mereka terbukti keliru, skema mereka menjadi semakin sulit dipertahankan. Secara bertahap mereka pun mulai meraba-raba skema baru yang lebih memadai. Untuk sementara mereka mungkin sampai pada skemata spesifik seperti bahwa kayu mengapung, sementara logam dan batu tenggelam. Pada akhirnya mereka sampai pada suatu skema baru yang bersifat sederhana dan umum seperti skema lainnya. Proses akomodasi yang digunakan anak-anak untuk memperbaiki skemata mirip dengan yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memperbaiki skemata mereka mirip dengan yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memperbaiki skemata teknis mereka. Dan memang, persoalan mengenai bagaiman membedakan secara konsisiten antara benda yang mengapung dan tenggelam pada masanya dulu juga merupakan persoalan para ilmuwan sebagaimana halnya sekarang menjadi persoalan anak-anak. Menurut Suhaidi Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap: Tahapan pertama disebut sensori motor. Tahapan ini berlangsung sejak lahir sampai usia 2 tahun. Selama periode ini anak membentuk konsepsi-konsepsi paling dasar mengenai hakikat dunia material. Ia pembelajaran bahwa sebuah objek yang menghilang bisa muncul kembali. Ia pembelajaran bahwa objek tertentu adalah objek yang sama meskipun terlihat lain sekali ketika dipandang dari sudut yang berbeda atau dalam terang cahaya yang berbeda. Ia menemukan bagaimana tindakannya bisa mempengaruhi objek-objek dan memperoleh pemahaman paling dasar mengenai sebab akibat. Dengan demikian dunianya pun semakin ia pahami sebagai suatu susunan rapi yang terdiri atas benda-benda yang bersifat permanen. Tahapan kedua adalah tahapan praoperasional. Berlangsung dari usia 2 tahun sampai 7 tahun. Pada tahapan ini anak mulai memperlihatkan efek yang dihasilkan dari pembelajaran bahasa. Ia mampu mempersentasikan benda dan kejadian secara simbolis ; ia bukan hanya berbuat sesuatu pada mereka. Anak memiliki representasi internal mengenai benda-benda sebelum ia memiliki kata-kata untuk mengungkapkannya. Representasi internal ini membuat anak lebih fleksibel dalam menghadapi dunia secara adaptif, dan dengan melekatkan kata-kata pada benda itu membuat ia memiliki kekuatan yang lebih besar melalui komunikasi. Tahapan ketiga adalah operasi konkret, yang berlangsung dari sekitar usia 7 sampai 11 tahun. Tahapan ini menunjukkan adanya peningkatan fleksibilitas yang melebihi tahapan praoperasional. Jenis-jenis yang terkandung dalam tahapan ini menvakup upaya mengklasifikasi, mengkombinasi, dan membandingkan. Anak dalam tahapan operaso konret bisa menangkap hubungan yang ada di antara hierarki-hierarki istilah, seperti bangau, burung, dan makhluk hidup. Tidal seperti anak praoperasional, ia tahu bahwa operasi-operasi bisa mengalami pembalikan urutan. Apa yang di tambah, bisa dikurangi, dan materi tertentu yang telah berubah bentuknya bisa dipulihkan ke bentuk semula. Seorang anak pada tahapan ini tidak akan membuat kekeliruan seperti yang dibuat oleh anak praoperasional yang mungkin berkata: “ Aku pumya saudara, tapi dia tidak punya saudara”! sebagaimana halnya tahapan praoperasional bisa dikaitkan dengan awal tumbuhnya bahasa, begitu pula tahapan operasi konret bisa dikaitkan dengan permulaan sekolah. Tahapan keempat dan terakhir adalah operasi formal, yang berawal dari sekitar usia 11 tahun berupa peningkatan cara berpikir abstrak yang berlangsung hingga sekitar usia 16 tahun. Pada tahapan ini kapasitas anak untuk melakukan manipulasi simbolis mencapai puncaknya. Meski anak-anak pada tahapan sebelumnya sudah mampu malakukan sejumlah operasi logika, mereka melakukannya dalam konteks situasi konret. Sekarang orang tersebut bisa memandang persoalan-persoalan secara abstrak. Ia bisa menilai validitas silogisme menurut struktur formalnya, terlepas dari isinya. Ia bisa mengeksplorasi berbagai macam cara untuk merumuskan suatu masalah dan melihat apa konsekuensi logisnya. Ia siap berpikir menurut proposisi-proposisi abstrak yang sesuai dengan dunia nyata yang ia amati. Ketika anak melewati satu tahapan ke tahapan lainnya, skematanya mengalami perubahan dengan mengakomodasi pengalaman-pengalaman baru. Pada masing-masing tahapan ia berusaha untuk mengasimilasikan pengalaman-pengalaman baru itu ke dalam skematanya yang sudah ada, namun seringkali ia menemukan kesenjangan. Suatu kesenjangan miungkin akan membuat ia bingung, namun serangkaian kesenjangan akan secara bertahap menghasilkan akomodasi dan mengubah skema yang relevan menuju tahapan berikutnya. 2. Teori Jerome Bruner (Discovery Learning). Dasar dari teori Bruner adalah ungkapan Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif belajar di kelas. Konsepnya adalah belajar dengan menemukan (discovery learning), siswa mengorganisasikan bahan pelajaran yang dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan berpikir anak. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses penemuan personal (personal discovery) oleh setiap individu murid. Inilah tema pokok teori Bruner. Guru harus memberikan keleluasaan kepada siswa untuk menjadi pemecah masalah (problem solver). Biarkan siswa menemukan arti hidup bagi dirinya sendiri dan memungkinkan mereka mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa mereka sendiri. Siswa di dorong dan disemangati untuk belajar sendiri melalui kegiatan dan pengalaman. Peran guru terutama untuk menjamin agar kegiatan belajar menimbulkan rasa ingin tahu (kuriositas) siswa, meminimalkan resiko kegagalan belajar dan agar belajar relevan dengan kebutuhan siswa. Bruner meyakini bahwa pembelajaran tersebut bisa muncul dalam tiga cara atau bentuk, yaitu: enaktif, ikonik dan simbolik. Pembelajaran enaktif mengandung sebuah kesamaan dengan kecerdasan inderawi dalam teori Piaget. Pengetahuan enaktif adalah mempelajari sesuatu dengan memanipulasi objek -melakukan pengatahuan tersebut daripada hanya memahaminya. Pembelajaran ikonik merupakan pembelajaran yang melalui gambaran. dalam bentuk ini, anak-anak mempresentasikan pengetahuan melalui sebuah gambar dalam benak mereka. Anak-anak sangat mungkin mampu menciptakan gambaran tentang pohon mangga dikebun dalam benak mereka, meskipun mereka masih kesulitan untuk menjelaskan dalam kata-kata. Pembelajaran simbolik, ini merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui representasi pengalaman abstrak (seperti bahasa) yang sama sekali tidak memiliki kesamaan fisik dengan pengalaman tersebut. Tujuan pokok pendidikan menurut Bruner adalah guru harus memandu para siswanya sehingga mereka dapat membangun basis pengetahuannya sendiri dan bukan karena diajari melalui memorisasi hafalan. Informasi-informasi baru dipahami siswa dengan cara mengklasifikasinya berlandaskan pengetahuan terdahulu yang telah dimilikinya. 3. Teori David P. Ausubel Teori David P. Ausubel. Dalam teorinya Ausubel mengemukakan bahwa teorinya itu terkait dengan sifat-sifat makna, dan ia percaya bahwa dunia luar akan memberikan makna terhadap pembelajaran, hanya jika berbagai konsep yang berasal dari dunia luar itu telah mampu diubah menjadi kerangka isi oleh siswa. Makna diciptakan melalui beberapa bentuk hubungan ekuivalen antara bahasa (simbol) dan konteks mental, yang melibatkan 2 proses, a. Resepsi, yang ditimbulkan melalui pembelajaran verbal yang bermakna. b. Penemuan, yang terlibat dalam pembentukan konsep dan pemecahan masalah. Karya-karya Ausubel sering dibandingkan dengan karya Bruner. Keduanya memiliki kemiripan pandangan tentang sifat hierarkis dari pengetahuan, tetapi Bruner lebih menekankan pada proses penemuan, sedangkan Ausubel lebih berfokus pada metode pembelajaran verbal dalam berbicara, membaca dan menulis. 4. Teori Robert M. Gagne. Salah satu teori yang berasal dari psikolog kognivistik adalah teori pemrosesan informasi yang dikemukakan oleh Robert M. Gagne. Menurut teori ini belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi dalam otak manusia. Sedangkan pengolahan otak manusia sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Reseptor (alat indera) : menerima rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi rangsaangan neural, memberikan symbol informasi yang diterimanya dan kemudian di teruskan. b. Sensory register (penempungan kesan-kesan sensoris) : yang terdapat pada syaraf pusat, fungsinya menampung kesan-kesan sensoris dan mengadakan seleksi sehingga terbentuk suatu kebulatan perceptual. Informasi yang masuk sebagian masuk ke dalam memori jangka pendek dan sebagian hilang dalam system. c. Short term memory ( memory jangka pendek ) : menampung hasil pengolahan perseptual dan menyimpannya. Informasi tertentu disimpan untuk menentukan maknanya. Memori jangka pendek dikenal juga dengan informasi memori kerja, kapasitasnya sangat terbatas, waktu penyimpananya juga pendek. Informasi dalam memori ini dapat di transformasi dalam bentuk kode-kode dan selanjutnya diteruskan ke memori jangka panjang. d. Long Term memory (memori jangka panjang) : menampung hasil pengolahan yang ada di memori jangka pendek. Informasi yang disimpan dalam jangka panjang, bertahan lama, dan siap untuk dipakai kapan saja. e. Response generator (pencipta respon) : menampung informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dan mengubahnya menjadi reaksi jawaban. b. Sistem Pembelajaran kognivistik. Mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan mengembangkan kecakapan akademis lainnya bergantung pada sistem kognivistik. Sistem kognivistik mengandalkan input sensoris dan berfungsinya perhatian, pemrosesan informasi, dan beberapa subsistem memori secara memadai untuk mengonstruksi pengetahuan dan kecakapan. Yang juga penting, sistem kognivistik berfungsi paling baik jika sistem-sistem lain emosional, sosial fisik, atau reklektif tidak bersaing menarik perhatian. Jika sistem-sistem cenderung bersaing dan bukan bekerja sama, maka pembelajaran secara drastis akan menurun. Masih ada aspek penting lain agar sistem kognivistik berfungsi efektif di kelas. Guru harus menunjukkan minat dan memahami dengan baik kandungan materi yang mereka ajarkan karena siswa dengan cepat menilai guru dan memutuskan apakah guru menguasai dan menikmati materi yang diharapkannya dipelajari anak-anak. Jika siswa merasa bahwa guru antusias terhadap materinya, antusiasme itu menular karena mendorong hasrat kuat untuk belajar dan meraih prestasi akademis. Guru harus memiliki minat besar materi yang mereka ajarkan dan menunjukkan niat yang jelas dan pengharapan yang tinggi bahwa anak-anak akan menyukai pelajarannya. Tentu saja, guru akan membangkitkan sikap serupa jika ia menunjukkan penerimaan dan penghargaan terhadap siswa berdasarkan kelebihan dan gaya belajar yang disukai masing-masing 1. Pandangan Teori kognivistik terhadap Belajar Mengajar dan Pembelajaran. Teori kognivistik adalah teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati, melihat, menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori kognivistik menyatakan bahwa proses belajar terjadi karena ada variabel penghalang pada aspek-aspek kognisi seseorang. Teori belajar kognivistik lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. 4. Teori Konstruktivistik. a. Konsep Dasar Teori Belajar Konstruktivistik Pandangan Konstruktivistik mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha memberi makna oleh siswa terhadap pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi yang menuju kepada pembentukan struktur kognitifnya. Proses belajar sebagai usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamnnya melalui proes asimilasi dan akomdasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju kepada kemutakhiran struktur kognitifnya. Guru-guru konsytruktivistik yang mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, kegaiata pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal. Konstruktivistik merupakan teori belajar dari piaget. Konstruktivistik juga bagian dari teori kognitif (Muchith, 2008:71). Teori Konstruktivistik dikembangkan oleh Piaget pada pertengahan abad 20 (Sanjaya,2009:123). Konstruktivistik adalah sebuah gerakan besar yang memiliki posisi filosofis sebesar strategi pendidikan. Konstruktivistik sangat berpengaruh di bidang pendidikan, dan memunculkan metode dan strategi mengajar baru (Muijs dan Reynolds, 2008:95). 1. Teori Belajar Konstruktivistik Jean Piaget. Jean piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat Konstruktivistik, yang teori pengetahuannya dikenal dengan adaptasi kognitif. Manusia berhadapan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapi secara kognitif (mental). Untuk itu, manusia harus mengembangkankan skema pikirannya lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. Piaget (1967, 1970) mengembangkan konsep dan metode teori dasar untuk mengkaji proses kognitif. Teori dan penelitian Piaget (1967) mengenai perkembangan kognitif menyarankan bahwa anak-anak tumbuh melalui beberapa tingkatan (stages) yang berbeda dalam perkembangan kognitif dan bayi sampai dewasa. Menurut Piaget tingkat pertama perkembangan kognitif membangun fondasi untuk perkembangan konsepual dalam tindakan, dimulai dengan tindakan sensori motorik dan refleksi. Tingkatan selanjutnya membangun tingkat kognisi yang lebih tinggi pada skema yang terbentuk sebelumnya. Piaget menawarkan statement ringkas pada teorinya tentang meaning making: “otak mengorganisasi dunia dengan mengorganisasi dirinya”. (Piaget, 1937/1971:311). (Robert, 2004:70). Selain itu, Piaget juga berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk menngkontruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan (Sanjaya, 2009:124). Jelas, jika asimilasi adalah satu-satunya proses kognitif, maka tak akan ada perkembangan intelektual sebab organisme hanya akan mengasimilasikan pengalamnnya ke dalam struktur kognitif. Namun, proses penting kedua menghasilkan mekanisme untuk perkembangan intelektual yaitu accomodation (akomodasi), proses memodifikasi struktur kognitif. Setiap pengalaman yang dialami seseorang akan melibatkan asimilasi dan akomodasi. kejadian-kejadian yang berkoresponden dengan skemata organisme membutuhkan akomodasi. Jadi, semua pengalaman melibatkan dua proses yang sama-sama penting: pengenalan atau mengetahui, yang berhubungan dengan asimilasi dan akomodasi, yang menghasilkan modifikasi struktur kognitif. modifikasi ini dapat disamakan dengan proses belajar. dengan kata lain, kita merespon dunia berdasarkan pengalaman yang kita alami sebelumnya. Aspek unik dari pengalaman ini menyebabkan perubahan dalam struktur kognitif (akomodasi). Akomodasi karenanya menyediakan sarana utama bagi perkembangan intelektual. 2. Paul Suparno SJ (Muchith, 2008:73). Paul Suparno SJ (Muchith, 2008:73) menyatakan bahwa model pembelajaran yang dianggap tepat menurut teori Konstruktivistik adalah model pembelajaran yang demokratis dan dialogis. Pembelajaran harus memberikan ruang kebebasan kepada siswa untuk melakukan kritik, memiliki peluang yang luas untuk mengungkapkan ide atau gagasannya, guru tidak memiliki jiwa otoriter dan diktator. Dengan demikian secara konseptual, Budiningsih (2005: 58) mengemukakan bahwa belajar jika dipandang dari segi kognitif, bukan sebagai peroleh informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara kepada mutakhiran struktur kognitif. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Proses tersebut berupa “…constructing and restructuring of knowledge and skills (schemata) within the individual in a complex network of increasing conceptual consistency…”. pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh dindividu tersebut tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun di luar kelas. b. Proses Belajar Menurut Teori Konstruktivistik. Menurut cara pandang teori Konstruktivistik bahwa belajar adalah proses untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan. Artinya siswa akan cepat memiliki pengalaman jika pengetahuan itu dibangun atas dasar realitas yang ada di dalam masyarakat. Penekanan teori konstruktivisme bukan pada membangun kualitas kognitif, tetapi lebih pada proses untuk menemukan teori yang dibangun dari realitas lapangan (Muchith, 2008: 71). Belajar bukanlah proses tekonologisasi (robot) bagi siswa, melainkan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan sehingga proses pembelajaran tidak hanya meyampaikan materi yang bersifat normatif (tekstual) tetapi juga harus juga menyampaikan materi yang bersifat kontekstual. Teori Konstruktivistik membawa implikasi dalam pembelajaran yang harus bersifat kolektif atau kelompok. Proses sosial masing-masing siswa harus diwujudkan. C. Asri Budiningsih menyatakan bahwa keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh peran sosial yang ada pada diri siswa. Dalam situasi sosial akan terjadi situasi saling berhubungan, terdapat tata hubungan, tata tingkah laku dan sikap di antara sesama manusia. konsekuensinya, siswa harus memiliki keterampilan untuk menyesuaikan diri (adaptasi) secara tepat (Muchith, 2008: 72). Dalam kaitannya dengan ini, Bettencourt (1989) mengemukakan bahwa ada tiga penekanan dalam teori belajar Konstruktivistik yaitu: 1. peran keaktifan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara makna. 2. pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. 3. mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori Konstruktivistik adalah lebih sebagai fasilitator atau moderator. Artinya guru bukanlah satu-satunya sumber belajar yang harus selalu ditiru dan segala ucapandan tindakannya selalu benar, sedang murid sosok manusia yang bodoh, segala ucapan dan tindakannya tidak selalu dapat dipercaya atau salah. Proses pembelajaran seperti ini, cendrung menempatkan siswa sebagai sosok manusia yang pasif, statis dan tidak memiliki kepekaan dalam memahami persoalan (Muchith, 2008:72-73). Sebagai fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Agar dapat melaksanakan peran sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, Sanjaya (2008: 23-24) B. Analisis Tentang Metode Pengajaran Bahasa 1. Metode Tradisional a. Focus berbicara Dasar berbicara menganggap penerjemahan sebagai musush utama. Komunikasi lisan sebagai suatu yang primer dalam pemerolehan bahasa. Metode dasar ujaran cenderung menyediakan lingkungan bicara yang memungkinkan pelajar mempelajari bahasa. Membaca dan menulis juga mudah didapatkan tetapi hanya untuk dimudahkan dalam ujaran. b. Belajar makna Memperoleh makna melalui pajanan objek,actual,pristiwa atau situasi yang digunakan target. Makana yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan tidak menggunakan B1 untuk menerjemahkan. c. Belajar Struktur Belajar dengan induksi,berarti, belajar harus menemukan urutan konstituen sendiri. Penting bagi mereka untuk membaca kalimat pendek disamping mengalami situasi yangmengandung beberapa prilaku. 2. TGT Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. 3. Natural Langsung Direct artinya langsung. Direct method atau metode langsung yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran Bahasa Asing dimana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam mengajar. Jika ada suatu kata- kata yang sulit dimengerti anak didik, guru dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemonstrasiakan, menggambarkan dan lain- lain. Metode ini lahir sebagai reaksi terhadap penggunaan metode nahwu wa tarjamah yang mengajarkan bahasa seperti bahasa yang mati. Dan sebelumnya sejak tahun 1850 telah banyak muncul propaganda yang mengampanyekan agar menjadikan pengajaran bahasa asing itu hidup, menyenangkan dan efektif. Propaganda ini menuntut adanya perubahan yang mendasar dalam metode pengajaran bahasa asing. Sehingga secara cepat lahirlah metode pembelajaran baru yang disebut dengan metode langsung. Dalam metode ini selama mengajar guru berlangsung menggunakan bahasa yang diajarkan, sedangkan bahasa pelajar tidak boleh digunakan. Langkah-langkah pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan metode langsung, yaitu: memilih topic yang sesuai dengan taraf kemampuan peserta didik.Kemudian guru mengucapkan kata-kata atau kalimat yang sesuai dengan tingkat kemampuan anak didik dengan menggunakan alat peraga bila diperluka (Ibrasyi, 1955:264).Hal ini sesuai dengan Yusuf (1997:193) yang mengatakan bahwa dalam pembelajaran bahasa Arab perlu dipersiapkan materi dengan baik dan ditetapkan topic pembahasan. Materi disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kemampuan anak didik,dan dimulai dengan kata-kata yang dapat dimengerti anak didik. Yusuf, 1997:193). 4. Metode Offbit “Manusia berbahasa ibarat burung bersayap”, demikian kata George H. Lewis. Bahasa tak terlepas dari hakikat keberadaan manusia karena itulah yang menjadi piranti komunikasi antar manusia. Pada ungkapan di atas nampak bahwa manusia tanpa bahasa sama seperti burung tanpa sayap, karena sayaplah yang mecirikan burung dan bahasalah yang mencirikan manusia. Noam Chomsky, bapak Linguistik dunia, menyebutkan bahwa jika kita mempelajari bahasa maka pada hakikatnya kita sedang mempelajari esensi manusia, yang menjadikan keunikan manusia itu sendiri. Manusia dirancang untuk berjalan, tetapi tidak diajari agar bisa berjalan. Demikian pula dalam berbahasa, tidak seorangpun bisa diajari bahasa karena manusia diciptakan untuk berbahasa. Dalam artian bahwa pada kenyataannya manusia akan berbahasa tanpa bisa dicegah agar dia tidak memperoleh bahasa. Bahasa dikatakan menjadi keunikan yang mencirikan manusia dan membedakannya dengan makhluk hidup lainnya. Pernyataan ini tidak berarti bahwa hanya manusia yang memiliki piranti komunikasi. Binatang disebut tidak berbahasa tapi tetap bisa berkomunikasi. Ocehan burung kakatua yang bisa menyerupai ucapan manusia; perintah ‘duduk’ atau ‘kejar’ yang dipahami anjing; kemampuan monyet untuk memahami perintah ujaran manusia; nyanyian burung yang berirama; tempo bunyi yang didengungkan lebah; suara-suara yang dikeluarkan ikan paus; semua itu adalah contoh piranti komunikasi binatang. Piranti ini tidak serta merta disebut bahasa walaupun memang menyerupai bahasa. 5. Sillent Way Silent Way adalah suatu model pembelajaran dengan keadaan diam. Dimana silent way merupakan ide bahwa guru seharusnya diam selama proses pembelajaran tetapi peserta didik harus terdorong untuk berbicara sebanyak mungkin,dalam proses pembelajaran terdapat prinsip dasar yaitu, a. Pembelajaran akan lebih mudah jika peserta didik menemukan atau menghasilkan banding hanyamengingat dan mengualangi apa yang dipelajari. b. Pembelajaran menjadi lebih mudah dengan penyertaan mediasi objek fisik. c. Pembelajaran menjadi lebih mudah melalui pemecahan yang menyangkut dengan materi yang diajarkan. Tujuan utama guru menggunakan silent way adalah mengoptimalkan cara peserta didik merubah waktu pengalaman mereka belajar. Peserta didik dibimbing untuk menggunakan sifat yang melekat tentang apa yang koheren untuk mengembangkan krateria tentang apa yang benar dalam memahami materi yang akan diajarkan. Pembelajaran silent way mengajarkan pada peserta didik bagaimana bekerja secara luas, mengungkapkan pendapat untuk mengungkapkan pikiran,perasaan prepsi dan opini serta dapat bekerja dengan gurunya secara efektif. 6. Suggestopedy metode suggestopedy dalam pembelajaran menulis puisi dimungkinkan mengatasi kendala yang menghambat proses pembelajaran yang terjadi dalam kelas. Metode ini memberikan perhatian yang lebih pada kondisi siswa dan kondisi kelas. Metode ini memang menekankan pada pemberian sugesti oleh guru terhadap siswa, sehingga terbentuk situasi yang sangat mendukung bagi siswa untuk berimajiasi dan berkreasi menuangkan pikiran dan ide-idenya ke dalam sebuah puisi. Metode ini dapat dilakukan dengan banyak cara yang tujuan pokoknya pada pemberian sugesti pada siswa. Sehingga dengan sugesti itu siswa diharapkan memperoleh ketenangan baik secara fisik maupun psikis dalam pembelajaran bahasa. Penggunaan instrumen musik yang mampu menenangkan dan membangkitkan daya imajinasi siswa dapat digunakan dalam metode ini. Kehadiran musik tersebut diharapkan mampu membawa siswa pada situasi yang mendukung siswa untuk berimajinasi dan berkreasi dalam mengungkapkan pikiran-pikiran dan perasaan ke dalam sebuah puisi. Kondisi siswa yang santai, tenang, dan tanpa paksaan dalam belajar, akan membentuk situasi kolektif yang mendukung juga untuk pembelajaran dalam kelas. Situasi kelas yang tenang, santai, tidak ada peraaan paksaan pada siswa akan sangat mendukung untuk proses selanjutnya. Kondisi siswa yang mempunyai perasaan tanpa paksaan dalam belajar, akan menghasilkan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Pada dasarnya pembelajaran bahasa dalam kelas memerlukan faktor yang mendukung proses pembelajaran bahasa. Salah satunya pembentukan kondisi siswa dan kelas yang mendukung proses kreatif dan imajinatif siswa. Dengan adanya kondisi dan situasi yang mendukung, masalah yang dihadapi guru seperti dikemukakan sebelumnya, dapat teratasi dengan penggunaan metode yang tepat. 7. Metode Kontemporer a. Penyampaian materi dan aktivitas dalam ruang Dari permulaan siswa diperkenalkan kepada seluruk kalimat dan konteknya.pengajar mendemonstrasikan makna kata dan kalimat sampai menentukan objek-objek dan memperlihatkan semua perintah agar bisa dilihat melalui gerakan. b. Sebuah proyek demonstrasi siswa jepang yang belajar bahasa jerman Para siswa yang tidak belajar bahasa jerman sebelumnya, belajar untuk memahami lebih dari 50 kata yang berbeda dalam waktu satu jam lebih sedikit.para siswa akan didorong supaya ia percaya diri saat mereka ragu-ragu dalam gerakan pertamanya agar bisa menampilkan permainan mereka secara rapid an tenang. Orang dewasa mungkn lebih memerlukan waktu, meski mereka telah melihat pengajar mengerjakan hal yang sama seperti yang merka kerjakan. 8. Respon Fisik Total Respon Fisik Total (Total Physical Response) adalah sebuah metode pengajaran bahasa yang dibangun sekitar koordinasi ucapan dan tindakan. Metode ini mencoba untuk mengajar bahasa melalui aktivitas fisik (motor). Dikembangkan oleh James Asher, seorang profesor psikologi di San Jose State University, California, ia mengambil beberapa tradisi, termasuk perkembangan psikologi, teori belajar, dan pendidikan kemanusiaan, seperti halnya pada prosedur pengajaran bahasa yang diusulkan oleh Harold dan Dorothy Palmer pada tahun1925. Mari kita mempertimbangkan secara singkat teladan ini untuk Respon Fisik Total (Total Physical Response). Respon Fisik Total ini terkait dengan “teori jejak” ingatan dalam psikologi (misalnya Kantona 1940) yang menganggap bahwa lebih sering atau lebih intensif sambungan ingatan ditelusuri, semakin kuat asosiasi ingatan dan akan semakin besar kemungkinan hal itu akan diingat kembali. Menyelidiki kembali dapat dilakukan secara verbal (misalnya dengan pengulangan hafalan) dan/atau dalam hubungannya dengan aktivitas motorik. Kegiatan penelusuran gabungan, seperti latihan verbal disertai dengan aktivitas motorik, hal itu meningkatkan kemungkinan mengingat yang sukses. Dalam perkembangannya, Asher melihat keberhasilan orang dewasa dalam belajar bahasa kedua sebagai proses sejajar dengan kemahiran bahasa pertama anak. Dia menyatakan bahwa cara berbicara diarahkan pada anak-anak terdiri dari perintah dasar, dimana anak menanggapi secara fisik sebelum mereka mulai menghasilkan respon verbal. Asher merasa orang dewasa seharusnya merekapitulasi proses dimana anak-anak mendapatkan bahasa ibu mereka. 9. Komunikatif Natural Awalnya, muncul pertanyaan dalam mengkategorisasikan Pengajaran Bahasa Komunikatif-apakah ia termasuk ke dalam metode atau pendekatan? Brown (2007: 241) menyatakan bahwa PBK sebaiknya dipahami sebagai pendekatan, bukan metode. Pendapat ini juga didukung oleh Richards & Rodgers (2001: 172), Littlewood (1987), Larsen-Freeman (1987: 123), Nunan (1989:12), Aziez & Alwasilah (1996), dan Iskandarwassid & Sunendar (2008: 55). Hal ini dikarenakan PBK adalah sebuah pendirian teoretis terpadu (unified) tetapi memiliki basis luas tentang watak bahasa (the nature of language) dan tentang pembelajaran dan pengajaran bahasa (Brown, 2007: 241). Brown (2007: 241) memberikan empat karakteristik yang terkait adalah 1. Sasaran kelas difokuskan pada semua komponen kompetensi komunikatif (communicative competence) dan tidak terbatas pada kompetensi gramatikal atau linguistik. 2. Teknik-teknik bahasa dirancang untuk melibatkan para pembelajar dalam penggunaan pragmatik, otentik, dan fungsional bahasa untuk tujuan bermakna. Bentuk-bentuk bahasa yang tertata rapi bukan merupakan fokus sentral melainkan aspek-aspek bahasa yang membantu pembelajar mewujudkan tujuan-tujuan komunikatif. 3. Kefasihan dan akurasi dipandang sebagai prinsip-prinsip pelengkap saja yang mendasari teknik-teknik komunikatif. Terkadang kefasihan harus dikedepankan daripada akurasi untuk membuat pembelajar tetap terlibat secara bermakna dalam penggunaan bahasa. 4. Dalam kelas komunikatif, para murid pada akhirnya harus menggunakan bahasa secara produktif dan reseptif, dalam konteks spontan. C. Pendekatan Pengajaran Bahasa 1. Community Language Learning (CCL) Community language learning (CLL) tumbuh dari suatu ide untuk menrapkan konsep psikoterapi dalam pengajaran bahasa. Dalam eksperimen yang dimulai tahun 1957, Charles A. Curran menerapkan konsep psikoterapi dalam bentuk konseling. a. Prinsip Dasar CCL Karena latar belakang pendidikan formal Curren adalah psikoterapi, dia mempararelkan konsep pengajaran bahasa sebagai personal antara seorang ahli ilmuwan dengan seorang pasien. Hal ini tercermin dari istilah yang dipakai “client” sebutan untuk para counselor (mahasiswa/guru). Anggapan ini didasarkan bahwa pada saat seorang terjun dalam dunia atau arena yang baru seperti proses belajar-mengajar bahasa dia dikodrati dengan berbagai ciri manusia sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam lingkungan yang baru dimana dia merasa asing, dia di hinggapi oleh rasa tak nyaman (insecurity), rasa keterancaman (threat), rasa ketidak menentuan (anxiety), konflik dan berbagai perasaan lain yang secara tak tersadari menghalang-halangi dia untuk maju. Landasan dasar dalam CCL, berbeda jauh dari konsep diatas, tugas utama seorang konselor adalah untuk menghilangkan, atau paling tidak mengurang segala perasaan negative para klientnya. Seorang konselor dituntut untuk memiliki sikap yang fasilitatif, baik dalam menukar pengetahuannya dan para klien maju dalam satu tahap demi tahap. Dalam kaitannya dengan keadaan psikologi para siswa. Curran mengajukan enam konsep yang diperlukan untuk menumbuhkan “learning”. Enam konsep ini dicakup dalam satu singkatan yaitu, SARD: - Security (rasa aman) - Attention- aggression (perhatian –peran aktif siswa) - Retention-reflection, dan (refleksi/intropeksi atau tes) - Discrimination.(penjelasan). b. Teknik Pelaksanaan Pengajaran Karena dalanm CCL hubungan antara guru dan siswa adalah hubungan terapeutik antara seorang klien dengan konselornya, maka bentuk kelas dan proses belajar-mengajar pun berbeda dengan kelas dan cara yang konvensioanl. Dalam CCL tiap kelas terdiri dari 6 sampai 12 ,siswa, dan tiap siswa mempnyani seorang konselor. Pengaturan meja dankursi dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk semacam lingkaran. Konselor berada dibelakang klien/siswa, dan dapat pula dilakukan dengan pengaturan yang lain. Dalam CCL tidak digunakan satu tesk apapun, guru dan siswa berkolaborasi dan bebas menetukan materi apa yang akan dibahas. c. Tahap-tahap Penguasaan Tahap penguasaan dibagi menjadi lima bagian : 1. Embryonic stage (madasen di celce-murcia & Mcintosh, 1978:35), adalah tahap dimana ketergantungan siswa pada gurunya adalah 100 atau mendekati 100%. Pada tahap ini rasa ketidak menetuan siswa menghalang-halangi dia untuk memakai bahasa asing terutama di depan gurunya dan orang-orang lain yang dia tidak kenal. Tugas guru adalah untuk menghilangkan atau menguarangi perasaaan seperti ini dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan yang layak. Siswa diminta supaya aktifitas yang menjadi minat mereka untuk menyebutkannya dan melakukannya. Kemudian diminta untuk merefleksikan. 2. Self-Assertion Stage, tahap dimana siswa telah mendapat dukungan moral dari rekan senasibnya taupun dari guru mereka. Dan mereka telah mencoba untuk menemukan jati diri mereka sebagai penutur bahasa asing. Pada tahap ini tentu saja bahasa yang mereka gunakan barulah dalam bentuk yang sangat sederhana yang oleh slingker disebut interlanguage, serta ungkapan-ungkapan yang mereka gunakan masih dalam bntuk elementary. 3. Birth Stage, siswa secara bertahap mulai mengurangi pemakaian bahasa ibunya. Dia mulai terbiasa memakai bahasa kedua. Pada tahap ini guru atau konselor harus bertindak bijaksana dan memperhatikan segala aspek yang timbul pada tahap ini, dan harus mampu mengatasi lproblem yang dihadapi oleh siswa dengan pendekatan psikologi. 4. Pada tahap ini, siswa tidak lagi banyak diam pada waktu proses pembelajaran berlangsung, mereka sudah harus aktif berbicara. 5. Pada tahap terkahir adalah “independent Stage”, tahap dimana siswa telah menguasai semua bahan yang akan dibahas, dan siswa sudah bisa memperluas bahasanya dan memelajari pula aspek-aspek sosial dan budaya ada penutur asli. d. Hasil yang dicapai. Laporan yang didapat dari para peneliti dengan menggunakan metode ini adalah sangat memuaskan, dan paling tidak memberikan harapan yang cerah di masa depan. Eksperimen-eksperimen telah dilakukan menunjukkan hasil yang bagus. 2. Total physical response (TPR) Total Physical Response (TPR) adalah metode yang dikembangkan oleh Dr James J. Asher, seorang profesor emeritus psikologi di San José State University, untuk membantu pembelajaran bahasa kedua. Metode ini bergantung pada asumsi bahwa ketika belajar bahasa kedua atau tambahan, bahasa diinternalisasi melalui proses memecahkan kode mirip dengan perkembangan bahasa pertama dan bahwa prosesnya memungkinkan untuk jangka panjang mendengarkan dan mengembangkan pemahaman sebelum berproduksi. Siswa merespon perintah yang membutuhkan gerakan fisik. TPR terutama digunakan oleh guru ESL / EAL, meskipun metode ini digunakan dalam mengajar bahasa lain juga. Metode ini menjadi populer di tahun 1970-an dan menarik perhatian atau loyalitas dari beberapa guru, tetapi belum mendapat dukungan umum dari pendidik utama. a. Prinsip Dasar TPR prinsip dasar dan teknik yang terdapat dalam pembelajaran metode TPR ini, yang terdiri atas: 1. Using Commands to Direct Behavior 2. Role Reversal 3. Action Sequence 4.Belajar bahasa kedua sejajar dengan belajar bahasa pertama dan harus merefleksikan proses alamiah yang sama. 5. Menyimak harus berkembang sebelum berbicara. 6. Anak merespon secara fisik atas bahasa lisan. 7. Jika menyimak pemahaman telah berkembang, ujaran lisan akan berkembang secara alamiah b. Teknik Pelaksanaan Pengajaran Berdasarkan Larsen & Freeman, 2000, ada tiga tehnik ketika melakukan pengajaran metode TPR. 1.Guru memperkenalkan kosa kata (vocabulary) yang akan dipakai. Contoh: Classroom Objects (pencils, pens, books, etc), Verb (put, take, leave,etc) 2.Guru memberi perintah dan memperagakannya bersama siswa. 3.Siswa mendemonstrasikan perintah-perintah yang diberikan secara individu lalu guru mengelaborasi perintah-perintah tadi. 4.Setelah merespon secara non-verbal, siswa belajar membaca dan menulis kata/frase tersebut. Ketika siswa mulai berbicara, activitas dikembangkan dengan menggambar atau permainan (games). c. Tahap-tahap Penguasaan. Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa diantaranya adalah dengan cara Dialog atau Percakapan (conversational Dialogue) dan Bermain Peran (Role Play). Dalam pelaksanaan pembelajaran tenyata tidaklah sulit, apalagi di era sekarang ini banyak informasi dan pengetahuan yang bisa kita temukan dengan mudah melalui televisi, surat kabar dan juga internet tanpa mengeluarkan dana yang besar, siswa juga dengan mudah mengerjakan tugasnya dan kita bisa dibuat “speechless” tidak bisa berkata-kata setelah melihat hasil pekerjaan mereka. Dan sebagai pendidik kita dituntut untuk lebih kreatif merancang pembelajaran kita agar dapat membawa mereka mencapai hasil yang sesuai dengan perkembangan dan keterampilan hidup di masa datang. Rancangan kegiatan menggunakan pembelajaran Dialog atau Percakapan (Conversational Dialog) dan Bermain Peran (Role Play) dengan metode TPR dilaksanakan sebagai berikut : 1.Membuat iklan dengan gaya “Bintang Televisi”. (Pengajaran Advertisement). Dalam pembelajaran Short Functional Text atau Teks Fungsional Pendek berbentuk Iklan siswa diminta membawakan iklan yang sudah dipersiapkan sesuai produk yang mereka senangi secara audio visual dengan gaya seperti bintang iklan televisi, kemudian hasilnya ditayangkan dan dinilai bersama-sama. Karena model pembelajaran ini cukup menarik dan dilakukan dengan senang, siswa menjadi lebih termotivasi,berani, inovatif, percaya diri dan bergairah dalam belajar bahasa Inggris dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya dilakukan hanya dalam bentuk tampil tanpa membawa produk dan dibuat rekamannya. 2.Go Shopping to Mini Market ( Transaksional/Interpersonal (Tema : Shopping), Setelah siswa mendapatkan pemahaman tentang materi dialog transaksional dalam tema “Shopping” Siswa diajak ke mini market terdekat selama 2 jam pelajaran untuk mempraktikkan secara nyata bagaimana bertransaksi jual/beli menggunakan bahasa Inggris. Ternyata kegiatan ini mendapatkan sambutan hangat dan positif dari pihak mini market khususnya para kasir, karena mereka mau bertanya kepada siswa istilah-istilah atau kata-kata lainnya misalnya harga, nama produk dan lain-lain dan mereka dengan senang hati merespon para siswa dalam bahasa Inggris. Tentu saja dampaknya luar biasa, siswa menjadi lebih percaya diri karena para pembeli juga asyik menonton mereka dan malah ada yang mencoba untuk ikut berdialog. 3.Reporter Berita Televisi, Model pembelajaran ini saya buat sehubungan dengan teks News Item, teks tambahan khusus untuk siswa RSBI, tahapan nya adalah siswa secara berkelompok membuat berita (natural Disaster atau Bencana Alam ) yang pernah terjadi di Indonesia atau di dunia. Pengambilan rekaman dilakukan di luar sekolah hasilnya di rekam dan ditayangkan, lokasi shooting disetting sesuai dengan berita yang akan dibawakan dan menjadi proyek rahasia masing-masing kelompok. Dalam kegiatan ini siswa bebas mengeksplor ide mereka dan berlomba membuat tayangan yang terbaik karena hasilnya akan ditonton dan dinilai bersama-sama, dalam hal ini ada yang berperan sebagai pembaca berita, reporter lapangan, dan korban bencana. Dengan menggunakan model ini, terlihat sekali motivasi siswa sangat tinggi, sehingga keterampilan berbahasa terlihat meningkat dari diskusi kelompok yang dilakukan sebelum rekaman. Sangat berbeda dibandingkan dengan hanya tampil di depan kelas. 4.English Morning, Kegiatan ini adalah pengembangan dari keterampilan yang siswa peroleh di kelas dan dilakukan oleh seluruh siswa dan guru pada setiap hari jum’at pagi setelah melaksanakan olah raga. Pada kesempatan ini masing-masing siswa berkomunikasi dengan teman-teman disekelilingnya atau membuat kelompok dan bercerita tentang apa saja dibantu oleh guru-guru bahasa Inggris dan juga guru-guru non Bahasa Inggris yang ingin meningkatkan motivasi mereka untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Kegiatan yang dilakukan beragam ada permainan, sharing ide, pidato , bermain tebak kata, bernyanyi dan lain-lain. Terlihat sekali kekompakan dan saling bantu antar teman, yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris melebihi yang lain memotivasi dan membantu teman yang kurang kemampuannya dalam bahasa Inggris. 5.Practice your English with Native Speaker, Kegiatan ini juga termasuk pengembangan keterampilan yang sudah diperoleh siswa dari pembelajaran di kelasyang dilakukan di luar dari jam belajar dan tidak terjadwal, tetapi sudah beberapa kali dilaksanakan ketika penulis bertemu orang asing atau turis. Pertemuan bisa di suatu tempat ataupun jalan, penulis tidak segan dan malu-malu mengundang mereka untuk datang ke sekolah. Ternyata mereka antusias sekali apalagi ketika tahu penulis adalah seorang guru dan ingin sekali memperkenalkan siswa-siswanya bagaimana native speaker kalau berbicara bahasa Inggris. Hal ini memberikan dampak yang sangat positif kepada siswa karena mereka mendapatkan banyak sekali pengetahuan tentang penggunaan kata-kata bahasa Inggris dengan tepat dan juga pengetahuan lain yaitu tempat asal mereka. Siswa memiliki keberanian untuk berkomunikasi karena motivasi untuk bisa berbahasa Inggris yang sangat tinggi dan sampai sekarang ada beberapa siswa yang masih berhubungan dengan mereka menggunakan media sosial seperti facebook. 6.English Camp, kegiatan ini dilaksanakan untuk mengisi hari libur panjang para peserta didik dan bersifat pengembangan keterampilan berbahasa Inggris siswa. Ternyata dukungan para orang tua sangat tinggi agar anak-anak mereka dapat mengikuti kegiatan ini walaupun kegiatan ini memerlukan dana. Siswa selama lebih kurang satu minggu tinggal di sekolah dan mereka tidak diperkenankan untuk pulang, hanya orang tua yang boleh sekali-sekali menjenguk anak-anaknya. Kegiatan berbahasa Inggris dilakukan setiap waktu dan belajar sesuai jadwal yang sudah disiapkan, dan yang membuat para siswa tetap semangat karena selalu diisi dengan permainan-permainan yang menarik dan menyenangkan. Sebagai tambahan keimanan dan pengetahuan keagamaan para peserta camp yang muslim diwajibkan sholat berjamaah lima waktu dan waktu subuh diisi dengan ceramah selama 7 menit. Untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal dan pengetahuan baru, penulis mengadakan kerja sama dengan lembaga yang dinamai Kampung Inggris di Kediri. 7.Story Telling and English Drama ( PembelajaranTeks Narrative). Model pembelajaran ini dikembangkan dari hasil penulisan cerita naratif kemudian dipilih yang terbaik. Siswa selalu antusias dalam mengikuti pembelajaran teks naratif, karena mereka dapat mengeksplor kemampuan menulis dan berlomba-lomba membuat tulisan yang bagus dan menarik berasal dari daerah sendiri dengan cerita yang dibuat berdasarkan imajinasi mereka .Motivasi dalam menulis cerita meningkat karena siswa dapat menampilkan cerita yang merka tulis sendiri. Hasil tulisan mereka bisa dibawakan dalam bentuk Story Telling atau English Drama. Untuk Story Telling siswa dari SMP Negeri 1 Sampit selama 5 tahun berturut-turut mewakili kabupaten Kotim mengikuti lomba tingkat Provinsi. Ternyata model pembelajaran seperti ini yang sangat disukai siswa dibandingkan dengan hanya tampil di dalam kelas saja, dan yang lebih membuat siswa termotivasi adalah karena hasil tulisan terbaik mereka akan ditampilkan pada acara perpisahan siswa. Tidak dikira ternyata drama ataupun story telling berbahasa Inggris bisa menjadi acara yang ditunggu-tunggu pada setiap acara perpisahan. Selama ini drama bahasa Inggris sudah menjadi agenda tahunan dan sudah pada tahun ke empat tampil pada acara perpisahan dan selalu ditunggu-tunggu penonton. d. Hasil yang dicapai. Mahasiswa menerapkan langsung beberapa teknik (role-play) yang ada dalam metode The Total Physical Response dengan cara berdemonstrasi di depan kelas, dan Mahasiswa mampu menjelaskan dan menerapkan metode pembelajaran Total Physical Response dalam proses belajar mengajar di kelas. 3. The natural approach (NA) NA dirintis pada tahun 1976 oleh seorang linguis bernama Tracy D. Terrel. Pandangannya adalah penguasaan bahasa lebih banyak bertumpu pada pemerolehan (acquisition), bukan pembelajaran (learning). NA juga bekerja sama dengan Teori Monitor yang diajukan oleh Stephen D. Krashen. Istilah NA atau pendekatan alamiah didasarkan atas pandangan bahwa penguasaan (mastery) suatu bahasa lebih banyak bertumpu pada pemerolehan (acquisition) bahasa itu dalam konteks yang alamiah dan kurang pada pembelajaran aturan-aturan yang secara sadar dipelajari satu persatu. Karena adanya kaitannya antara pemerolehan dan pembelajaran, logislah jika perkembangan terakhir pendekatan alamiah ini bergandengan tangan dengan teori monitor yang diajukan oleh Stephen D Krashen pada tahun 1978. Kerjasama antara Terrel dan Krashen menghasilkan buku metode yang lengkap untuk metode ini, yakni sebuah buku yang berjudul The Natural Approach : Language Acquisition in The Clasroom. Dalam NA, siswa harus didorong untuk berkomunikasi. Kompetensi komunikasi siswa tidak harus sempurna karena dalam kehidupan nyata ada hal-hal di luar bahasa yang membantunya memahami ajaran yang ia dengar. Dengan kata lain, pelajar NA kurang mulus dari segi linguistic. Krashen berpedoman bahwa hal ini wajar karena orang dewasa telah melampui keplastisan otaknya, tidak seperti anak kecil saat memperoleh bahasa ibunya. NA menyajikan banyak kosakata dan koreksi melalui latihan atau PR. Situasi, fungsi, dan topik dikombinasikan untuk mengembangkan kemampuan dasar pelajar dalam berkomunikasi. Hanya dikatakan bahwa NA lebih baik daripada Metode Langsung. a. Prinsip Dasar NA Prinsip dasar pembelajaran The Natural approach adalah sebagai berikut. 1. Apersepsi Pada tahap ini, siswa mengungkapkan pengetahuaanya tentang lafal, nada, tekanan, dan intonasi pada sebuah puisi. 2. Eksplorasi Pada tahap ini, guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada peserta didik apa yang harus dicapai. 3. Elabolasi Pada tahap elaborasi, siswa akan mendapatkan contoh puisi serta mengeksplorasi dari hasil membaca puisi. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok untuk memahami dan mendiskusiakannya. Setiap perwakilan kelompok membacakan puisi di depan, dan siswa yang lainnya memperhatikan atau menyimak pembacaan puisi. Dalam tahap ini guru akan memberikan umpan balik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa. 4. Klarifikasi Pada tahap ini, guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok. Diskusi kelas dilakukan untuk memperoleh pembenaran materi tentang hasil proses pembelajaran membaca. 5. Penutup Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan hal-hal yang sulit dan yang belum diketahui. Setelah itu guru merefleksi dan menanyakan kesulitan yang dihadapi siswa dalam membacakan puisi. b. Teknik Pelaksanaan Pengajaran. Prinsip-prinsip pendekatan alamiah (NA) 1. Pada tahap awal bertindak sebagai pendengar. Oleh karena itu ia tidak diwajibkan menguasai sebuah kata dan gramatika yang diucapkan si penutur asli. Penutur asli adalah ‘msein’ yang mampu mengkreasikan segala macam wujud bahasa selama wujud itu dimungkinkan di dalam sistem bahasa yang bersangkutan. 2. Pada tahap berikutnya, pembelajar bertindak selaku pembicara. Sebagai pembicara pada mulanya si pembelajar juga tidak diharapkan menguasai apalagi secara sempurna semua bentuk gramatika,lafal yang baik, kata-kata yang tepat dan lain-lainnya. 3. Banyaknya kesalahan dan ketidaktepatan yang dilakukan oleh pembelajar pada taraf permulaan adalah hal yang wajar, sama halnya dengan anak kecil yang belajar bahasa ibunya sendiri. Anak kecil dibarengi dengan pertumbuhan biologisnya dan dirangsang oleh masukan-masukan kebahasaan yang datang dari alam sekitarnya. 4. Bahasantara (interlanguage) merupakan ragam yang pasti ada pada pembelajar yang sedang belajar bahasa kedua. Oleh karena itu, keberadaannya tidak perlu dirisaukan. Implikasi dari sikap ini adalah bahwa koreksi terhadap kesalahan pembelajar tidak dilakukan pada waktu proses belajar di kelas, melainkan di luar kelas pada waktu pelatihan-pelatihan atau pekerjaan rumah yang khusus dimaksudkan untuk itu. 5. Penekanan pada komunikasi mengharuskan pendekatan alamiah menyajikan kosakata dalam jumlah banyak. Hal ini diperlukan karena di dalam pendekatan alamiah, komprehensi dan produksi benar-benar dibedakan. Selama pembelajar belum merasa siap untuk berbicara, ia tidak diminta berbicara. c. Tahap-tahap Penguasaan. menurut Bambang Setiadi,dkk (2004; 4.7) dapat dilihat dari tahap-tahap penguasaan sebagai berikut: 1. Tahap pre-production, anak berpartisipasi dalam kegiatan kelompok tanpa harus memberikan respon atau berbicara selain bahasa asing yang dipelajari. Kegiatan seperti ini misalnya dengan cara memperagakan atau menunjukkan perintah, ungkapan atau gambar-gambar yang diceritakan guru. 2. Tahap early- production , anak diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan sederhana yang diajukan oleh guru. Jawaban anak terdiri dari satu kata atau satu frase pendek. 3. Tahap speech-emergent, anak sudah terlibat dalam kegiatan bermain peran (role play) dan permainan (games) d. Hasil yang dicapai. Pengajaran bahasa dikatakan sebagai sebuah proses yang diperoleh karena mempunyai ciri bahwa bahasa aktif dalam otak bawah sadar (Subconcious) dan intuitif hal ini dapat diamati pada anak kecil yang dapat memahami dan mengetahui bahasa ibu yang menjadi bahasa asing bagi kita. 4. The Sillent Way a. Prinsip Dasar Silence dianggap sebagai cara yang terbaik untuk pembelajaran, karena dengan silence para pembelajar berkonsentrasi pada tugas yang diselesaikan dan cara-cara potensial untuk penyelesaiannya. Silence, yang menghindari pengulangan, menjadi alat bantu bagi kesadaran, konsentrasi, dan kesiapan mental. b. Teknik Pelaksanaan Pengajaran 1. pembelajaran dipermudah jika si pembelajar mendapatkan dan menciptakan hal baru 2. pembelajaran dipermudah dengan menggunakan objek fisik 3. pembelajaran dipermudah dengan pemecahan masalah yang melibatkan materi yang diajarkan. c. Tahap-tahap penguasaan Pembelajar bukanlah hanya pendengar melainkan juga ikut berperan aktif dalam pembelajaran. (Bruner 1966:83). Hal ini sesuai dengan Silent Way yang memandang pembelajaran sebagai suatu aktivitas pencarian hal baru yang kreatif dan aktivitas pemecahan masalah. d. Hasil yang Dicapai 1. meningkatnya potensi intelektual 2. bergesernya pemahaman dari ekstrinsik ke intrinsic 3. pembelajaran melalui penemuan oleh diri sendiri 4. membantu fungsi memori 5. Suggestopedy a. Prinsip Dasar . Metode ini memang menekankan pada pemberian sugesti oleh guru terhadap siswa, sehingga terbentuk situasi yang sangat mendukung bagi siswa untuk berimajiasi dan berkreasi menuangkan pikiran dan ide-idenya ke dalam sebuah puisi. b. Teknik Pelaksanaan Pengajaran Metode ini dapat dilakukan dengan banyak cara yang tujuan pokoknya pada pemberian sugesti pada siswa. Sehingga dengan sugesti itu siswa diharapkan memperoleh ketenangan baik secara fisik maupun psikis dalam pembelajaran bahasa. Penggunaan instrumen musik yang mampu menenangkan dan membangkitkan daya imajinasi siswa dapat digunakan dalam metode ini. c. Tahap-tahap penguasaan Kondisi siswa yang santai, tenang, dan tanpa paksaan dalam belajar, akan membentuk situasi kolektif yang mendukung juga untuk pembelajaran dalam kelas. Situasi kelas yang tenang, santai, tidak ada peraaan paksaan pada siswa akan sangat mendukung untuk proses selanjutnya. d. Hasil yang Dicapai . Dengan adanya kondisi dan situasi yang mendukung, masalah yang dihadapi guru seperti dikemukakan sebelumnya, dapat teratasi dengan penggunaan metode yang tepat. BAB III PENUTUP A. Simpulan Pada dasarnya antara metode pembelajaran bahasa dan metode-metode lain, tak banyak bedanya. Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah apa yang dimaksud oleh tujuan pembelajaran itu sendiri. Semua situasi pembelajaran, apakah baik atau jelek, mencakup beberapa aspek; yaitu: 1. Teknik dasar 2. Teknik pelaksanaan pengajaran 3. Tahap-tahap penguasaan 4. Hasil yang dicapai Dalam makalah ini dapat saya simpulkan bahwa untuk mempelajari pemerolehan bahasa secara detail kita dirujuk bukan hanya untuk memahami materinya saja tetapi mengarah pada teori dan praktiknya. B. Saran. Cara-cara penyajian materi perlu dipikirkan karena tak mungkin diajarkan sesuatu dengan hasil baik jika tidak dipikirkan cara-cara penyajian mana yang dapat memperoleh hasil sebagaimana yang diinginkan oleh tujuan yang ingin dicapai.bagi pembaca pahami teori-teori tentang pemerolehan bahasa dari makalah ini lah kita dapat membuka cakrawala dunia.