BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya.
Selama pemerolehan bahasa pertama, Chomsky menyebutkan bahwa ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya. Proses yang dimaksud adalah proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) secara tidak disadari. Kompetensi ini dibawa oleh setiap anak sejak lahir. Meskipun dibawa sejak lahir, kompetensi memerlukan pembinaan sehingga anak-anak memiliki performansi dalam berbahasa. Performansi adalah kemampuan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Performansi terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses penerbitan kalimat-kalimat
Pendekatan yang telah lama diterapkan dalam pembelajaran bahasa, antara lain ialah pendekatan tujuan dan pendekatan struktural. Kemudian menyusul pendekatan yang dipandang lebih sesuai dengan hakekat dan fungsi bahasa, yakni pendekatan komunitatif dan pendekatan terpadu. Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar mengajar, yang harus dipikirkan dan ditetapkan terlebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa, yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai seperangkat kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus diutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu pembelajaran bahasa perlu dititik beratkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, morfologi, dan sintaksis. Dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting, jelas, bahwa aspek kognitif bahasa diutamakan.
Disamping kelemahan, pendekatan ini juga memiliki kelebihan. Dengan pendekatan struktural siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang permasalahan tersebut, dappat dirumuskan beberapa rumusan masalah, yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan teori behavioristik,natavistik,kognivistik dan kontrukvistik?
2. Metode apa saja yang mendukung dalam pemerolehan bahasa?
3. Apa saja pendekatan dalam pengajaran bahasa?
4. Apa-apa saja prinsip dasar,teknik,tahap,hasil pendekatan dalam pengajaran bahasa?
5. Apa yang dimaksud community language learning,total physical respone,the natural approach,the silent way, suggestopedy?
6. Bagaimana belajar bahasa kedua juka dilihat dari kemunculannya metode tradisional?
C. Tujuan
supaya mahasiswa mengetahui tentang teori-teori,metode,dan pendekatan penggunaan bahasa pertama maupun bahasa kedua. Didalam makalah ini terdapat banyak teori supaya kita bisa mengenal serta mengetahui apa saja yang bisa kita peroleh untuk kita pelajari dalam pemerolehan bahasa dan kita juga dapat memperoleh pengetahuan yang luas. Didalam pemerolehan bahasa ini terdapat pendekatan yaitu pendekatan tujuan dan pendekatan struktural yang akan membantu kita dalam menganalisis pendekatan dalam pengajaran bahasa untuk pemerolehan bahasa pertama maupun kedua.
D.Manfaat
Berdasarkan paparan diatas maka manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah :
Bagi masyarakat umum makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan untuk memberi informasi tentang bagaimana Teori pemerolehan bahasa dan bentuk-bentuk implementasi dalam proses pembelajaran.
Bagi mahasiswa khususnya calon pendidik, makalah ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam mempelajari Teori pemerolehan bahasa dan bentuk-bentuk implementasi dalam proses pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Analisis Tentang Teori Pengajaran Bahasa.
1. Teori Behavioristik
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi:
a. Reinforcement and Punishment.
b. Primary and Secondary Reinforcement.
c. Schedules of Reinforcement.
d. Contingency Management.
e. Stimulus Control in Operant Learning.
f. The Elimination of Responses.
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme.
Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni :
1. hukum efek hukum efek.
2. hukum latihan.
3. hukum kesiapan.
Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu.
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang memengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
a. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.
b. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
c. Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan sebagai stimulus agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif sebagai stimulus harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar sehingga ia melakukan kesalahan dikurangi bukan malah ditambah dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.
Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau pembelajar.
Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
2. Teori Natavistik
Nativisme berasal dari kata Nativus yang berarti kelahiran. Teori ini muncul dari filsafat nativisma (terlahir) sebagai suatu bentuk dari filsafat idealisme dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh hereditas, pembawaan sejak lahir, dan faktor alam yang kodrati. Pelopor aliran ini adalah Arthur Schopenhauer seorang filosof Jerman yang hidup tahun 1788-1880 dan Noam Chomsky pada awal tahun 1960.
Teori nativisme terbentuk sebagai bantahan terhadap teori behavioris.Nativisme berpendapat bahwa dalam proses pemerolehan bahasa pertama, anak perlahan menggunakan kemampuan lingualnya yang telah terprogram secara genetis. Sehingga menurut para pakar teori ini, lingkungan tidak mempunyai pengaruh dalam proses pemerolehan bahasa.
Chomsky mengatakan bahwa bahasa terlalu kompleks untuk dipelajari dalam waktu dekat melalui metode imitation. Sehigga ia menegaskan bahwa bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, karena:
a. Perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan genetik, pola perkembangan bahasa berlaku universal, dan lingkungannya hanya memiliki peran kecil dalam proses pematangan bahasa.
b. Bahasa dapat dikuasai dalam waktu singkat, tidak bergantung pada lamanya latihan seperti pendapat kaum behaviorisme.
Melalui teori ini Arthur Schopenhauer juga menegaskan bahwasannya yang buruk akan menjadi buruk dan yang baik akan menjadi baik tanpa terpengaruh lingkungan yang ada.
Salah satu kontribusi praktis dari teori-teori nativis ini adalah tentang sistem bahasa anak-anak bekerja. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bahasa anak-anak pada tingkatan manapun adalah suatu sistem yang diakui. Perkembangan linguistik anak-anak bukanlah proses semakin berkurangnya struktur-struktur yang tidak tepat bukan sebuah bahasa dimana tahap sebelumnya mengandung lebih banyak kekeliruan ketimbang tahap selanjutnya. Justru, bahasa anak-anak disetiap tahap adalah sistematis, dalam arti anak-anak secara bertahap membentuk hipotesis-hipotesis itu dalam percakapan. Ketika bahasa mereka berkembang maka hipotesis-hipotesis tersebut direvisi terus menerus, dibentuk ulang atau ditinggalkan.
Kajian nativis mengenai pemerolehan bahasa anak menghasilkan sebuah hipotesis tentang tata bahasa bebas-susun pada bahasa anak-anak, walaupun tata bahasa semacam itu masih masih sangat didasarkan pada data empiris.
perkembangan dan kemampuan berbahasa merupakan pembawaan sejak lahir/bakat. Teori ini muncul dari filsafat nativisme ( terlahir ) sebagai suatu bentuk dari filsafat idealisme dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan dan pemerolehan bahasa anak ditentukan dan diperolah oleh hereditas, pembawaan sejak lahir, dan factor alam yang kodrati.
Teori ini dipelopori oleh filosof Jerman Arthur Schopenhauer (1788-1860) yang beranggapan bahwa faktor pembawaan yang bersifat kodrati tidak dapat diubah oleh alam sekitar atau pendidikan. Dengan tegas Arthur Schaupenhaur menyatakan yang jahat akan menjadi jahat dan yang baik akan menjadi baik. Teori ini sebagai lawan dari teori behavioristik yaitu .kemampuan berbahasa seorang anak diperoleh dari lingkungan yang membentuk seorang anak tersebut.
Teori ini memberikan dasar bahwa suatu keberhasilan TIDAK ditentukan oleh faktor pendidikan dan lingkungan yang ada pada anak tersebut Kemampuan berbahasa ditentukan oleh anak itu sendiri. Lingkungan sekitar tidak ada, artinya sebab lingkungan itu tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Kemampuan berbahasa seorang anak dapat dipengaruhi oleh beberapa fator intern diantaranya :
1. Faktor genetic, Adalah faktor gen dari kedua orangtua yang mendorong adanya suatu bakat yang muncul dari diri manusia. Contohnya adalah Jika kedua orangtua anak itu adalah seorang penyanyi maka anaknya memiliki bakat pembawaan sebagai seorang penyanyi yang prosentasenya besar.
2. Faktor Kemampuan Anak, Adalah faktor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi yang terdapat dalam dirinya. Faktor ini lebih nyata karena anak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Contohnya adalah Ketika ada kegiatan ekstra kulikuler pidato anak tersebut tertarik untuk mengikuti guna mengembangkan bakat yang ada pada dirinya.
3. Faktor pertumbuhan Anak, Adalah faktor yang mendorong anak mengetahui bakat dan minatnya di setiap pertumbuhan dan perkembangan secara alami sehingga jika pertumbuhan anak itu normal maka dia kan bersikap enerjik, aktif, dan responsive terhadap kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, jika pertumbuhan anak tidak normal maka anak tersebut tidak bisa mngenali bakat dan kemampuan yang dimiliki.
Kelebihan dan Kekurangan Teori Nativistik.
Kelebihan.
a. Mampu memunculkan bakat yang dimiliki
Dengan teori ini diharapkan manusia bisa mengoptimalkann bakat yang dimiliki dikarenakan telah mengetahui bakat yang bisa dikembangkannya. Dengan adanya hal ini, memudahkan manusia mengembangkan sesuatu yang bisa berdampak besar terhadap kemajuan dirinya.
b. Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi.
Jadi dengan teori ini diharapkan setiap manusia harus lebih kreatif dan inovatif dalam upaya pengembangan bakat dan minat agar menjadi manusia yang berkompeten sehingga bisa bersaing dengan orang lain dalam menghadapi tantangan zaman sekarang yang semakin lama semakin dibutuhkan manusia yang mempunyai kompeten lebih unggul daripada yang lain.
c. Mendorong manusia dalam menetukan pilihan.
Adanya teori ini manusia bisa bersikap lebih bijaksana terhadap menentukan pilihannya, dan apabila telah menentukan pilihannya manusia tersebut akan berkomitmen dan berpegang teguh terhadap pilihannya tersebut dan meyakini bahwa sesuatu yang dipilihnya adalh yang terbaik untuk dirinya.
d. Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang.
Teori ini dikemukakan untuk menjadikan manusia berperan aktif dalam pengembangan potensi diri yang dimilii agar manusia itu memiliki ciri khas atau ciri khusus sebagai jati diri manusia.
e. Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki.
Dengan adanya teori ini, maka manusia akan mudah mengenali bakat yang dimiliki, dengan artian semakin dini manusia mengenali bakat yang dimiliki maka dengan hal itu manusia dapat lebih memaksimalkan bakatnya sehingga bisa lebih optimal.
Kekurangan.
Teori ini memiliki pandangan seolah-olah sifat manusia tidak bisa diubah karena telah ditentukan oleh sifat turunannya. Bila dari keturunan baik maka akan baik dan bila dari keturunan jahat maka akan menjadi jahat. Jadi sifat manusia bersifat permanen tidak bisa diubah. Teori ini memandang pendidikan sebagai suatu yang pesimistis serta mendeskreditkan golongan manusia yang kebetulan memiliki keturunan yang tidak baik.
Bentuk-bentuk Implementasi dalam Pembelajaran.
Implikasi teori Nativisme terhadap pendidikan/pembelajaran yaitu kurang memberikan kemungkinan bagi pendidik dalam upaya mengubah kepribadian peserta didik. Berdasarkan hal itu peranan pendidikan atau sekolah sedikit sekali dapat dipertimbangkan untuk dapat mengubah perkembangan peserta didik. Akan tetapi hal yang demikian justru bertentangan dengan kenyataan yang kita hadapi, karena sudah ternyata sejak zaman dahulu hingga sekarang orang berusaha mendidik generasi muda, karena pendidikan ituhal yang dapat, perlu, bahkan harus dilakukan. Jadi konsepsi Nativisme ini tidak dapat dipertahankan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Para penganut aliran nativisme berpandangan bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan bahwa “yang jahat akan menjadi jahat, dan yang baik menjadi baik. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak sendiri dalam proses belajarnya. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Penganut pandangan ini menyatakan bahwa jika anak memiliki pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya apabila mempunyai pembawaan baik, maka dia menjadi orang yang baik. Pembawaan buruk dan pembawaan baik ini tidak dapat dirubah dari kekuatan luar.
3. Teori Kognivistik
Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.
Istilah kognitif sendiri banyak dipopularkan oleh piaget dengan teori perkembangan kognitifnya, yang sebenarnya telah dikembangkan oleh Wilhelm Wundut (Bapak Psikologi). Menurut Wundut kognitif adalah sebuah proses aktif dan kreatif yang bertujuan membangun struktur melalui pengalaman-pengalaman. Wundut percaya bahwa pikiran adalah hasil kreasi para siswa yang aktif dan kreatif yang kemudian disimpang di dalam memori.
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.
a. Tokoh-tokoh Teori Belajar Kognitivistik.
1. Jean Piaget (perkembangan kognivistik).
Salah satu cara mengidentifikasi seorang teuritisi adalah dengan melihat variabel perantara yang dipostulasikan. Piaget menggunakan skema sebagai variabel perantara favoritnya. Skemata lebih umum sifatnya daipad kognisi yang kita bahas sejauh ini. Skemata adalah cara mempersepsi, memahami, dan berpikir tentang dunia. Skemata mencakup beberap jenis antisipasi , terkait dengan cara berlangsungnya suatu peristiwa pada umunya. Pembentukan dan perubahan skemata ini menjadi hakikat perkembangan kognitif.
Tentu saja, seorang anak mamiliki skemata yang relevan dengan bermacam-macam jenis topik, dan jumlahnya semakin banyak ketika anak mendekati masa dewasa. Piaget terutama tertarik dengan skemata-skemata yang terkait dengan dunia fisik. Skemata bisa berubah dan perubahan seperti itu penting artinya dalam perkembangan kognitif. Proses berubahnya skemata disebut akomodasi. Ketika seorang anak atau siapa saja, memiliki pengalaman yang tidak konsisten dengan suatu skema, maka skema tersebut cenderung berubah untuk mengakomodasi input baru ini. Sebagai contoh, lumrah bagi anak-anak sekitar usia 6 tahun untuk menjalankan skema bahwa benda yang bobotnya ringan akan mengapung dan benda yang bobotnya berat akan tenggelam. Ketika mereka diminta untuk membuat prediksi terhadap kayu dan logam, mereka menunjuk bahwa bahwa sebuah balok kayu yang besar (dan bobotnya yang berat) akan tenggelam, sementara sebatng logam kecil akan mengapung. Namum demikian ketika mereka berulang-ulang melihat prediksi mereka terbukti keliru, skema mereka menjadi semakin sulit dipertahankan. Secara bertahap mereka pun mulai meraba-raba skema baru yang lebih memadai. Untuk sementara mereka mungkin sampai pada skemata spesifik seperti bahwa kayu mengapung, sementara logam dan batu tenggelam. Pada akhirnya mereka sampai pada suatu skema baru yang bersifat sederhana dan umum seperti skema lainnya.
Proses akomodasi yang digunakan anak-anak untuk memperbaiki skemata mirip dengan yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memperbaiki skemata mereka mirip dengan yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memperbaiki skemata teknis mereka. Dan memang, persoalan mengenai bagaiman membedakan secara konsisiten antara benda yang mengapung dan tenggelam pada masanya dulu juga merupakan persoalan para ilmuwan sebagaimana halnya sekarang menjadi persoalan anak-anak.
Menurut Suhaidi Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap:
Tahapan pertama disebut sensori motor. Tahapan ini berlangsung sejak lahir sampai usia 2 tahun. Selama periode ini anak membentuk konsepsi-konsepsi paling dasar mengenai hakikat dunia material. Ia pembelajaran bahwa sebuah objek yang menghilang bisa muncul kembali. Ia pembelajaran bahwa objek tertentu adalah objek yang sama meskipun terlihat lain sekali ketika dipandang dari sudut yang berbeda atau dalam terang cahaya yang berbeda. Ia menemukan bagaimana tindakannya bisa mempengaruhi objek-objek dan memperoleh pemahaman paling dasar mengenai sebab akibat. Dengan demikian dunianya pun semakin ia pahami sebagai suatu susunan rapi yang terdiri atas benda-benda yang bersifat permanen.
Tahapan kedua adalah tahapan praoperasional. Berlangsung dari usia 2 tahun sampai 7 tahun. Pada tahapan ini anak mulai memperlihatkan efek yang dihasilkan dari pembelajaran bahasa. Ia mampu mempersentasikan benda dan kejadian secara simbolis ; ia bukan hanya berbuat sesuatu pada mereka. Anak memiliki representasi internal mengenai benda-benda sebelum ia memiliki kata-kata untuk mengungkapkannya. Representasi internal ini membuat anak lebih fleksibel dalam menghadapi dunia secara adaptif, dan dengan melekatkan kata-kata pada benda itu membuat ia memiliki kekuatan yang lebih besar melalui komunikasi.
Tahapan ketiga adalah operasi konkret, yang berlangsung dari sekitar usia 7 sampai 11 tahun. Tahapan ini menunjukkan adanya peningkatan fleksibilitas yang melebihi tahapan praoperasional. Jenis-jenis yang terkandung dalam tahapan ini menvakup upaya mengklasifikasi, mengkombinasi, dan membandingkan. Anak dalam tahapan operaso konret bisa menangkap hubungan yang ada di antara hierarki-hierarki istilah, seperti bangau, burung, dan makhluk hidup. Tidal seperti anak praoperasional, ia tahu bahwa operasi-operasi bisa mengalami pembalikan urutan. Apa yang di tambah, bisa dikurangi, dan materi tertentu yang telah berubah bentuknya bisa dipulihkan ke bentuk semula. Seorang anak pada tahapan ini tidak akan membuat kekeliruan seperti yang dibuat oleh anak praoperasional yang mungkin berkata: “ Aku pumya saudara, tapi dia tidak punya saudara”! sebagaimana halnya tahapan praoperasional bisa dikaitkan dengan awal tumbuhnya bahasa, begitu pula tahapan operasi konret bisa dikaitkan dengan permulaan sekolah.
Tahapan keempat dan terakhir adalah operasi formal, yang berawal dari sekitar usia 11 tahun berupa peningkatan cara berpikir abstrak yang berlangsung hingga sekitar usia 16 tahun. Pada tahapan ini kapasitas anak untuk melakukan manipulasi simbolis mencapai puncaknya. Meski anak-anak pada tahapan sebelumnya sudah mampu malakukan sejumlah operasi logika, mereka melakukannya dalam konteks situasi konret. Sekarang orang tersebut bisa memandang persoalan-persoalan secara abstrak. Ia bisa menilai validitas silogisme menurut struktur formalnya, terlepas dari isinya. Ia bisa mengeksplorasi berbagai macam cara untuk merumuskan suatu masalah dan melihat apa konsekuensi logisnya. Ia siap berpikir menurut proposisi-proposisi abstrak yang sesuai dengan dunia nyata yang ia amati.
Ketika anak melewati satu tahapan ke tahapan lainnya, skematanya mengalami perubahan dengan mengakomodasi pengalaman-pengalaman baru. Pada masing-masing tahapan ia berusaha untuk mengasimilasikan pengalaman-pengalaman baru itu ke dalam skematanya yang sudah ada, namun seringkali ia menemukan kesenjangan. Suatu kesenjangan miungkin akan membuat ia bingung, namun serangkaian kesenjangan akan secara bertahap menghasilkan akomodasi dan mengubah skema yang relevan menuju tahapan berikutnya.
2. Teori Jerome Bruner (Discovery Learning).
Dasar dari teori Bruner adalah ungkapan Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif belajar di kelas. Konsepnya adalah belajar dengan menemukan (discovery learning), siswa mengorganisasikan bahan pelajaran yang dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan berpikir anak. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses penemuan personal (personal discovery) oleh setiap individu murid. Inilah tema pokok teori Bruner.
Guru harus memberikan keleluasaan kepada siswa untuk menjadi pemecah masalah (problem solver). Biarkan siswa menemukan arti hidup bagi dirinya sendiri dan memungkinkan mereka mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa mereka sendiri. Siswa di dorong dan disemangati untuk belajar sendiri melalui kegiatan dan pengalaman. Peran guru terutama untuk menjamin agar kegiatan belajar menimbulkan rasa ingin tahu (kuriositas) siswa, meminimalkan resiko kegagalan belajar dan agar belajar relevan dengan kebutuhan siswa.
Bruner meyakini bahwa pembelajaran tersebut bisa muncul dalam tiga cara atau bentuk, yaitu: enaktif, ikonik dan simbolik.
Pembelajaran enaktif mengandung sebuah kesamaan dengan kecerdasan inderawi dalam teori Piaget. Pengetahuan enaktif adalah mempelajari sesuatu dengan memanipulasi objek -melakukan pengatahuan tersebut daripada hanya memahaminya.
Pembelajaran ikonik merupakan pembelajaran yang melalui gambaran. dalam bentuk ini, anak-anak mempresentasikan pengetahuan melalui sebuah gambar dalam benak mereka. Anak-anak sangat mungkin mampu menciptakan gambaran tentang pohon mangga dikebun dalam benak mereka, meskipun mereka masih kesulitan untuk menjelaskan dalam kata-kata.
Pembelajaran simbolik, ini merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui representasi pengalaman abstrak (seperti bahasa) yang sama sekali tidak memiliki kesamaan fisik dengan pengalaman tersebut.
Tujuan pokok pendidikan menurut Bruner adalah guru harus memandu para siswanya sehingga mereka dapat membangun basis pengetahuannya sendiri dan bukan karena diajari melalui memorisasi hafalan. Informasi-informasi baru dipahami siswa dengan cara mengklasifikasinya berlandaskan pengetahuan terdahulu yang telah dimilikinya.
3. Teori David P. Ausubel Teori David P. Ausubel.
Dalam teorinya Ausubel mengemukakan bahwa teorinya itu terkait dengan sifat-sifat makna, dan ia percaya bahwa dunia luar akan memberikan makna terhadap pembelajaran, hanya jika berbagai konsep yang berasal dari dunia luar itu telah mampu diubah menjadi kerangka isi oleh siswa.
Makna diciptakan melalui beberapa bentuk hubungan ekuivalen antara bahasa (simbol) dan konteks mental, yang melibatkan 2 proses,
a. Resepsi, yang ditimbulkan melalui pembelajaran verbal yang bermakna.
b. Penemuan, yang terlibat dalam pembentukan konsep dan pemecahan masalah.
Karya-karya Ausubel sering dibandingkan dengan karya Bruner. Keduanya memiliki kemiripan pandangan tentang sifat hierarkis dari pengetahuan, tetapi Bruner lebih menekankan pada proses penemuan, sedangkan Ausubel lebih berfokus pada metode pembelajaran verbal dalam berbicara, membaca dan menulis.
4. Teori Robert M. Gagne.
Salah satu teori yang berasal dari psikolog kognivistik adalah teori pemrosesan informasi yang dikemukakan oleh Robert M. Gagne. Menurut teori ini belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi dalam otak manusia. Sedangkan pengolahan otak manusia sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Reseptor (alat indera) : menerima rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi rangsaangan neural, memberikan symbol informasi yang diterimanya dan kemudian di teruskan.
b. Sensory register (penempungan kesan-kesan sensoris) : yang terdapat pada syaraf pusat, fungsinya menampung kesan-kesan sensoris dan mengadakan seleksi sehingga terbentuk suatu kebulatan perceptual. Informasi yang masuk sebagian masuk ke dalam memori jangka pendek dan sebagian hilang dalam system.
c. Short term memory ( memory jangka pendek ) : menampung hasil pengolahan perseptual dan menyimpannya. Informasi tertentu disimpan untuk menentukan maknanya. Memori jangka pendek dikenal juga dengan informasi memori kerja, kapasitasnya sangat terbatas, waktu penyimpananya juga pendek. Informasi dalam memori ini dapat di transformasi dalam bentuk kode-kode dan selanjutnya diteruskan ke memori jangka panjang.
d. Long Term memory (memori jangka panjang) : menampung hasil pengolahan yang ada di memori jangka pendek. Informasi yang disimpan dalam jangka panjang, bertahan lama, dan siap untuk dipakai kapan saja.
e. Response generator (pencipta respon) : menampung informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dan mengubahnya menjadi reaksi jawaban.
b. Sistem Pembelajaran kognivistik.
Mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan mengembangkan kecakapan akademis lainnya bergantung pada sistem kognivistik. Sistem kognivistik mengandalkan input sensoris dan berfungsinya perhatian, pemrosesan informasi, dan beberapa subsistem memori secara memadai untuk mengonstruksi pengetahuan dan kecakapan. Yang juga penting, sistem kognivistik berfungsi paling baik jika sistem-sistem lain emosional, sosial fisik, atau reklektif tidak bersaing menarik perhatian. Jika sistem-sistem cenderung bersaing dan bukan bekerja sama, maka pembelajaran secara drastis akan menurun.
Masih ada aspek penting lain agar sistem kognivistik berfungsi efektif di kelas. Guru harus menunjukkan minat dan memahami dengan baik kandungan materi yang mereka ajarkan karena siswa dengan cepat menilai guru dan memutuskan apakah guru menguasai dan menikmati materi yang diharapkannya dipelajari anak-anak. Jika siswa merasa bahwa guru antusias terhadap materinya, antusiasme itu menular karena mendorong hasrat kuat untuk belajar dan meraih prestasi akademis. Guru harus memiliki minat besar materi yang mereka ajarkan dan menunjukkan niat yang jelas dan pengharapan yang tinggi bahwa anak-anak akan menyukai pelajarannya. Tentu saja, guru akan membangkitkan sikap serupa jika ia menunjukkan penerimaan dan penghargaan terhadap siswa berdasarkan kelebihan dan gaya belajar yang disukai masing-masing
1. Pandangan Teori kognivistik terhadap Belajar Mengajar dan Pembelajaran.
Teori kognivistik adalah teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati, melihat, menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori kognivistik menyatakan bahwa proses belajar terjadi karena ada variabel penghalang pada aspek-aspek kognisi seseorang. Teori belajar kognivistik lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.
4. Teori Konstruktivistik.
a. Konsep Dasar Teori Belajar Konstruktivistik
Pandangan Konstruktivistik mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha memberi makna oleh siswa terhadap pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi yang menuju kepada pembentukan struktur kognitifnya. Proses belajar sebagai usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamnnya melalui proes asimilasi dan akomdasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju kepada kemutakhiran struktur kognitifnya. Guru-guru konsytruktivistik yang mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, kegaiata pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.
Konstruktivistik merupakan teori belajar dari piaget. Konstruktivistik juga bagian dari teori kognitif (Muchith, 2008:71). Teori Konstruktivistik dikembangkan oleh Piaget pada pertengahan abad 20 (Sanjaya,2009:123). Konstruktivistik adalah sebuah gerakan besar yang memiliki posisi filosofis sebesar strategi pendidikan. Konstruktivistik sangat berpengaruh di bidang pendidikan, dan memunculkan metode dan strategi mengajar baru (Muijs dan Reynolds, 2008:95).
1. Teori Belajar Konstruktivistik Jean Piaget.
Jean piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat Konstruktivistik, yang teori pengetahuannya dikenal dengan adaptasi kognitif. Manusia berhadapan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapi secara kognitif (mental). Untuk itu, manusia harus mengembangkankan skema pikirannya lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut.
Piaget (1967, 1970) mengembangkan konsep dan metode teori dasar untuk mengkaji proses kognitif. Teori dan penelitian Piaget (1967) mengenai perkembangan kognitif menyarankan bahwa anak-anak tumbuh melalui beberapa tingkatan (stages) yang berbeda dalam perkembangan kognitif dan bayi sampai dewasa. Menurut Piaget tingkat pertama perkembangan kognitif membangun fondasi untuk perkembangan konsepual dalam tindakan, dimulai dengan tindakan sensori motorik dan refleksi. Tingkatan selanjutnya membangun tingkat kognisi yang lebih tinggi pada skema yang terbentuk sebelumnya. Piaget menawarkan statement ringkas pada teorinya tentang meaning making: “otak mengorganisasi dunia dengan mengorganisasi dirinya”. (Piaget, 1937/1971:311). (Robert, 2004:70).
Selain itu, Piaget juga berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk menngkontruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan (Sanjaya, 2009:124).
Jelas, jika asimilasi adalah satu-satunya proses kognitif, maka tak akan ada perkembangan intelektual sebab organisme hanya akan mengasimilasikan pengalamnnya ke dalam struktur kognitif. Namun, proses penting kedua menghasilkan mekanisme untuk perkembangan intelektual yaitu accomodation (akomodasi), proses memodifikasi struktur kognitif.
Setiap pengalaman yang dialami seseorang akan melibatkan asimilasi dan akomodasi. kejadian-kejadian yang berkoresponden dengan skemata organisme membutuhkan akomodasi. Jadi, semua pengalaman melibatkan dua proses yang sama-sama penting: pengenalan atau mengetahui, yang berhubungan dengan asimilasi dan akomodasi, yang menghasilkan modifikasi struktur kognitif. modifikasi ini dapat disamakan dengan proses belajar. dengan kata lain, kita merespon dunia berdasarkan pengalaman yang kita alami sebelumnya. Aspek unik dari pengalaman ini menyebabkan perubahan dalam struktur kognitif (akomodasi). Akomodasi karenanya menyediakan sarana utama bagi perkembangan intelektual.
2. Paul Suparno SJ (Muchith, 2008:73).
Paul Suparno SJ (Muchith, 2008:73) menyatakan bahwa model pembelajaran yang dianggap tepat menurut teori Konstruktivistik adalah model pembelajaran yang demokratis dan dialogis. Pembelajaran harus memberikan ruang kebebasan kepada siswa untuk melakukan kritik, memiliki peluang yang luas untuk mengungkapkan ide atau gagasannya, guru tidak memiliki jiwa otoriter dan diktator.
Dengan demikian secara konseptual, Budiningsih (2005: 58) mengemukakan bahwa belajar jika dipandang dari segi kognitif, bukan sebagai peroleh informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara kepada mutakhiran struktur kognitif. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Proses tersebut berupa “…constructing and restructuring of knowledge and skills (schemata) within the individual in a complex network of increasing conceptual consistency…”. pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh dindividu tersebut tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun di luar kelas.
b. Proses Belajar Menurut Teori Konstruktivistik.
Menurut cara pandang teori Konstruktivistik bahwa belajar adalah proses untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan. Artinya siswa akan cepat memiliki pengalaman jika pengetahuan itu dibangun atas dasar realitas yang ada di dalam masyarakat. Penekanan teori konstruktivisme bukan pada membangun kualitas kognitif, tetapi lebih pada proses untuk menemukan teori yang dibangun dari realitas lapangan (Muchith, 2008: 71).
Belajar bukanlah proses tekonologisasi (robot) bagi siswa, melainkan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan sehingga proses pembelajaran tidak hanya meyampaikan materi yang bersifat normatif (tekstual) tetapi juga harus juga menyampaikan materi yang bersifat kontekstual.
Teori Konstruktivistik membawa implikasi dalam pembelajaran yang harus bersifat kolektif atau kelompok. Proses sosial masing-masing siswa harus diwujudkan. C. Asri Budiningsih menyatakan bahwa keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh peran sosial yang ada pada diri siswa. Dalam situasi sosial akan terjadi situasi saling berhubungan, terdapat tata hubungan, tata tingkah laku dan sikap di antara sesama manusia. konsekuensinya, siswa harus memiliki keterampilan untuk menyesuaikan diri (adaptasi) secara tepat (Muchith, 2008: 72).
Dalam kaitannya dengan ini, Bettencourt (1989) mengemukakan bahwa ada tiga penekanan dalam teori belajar Konstruktivistik yaitu:
1. peran keaktifan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara makna.
2. pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna.
3. mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Peran guru dalam pembelajaran menurut teori Konstruktivistik adalah lebih sebagai fasilitator atau moderator. Artinya guru bukanlah satu-satunya sumber belajar yang harus selalu ditiru dan segala ucapandan tindakannya selalu benar, sedang murid sosok manusia yang bodoh, segala ucapan dan tindakannya tidak selalu dapat dipercaya atau salah. Proses pembelajaran seperti ini, cendrung menempatkan siswa sebagai sosok manusia yang pasif, statis dan tidak memiliki kepekaan dalam memahami persoalan (Muchith, 2008:72-73).
Sebagai fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Agar dapat melaksanakan peran sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, Sanjaya (2008: 23-24)
B. Analisis Tentang Metode Pengajaran Bahasa
1. Metode Tradisional
a. Focus berbicara
Dasar berbicara menganggap penerjemahan sebagai musush utama. Komunikasi lisan sebagai suatu yang primer dalam pemerolehan bahasa. Metode dasar ujaran cenderung menyediakan lingkungan bicara yang memungkinkan pelajar mempelajari bahasa.
Membaca dan menulis juga mudah didapatkan tetapi hanya untuk dimudahkan dalam ujaran.
b. Belajar makna
Memperoleh makna melalui pajanan objek,actual,pristiwa atau situasi yang digunakan target.
Makana yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan tidak menggunakan B1 untuk menerjemahkan.
c. Belajar Struktur
Belajar dengan induksi,berarti, belajar harus menemukan urutan konstituen sendiri. Penting bagi mereka untuk membaca kalimat pendek disamping mengalami situasi yangmengandung beberapa prilaku.
2. TGT
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
3. Natural Langsung
Direct artinya langsung. Direct method atau metode langsung yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran Bahasa Asing dimana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam mengajar. Jika ada suatu kata- kata yang sulit dimengerti anak didik, guru dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemonstrasiakan, menggambarkan dan lain- lain.
Metode ini lahir sebagai reaksi terhadap penggunaan metode nahwu wa tarjamah yang mengajarkan bahasa seperti bahasa yang mati. Dan sebelumnya sejak tahun 1850 telah banyak muncul propaganda yang mengampanyekan agar menjadikan pengajaran bahasa asing itu hidup, menyenangkan dan efektif. Propaganda ini menuntut adanya perubahan yang mendasar dalam metode pengajaran bahasa asing. Sehingga secara cepat lahirlah metode pembelajaran baru yang disebut dengan metode langsung.
Dalam metode ini selama mengajar guru berlangsung menggunakan bahasa yang diajarkan, sedangkan bahasa pelajar tidak boleh digunakan. Langkah-langkah pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan metode langsung, yaitu: memilih topic yang sesuai dengan taraf kemampuan peserta didik.Kemudian guru mengucapkan kata-kata atau kalimat yang sesuai dengan tingkat kemampuan anak didik dengan menggunakan alat peraga bila diperluka (Ibrasyi, 1955:264).Hal ini sesuai dengan Yusuf (1997:193) yang mengatakan bahwa dalam pembelajaran bahasa Arab perlu dipersiapkan materi dengan baik dan ditetapkan topic pembahasan. Materi disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kemampuan anak didik,dan dimulai dengan kata-kata yang dapat dimengerti anak didik. Yusuf, 1997:193).
4. Metode Offbit
“Manusia berbahasa ibarat burung bersayap”, demikian kata George H. Lewis. Bahasa tak terlepas dari hakikat keberadaan manusia karena itulah yang menjadi piranti komunikasi antar manusia. Pada ungkapan di atas nampak bahwa manusia tanpa bahasa sama seperti burung tanpa sayap, karena sayaplah yang mecirikan burung dan bahasalah yang mencirikan manusia.
Noam Chomsky, bapak Linguistik dunia, menyebutkan bahwa jika kita mempelajari bahasa maka pada hakikatnya kita sedang mempelajari esensi manusia, yang menjadikan keunikan manusia itu sendiri. Manusia dirancang untuk berjalan, tetapi tidak diajari agar bisa berjalan. Demikian pula dalam berbahasa, tidak seorangpun bisa diajari bahasa karena manusia diciptakan untuk berbahasa. Dalam artian bahwa pada kenyataannya manusia akan berbahasa tanpa bisa dicegah agar dia tidak memperoleh bahasa.
Bahasa dikatakan menjadi keunikan yang mencirikan manusia dan membedakannya dengan makhluk hidup lainnya. Pernyataan ini tidak berarti bahwa hanya manusia yang memiliki piranti komunikasi. Binatang disebut tidak berbahasa tapi tetap bisa berkomunikasi. Ocehan burung kakatua yang bisa menyerupai ucapan manusia; perintah ‘duduk’ atau ‘kejar’ yang dipahami anjing; kemampuan monyet untuk memahami perintah ujaran manusia; nyanyian burung yang berirama; tempo bunyi yang didengungkan lebah; suara-suara yang dikeluarkan ikan paus; semua itu adalah contoh piranti komunikasi binatang. Piranti ini tidak serta merta disebut bahasa walaupun memang menyerupai bahasa.
5. Sillent Way
Silent Way adalah suatu model pembelajaran dengan keadaan diam. Dimana silent way merupakan ide bahwa guru seharusnya diam selama proses pembelajaran tetapi peserta didik harus terdorong untuk berbicara sebanyak mungkin,dalam proses pembelajaran terdapat prinsip dasar yaitu,
a. Pembelajaran akan lebih mudah jika peserta didik menemukan atau menghasilkan banding hanyamengingat dan mengualangi apa yang dipelajari.
b. Pembelajaran menjadi lebih mudah dengan penyertaan mediasi objek fisik.
c. Pembelajaran menjadi lebih mudah melalui pemecahan yang menyangkut dengan materi yang diajarkan.
Tujuan utama guru menggunakan silent way adalah mengoptimalkan cara peserta didik merubah waktu pengalaman mereka belajar. Peserta didik dibimbing untuk menggunakan sifat yang melekat tentang apa yang koheren untuk mengembangkan krateria tentang apa yang benar dalam memahami materi yang akan diajarkan. Pembelajaran silent way mengajarkan pada peserta didik bagaimana bekerja secara luas, mengungkapkan pendapat untuk mengungkapkan pikiran,perasaan prepsi dan opini serta dapat bekerja dengan gurunya secara efektif.
6. Suggestopedy
metode suggestopedy dalam pembelajaran menulis puisi dimungkinkan mengatasi kendala yang menghambat proses pembelajaran yang terjadi dalam kelas. Metode ini memberikan perhatian yang lebih pada kondisi siswa dan kondisi kelas. Metode ini memang menekankan pada pemberian sugesti oleh guru terhadap siswa, sehingga terbentuk situasi yang sangat mendukung bagi siswa untuk berimajiasi dan berkreasi menuangkan pikiran dan ide-idenya ke dalam sebuah puisi.
Metode ini dapat dilakukan dengan banyak cara yang tujuan pokoknya pada pemberian sugesti pada siswa. Sehingga dengan sugesti itu siswa diharapkan memperoleh ketenangan baik secara fisik maupun psikis dalam pembelajaran bahasa. Penggunaan instrumen musik yang mampu menenangkan dan membangkitkan daya imajinasi siswa dapat digunakan dalam metode ini. Kehadiran musik tersebut diharapkan mampu membawa siswa pada situasi yang mendukung siswa untuk berimajinasi dan berkreasi dalam mengungkapkan pikiran-pikiran dan perasaan ke dalam sebuah puisi.
Kondisi siswa yang santai, tenang, dan tanpa paksaan dalam belajar, akan membentuk situasi kolektif yang mendukung juga untuk pembelajaran dalam kelas. Situasi kelas yang tenang, santai, tidak ada peraaan paksaan pada siswa akan sangat mendukung untuk proses selanjutnya. Kondisi siswa yang mempunyai perasaan tanpa paksaan dalam belajar, akan menghasilkan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.
Pada dasarnya pembelajaran bahasa dalam kelas memerlukan faktor yang mendukung proses pembelajaran bahasa. Salah satunya pembentukan kondisi siswa dan kelas yang mendukung proses kreatif dan imajinatif siswa. Dengan adanya kondisi dan situasi yang mendukung, masalah yang dihadapi guru seperti dikemukakan sebelumnya, dapat teratasi dengan penggunaan metode yang tepat.
7. Metode Kontemporer
a. Penyampaian materi dan aktivitas dalam ruang
Dari permulaan siswa diperkenalkan kepada seluruk kalimat dan konteknya.pengajar mendemonstrasikan makna kata dan kalimat sampai menentukan objek-objek dan memperlihatkan semua perintah agar bisa dilihat melalui gerakan.
b. Sebuah proyek demonstrasi siswa jepang yang belajar bahasa jerman
Para siswa yang tidak belajar bahasa jerman sebelumnya, belajar untuk memahami lebih dari 50 kata yang berbeda dalam waktu satu jam lebih sedikit.para siswa akan didorong supaya ia percaya diri saat mereka ragu-ragu dalam gerakan pertamanya agar bisa menampilkan permainan mereka secara rapid an tenang.
Orang dewasa mungkn lebih memerlukan waktu, meski mereka telah melihat pengajar mengerjakan hal yang sama seperti yang merka kerjakan.
8. Respon Fisik Total
Respon Fisik Total (Total Physical Response) adalah sebuah metode pengajaran bahasa yang dibangun sekitar koordinasi ucapan dan tindakan. Metode ini mencoba untuk mengajar bahasa melalui aktivitas fisik (motor). Dikembangkan oleh James Asher, seorang profesor psikologi di San Jose State University, California, ia mengambil beberapa tradisi, termasuk perkembangan psikologi, teori belajar, dan pendidikan kemanusiaan, seperti halnya pada prosedur pengajaran bahasa yang diusulkan oleh Harold dan Dorothy Palmer pada tahun1925. Mari kita mempertimbangkan secara singkat teladan ini untuk Respon Fisik Total (Total Physical Response).
Respon Fisik Total ini terkait dengan “teori jejak” ingatan dalam psikologi (misalnya Kantona 1940) yang menganggap bahwa lebih sering atau lebih intensif sambungan ingatan ditelusuri, semakin kuat asosiasi ingatan dan akan semakin besar kemungkinan hal itu akan diingat kembali. Menyelidiki kembali dapat dilakukan secara verbal (misalnya dengan pengulangan hafalan) dan/atau dalam hubungannya dengan aktivitas motorik. Kegiatan penelusuran gabungan, seperti latihan verbal disertai dengan aktivitas motorik, hal itu meningkatkan kemungkinan mengingat yang sukses.
Dalam perkembangannya, Asher melihat keberhasilan orang dewasa dalam belajar bahasa kedua sebagai proses sejajar dengan kemahiran bahasa pertama anak. Dia menyatakan bahwa cara berbicara diarahkan pada anak-anak terdiri dari perintah dasar, dimana anak menanggapi secara fisik sebelum mereka mulai menghasilkan respon verbal. Asher merasa orang dewasa seharusnya merekapitulasi proses dimana anak-anak mendapatkan bahasa ibu mereka.
9. Komunikatif Natural
Awalnya, muncul pertanyaan dalam mengkategorisasikan Pengajaran Bahasa Komunikatif-apakah ia termasuk ke dalam metode atau pendekatan? Brown (2007: 241) menyatakan bahwa PBK sebaiknya dipahami sebagai pendekatan, bukan metode. Pendapat ini juga didukung oleh Richards & Rodgers (2001: 172), Littlewood (1987), Larsen-Freeman (1987: 123), Nunan (1989:12), Aziez & Alwasilah (1996), dan Iskandarwassid & Sunendar (2008: 55). Hal ini dikarenakan PBK adalah sebuah pendirian teoretis terpadu (unified) tetapi memiliki basis luas tentang watak bahasa (the nature of language) dan tentang pembelajaran dan pengajaran bahasa (Brown, 2007: 241).
Brown (2007: 241) memberikan empat karakteristik yang terkait adalah
1. Sasaran kelas difokuskan pada semua komponen kompetensi komunikatif (communicative competence) dan tidak terbatas pada kompetensi gramatikal atau linguistik.
2. Teknik-teknik bahasa dirancang untuk melibatkan para pembelajar dalam penggunaan pragmatik, otentik, dan fungsional bahasa untuk tujuan bermakna. Bentuk-bentuk bahasa yang tertata rapi bukan merupakan fokus sentral melainkan aspek-aspek bahasa yang membantu pembelajar mewujudkan tujuan-tujuan komunikatif.
3. Kefasihan dan akurasi dipandang sebagai prinsip-prinsip pelengkap saja yang mendasari teknik-teknik komunikatif. Terkadang kefasihan harus dikedepankan daripada akurasi untuk membuat pembelajar tetap terlibat secara bermakna dalam penggunaan bahasa.
4. Dalam kelas komunikatif, para murid pada akhirnya harus menggunakan bahasa secara produktif dan reseptif, dalam konteks spontan.
C. Pendekatan Pengajaran Bahasa
1. Community Language Learning (CCL)
Community language learning (CLL) tumbuh dari suatu ide untuk menrapkan konsep psikoterapi dalam pengajaran bahasa. Dalam eksperimen yang dimulai tahun 1957, Charles A. Curran menerapkan konsep psikoterapi dalam bentuk konseling.
a. Prinsip Dasar CCL
Karena latar belakang pendidikan formal Curren adalah psikoterapi, dia mempararelkan konsep pengajaran bahasa sebagai personal antara seorang ahli ilmuwan dengan seorang pasien. Hal ini tercermin dari istilah yang dipakai “client” sebutan untuk para counselor (mahasiswa/guru).
Anggapan ini didasarkan bahwa pada saat seorang terjun dalam dunia atau arena yang baru seperti proses belajar-mengajar bahasa dia dikodrati dengan berbagai ciri manusia sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam lingkungan yang baru dimana dia merasa asing, dia di hinggapi oleh rasa tak nyaman (insecurity), rasa keterancaman (threat), rasa ketidak menentuan (anxiety), konflik dan berbagai perasaan lain yang secara tak tersadari menghalang-halangi dia untuk maju.
Landasan dasar dalam CCL, berbeda jauh dari konsep diatas, tugas utama seorang konselor adalah untuk menghilangkan, atau paling tidak mengurang segala perasaan negative para klientnya. Seorang konselor dituntut untuk memiliki sikap yang fasilitatif, baik dalam menukar pengetahuannya dan para klien maju dalam satu tahap demi tahap.
Dalam kaitannya dengan keadaan psikologi para siswa. Curran mengajukan enam konsep yang diperlukan untuk menumbuhkan “learning”. Enam konsep ini dicakup dalam satu singkatan yaitu, SARD:
- Security (rasa aman)
- Attention- aggression (perhatian –peran aktif siswa)
- Retention-reflection, dan (refleksi/intropeksi atau tes)
- Discrimination.(penjelasan).
b. Teknik Pelaksanaan Pengajaran
Karena dalanm CCL hubungan antara guru dan siswa adalah hubungan terapeutik antara seorang klien dengan konselornya, maka bentuk kelas dan proses belajar-mengajar pun berbeda dengan kelas dan cara yang konvensioanl. Dalam CCL tiap kelas terdiri dari 6 sampai 12 ,siswa, dan tiap siswa mempnyani seorang konselor. Pengaturan meja dankursi dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk semacam lingkaran. Konselor berada dibelakang klien/siswa, dan dapat pula dilakukan dengan pengaturan yang lain. Dalam CCL tidak digunakan satu tesk apapun, guru dan siswa berkolaborasi dan bebas menetukan materi apa yang akan dibahas.
c. Tahap-tahap Penguasaan
Tahap penguasaan dibagi menjadi lima bagian :
1. Embryonic stage (madasen di celce-murcia & Mcintosh, 1978:35), adalah tahap dimana ketergantungan siswa pada gurunya adalah 100 atau mendekati 100%. Pada tahap ini rasa ketidak menetuan siswa menghalang-halangi dia untuk memakai bahasa asing terutama di depan gurunya dan orang-orang lain yang dia tidak kenal. Tugas guru adalah untuk menghilangkan atau menguarangi perasaaan seperti ini dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan yang layak. Siswa diminta supaya aktifitas yang menjadi minat mereka untuk menyebutkannya dan melakukannya. Kemudian diminta untuk merefleksikan.
2. Self-Assertion Stage, tahap dimana siswa telah mendapat dukungan moral dari rekan senasibnya taupun dari guru mereka. Dan mereka telah mencoba untuk menemukan jati diri mereka sebagai penutur bahasa asing. Pada tahap ini tentu saja bahasa yang mereka gunakan barulah dalam bentuk yang sangat sederhana yang oleh slingker disebut interlanguage, serta ungkapan-ungkapan yang mereka gunakan masih dalam bntuk elementary.
3. Birth Stage, siswa secara bertahap mulai mengurangi pemakaian bahasa ibunya. Dia mulai terbiasa memakai bahasa kedua. Pada tahap ini guru atau konselor harus bertindak bijaksana dan memperhatikan segala aspek yang timbul pada tahap ini, dan harus mampu mengatasi lproblem yang dihadapi oleh siswa dengan pendekatan psikologi.
4. Pada tahap ini, siswa tidak lagi banyak diam pada waktu proses pembelajaran berlangsung, mereka sudah harus aktif berbicara.
5. Pada tahap terkahir adalah “independent Stage”, tahap dimana siswa telah menguasai semua bahan yang akan dibahas, dan siswa sudah bisa memperluas bahasanya dan memelajari pula aspek-aspek sosial dan budaya ada penutur asli.
d. Hasil yang dicapai.
Laporan yang didapat dari para peneliti dengan menggunakan metode ini adalah sangat memuaskan, dan paling tidak memberikan harapan yang cerah di masa depan. Eksperimen-eksperimen telah dilakukan menunjukkan hasil yang bagus.
2. Total physical response (TPR)
Total Physical Response (TPR) adalah metode yang dikembangkan oleh Dr James J. Asher, seorang profesor emeritus psikologi di San José State University, untuk membantu pembelajaran bahasa kedua. Metode ini bergantung pada asumsi bahwa ketika belajar bahasa kedua atau tambahan, bahasa diinternalisasi melalui proses memecahkan kode mirip dengan perkembangan bahasa pertama dan bahwa prosesnya memungkinkan untuk jangka panjang mendengarkan dan mengembangkan pemahaman sebelum berproduksi. Siswa merespon perintah yang membutuhkan gerakan fisik. TPR terutama digunakan oleh guru ESL / EAL, meskipun metode ini digunakan dalam mengajar bahasa lain juga. Metode ini menjadi populer di tahun 1970-an dan menarik perhatian atau loyalitas dari beberapa guru, tetapi belum mendapat dukungan umum dari pendidik utama.
a. Prinsip Dasar TPR
prinsip dasar dan teknik yang terdapat dalam pembelajaran metode TPR ini, yang terdiri atas:
1. Using Commands to Direct Behavior
2. Role Reversal
3. Action Sequence
4.Belajar bahasa kedua sejajar dengan belajar bahasa pertama dan harus merefleksikan proses alamiah yang sama.
5. Menyimak harus berkembang sebelum berbicara.
6. Anak merespon secara fisik atas bahasa lisan.
7. Jika menyimak pemahaman telah berkembang, ujaran lisan akan berkembang secara alamiah
b. Teknik Pelaksanaan Pengajaran
Berdasarkan Larsen & Freeman, 2000, ada tiga tehnik ketika melakukan pengajaran metode TPR.
1.Guru memperkenalkan kosa kata (vocabulary) yang akan dipakai. Contoh: Classroom Objects (pencils, pens, books, etc), Verb (put, take, leave,etc)
2.Guru memberi perintah dan memperagakannya bersama siswa.
3.Siswa mendemonstrasikan perintah-perintah yang diberikan secara individu lalu guru mengelaborasi perintah-perintah tadi.
4.Setelah merespon secara non-verbal, siswa belajar membaca dan menulis kata/frase tersebut. Ketika siswa mulai berbicara, activitas dikembangkan dengan menggambar atau permainan (games).
c. Tahap-tahap Penguasaan.
Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa diantaranya adalah dengan cara Dialog atau Percakapan (conversational Dialogue) dan Bermain Peran (Role Play). Dalam pelaksanaan pembelajaran tenyata tidaklah sulit, apalagi di era sekarang ini banyak informasi dan pengetahuan yang bisa kita temukan dengan mudah melalui televisi, surat kabar dan juga internet tanpa mengeluarkan dana yang besar, siswa juga dengan mudah mengerjakan tugasnya dan kita bisa dibuat “speechless” tidak bisa berkata-kata setelah melihat hasil pekerjaan mereka. Dan sebagai pendidik kita dituntut untuk lebih kreatif merancang pembelajaran kita agar dapat membawa mereka mencapai hasil yang sesuai dengan perkembangan dan keterampilan hidup di masa datang.
Rancangan kegiatan menggunakan pembelajaran Dialog atau Percakapan (Conversational Dialog) dan Bermain Peran (Role Play) dengan metode TPR dilaksanakan sebagai berikut :
1.Membuat iklan dengan gaya “Bintang Televisi”. (Pengajaran Advertisement). Dalam pembelajaran Short Functional Text atau Teks Fungsional Pendek berbentuk Iklan siswa diminta membawakan iklan yang sudah dipersiapkan sesuai produk yang mereka senangi secara audio visual dengan gaya seperti bintang iklan televisi, kemudian hasilnya ditayangkan dan dinilai bersama-sama. Karena model pembelajaran ini cukup menarik dan dilakukan dengan senang, siswa menjadi lebih termotivasi,berani, inovatif, percaya diri dan bergairah dalam belajar bahasa Inggris dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya dilakukan hanya dalam bentuk tampil tanpa membawa produk dan dibuat rekamannya.
2.Go Shopping to Mini Market ( Transaksional/Interpersonal (Tema : Shopping), Setelah siswa mendapatkan pemahaman tentang materi dialog transaksional dalam tema “Shopping” Siswa diajak ke mini market terdekat selama 2 jam pelajaran untuk mempraktikkan secara nyata bagaimana bertransaksi jual/beli menggunakan bahasa Inggris. Ternyata kegiatan ini mendapatkan sambutan hangat dan positif dari pihak mini market khususnya para kasir, karena mereka mau bertanya kepada siswa istilah-istilah atau kata-kata lainnya misalnya harga, nama produk dan lain-lain dan mereka dengan senang hati merespon para siswa dalam bahasa Inggris. Tentu saja dampaknya luar biasa, siswa menjadi lebih percaya diri karena para pembeli juga asyik menonton mereka dan malah ada yang mencoba untuk ikut berdialog.
3.Reporter Berita Televisi, Model pembelajaran ini saya buat sehubungan dengan teks News Item, teks tambahan khusus untuk siswa RSBI, tahapan nya adalah siswa secara berkelompok membuat berita (natural Disaster atau Bencana Alam ) yang pernah terjadi di Indonesia atau di dunia. Pengambilan rekaman dilakukan di luar sekolah hasilnya di rekam dan ditayangkan, lokasi shooting disetting sesuai dengan berita yang akan dibawakan dan menjadi proyek rahasia masing-masing kelompok. Dalam kegiatan ini siswa bebas mengeksplor ide mereka dan berlomba membuat tayangan yang terbaik karena hasilnya akan ditonton dan dinilai bersama-sama, dalam hal ini ada yang berperan sebagai pembaca berita, reporter lapangan, dan korban bencana. Dengan menggunakan model ini, terlihat sekali motivasi siswa sangat tinggi, sehingga keterampilan berbahasa terlihat meningkat dari diskusi kelompok yang dilakukan sebelum rekaman. Sangat berbeda dibandingkan dengan hanya tampil di depan kelas.
4.English Morning, Kegiatan ini adalah pengembangan dari keterampilan yang siswa peroleh di kelas dan dilakukan oleh seluruh siswa dan guru pada setiap hari jum’at pagi setelah melaksanakan olah raga. Pada kesempatan ini masing-masing siswa berkomunikasi dengan teman-teman disekelilingnya atau membuat kelompok dan bercerita tentang apa saja dibantu oleh guru-guru bahasa Inggris dan juga guru-guru non Bahasa Inggris yang ingin meningkatkan motivasi mereka untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Kegiatan yang dilakukan beragam ada permainan, sharing ide, pidato , bermain tebak kata, bernyanyi dan lain-lain. Terlihat sekali kekompakan dan saling bantu antar teman, yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris melebihi yang lain memotivasi dan membantu teman yang kurang kemampuannya dalam bahasa Inggris.
5.Practice your English with Native Speaker, Kegiatan ini juga termasuk pengembangan keterampilan yang sudah diperoleh siswa dari pembelajaran di kelasyang dilakukan di luar dari jam belajar dan tidak terjadwal, tetapi sudah beberapa kali dilaksanakan ketika penulis bertemu orang asing atau turis. Pertemuan bisa di suatu tempat ataupun jalan, penulis tidak segan dan malu-malu mengundang mereka untuk datang ke sekolah. Ternyata mereka antusias sekali apalagi ketika tahu penulis adalah seorang guru dan ingin sekali memperkenalkan siswa-siswanya bagaimana native speaker kalau berbicara bahasa Inggris. Hal ini memberikan dampak yang sangat positif kepada siswa karena mereka mendapatkan banyak sekali pengetahuan tentang penggunaan kata-kata bahasa Inggris dengan tepat dan juga pengetahuan lain yaitu tempat asal mereka. Siswa memiliki keberanian untuk berkomunikasi karena motivasi untuk bisa berbahasa Inggris yang sangat tinggi dan sampai sekarang ada beberapa siswa yang masih berhubungan dengan mereka menggunakan media sosial seperti facebook.
6.English Camp, kegiatan ini dilaksanakan untuk mengisi hari libur panjang para peserta didik dan bersifat pengembangan keterampilan berbahasa Inggris siswa. Ternyata dukungan para orang tua sangat tinggi agar anak-anak mereka dapat mengikuti kegiatan ini walaupun kegiatan ini memerlukan dana. Siswa selama lebih kurang satu minggu tinggal di sekolah dan mereka tidak diperkenankan untuk pulang, hanya orang tua yang boleh sekali-sekali menjenguk anak-anaknya. Kegiatan berbahasa Inggris dilakukan setiap waktu dan belajar sesuai jadwal yang sudah disiapkan, dan yang membuat para siswa tetap semangat karena selalu diisi dengan permainan-permainan yang menarik dan menyenangkan. Sebagai tambahan keimanan dan pengetahuan keagamaan para peserta camp yang muslim diwajibkan sholat berjamaah lima waktu dan waktu subuh diisi dengan ceramah selama 7 menit. Untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal dan pengetahuan baru, penulis mengadakan kerja sama dengan lembaga yang dinamai Kampung Inggris di Kediri.
7.Story Telling and English Drama ( PembelajaranTeks Narrative). Model pembelajaran ini dikembangkan dari hasil penulisan cerita naratif kemudian dipilih yang terbaik. Siswa selalu antusias dalam mengikuti pembelajaran teks naratif, karena mereka dapat mengeksplor kemampuan menulis dan berlomba-lomba membuat tulisan yang bagus dan menarik berasal dari daerah sendiri dengan cerita yang dibuat berdasarkan imajinasi mereka .Motivasi dalam menulis cerita meningkat karena siswa dapat menampilkan cerita yang merka tulis sendiri. Hasil tulisan mereka bisa dibawakan dalam bentuk Story Telling atau English Drama. Untuk Story Telling siswa dari SMP Negeri 1 Sampit selama 5 tahun berturut-turut mewakili kabupaten Kotim mengikuti lomba tingkat Provinsi. Ternyata model pembelajaran seperti ini yang sangat disukai siswa dibandingkan dengan hanya tampil di dalam kelas saja, dan yang lebih membuat siswa termotivasi adalah karena hasil tulisan terbaik mereka akan ditampilkan pada acara perpisahan siswa. Tidak dikira ternyata drama ataupun story telling berbahasa Inggris bisa menjadi acara yang ditunggu-tunggu pada setiap acara perpisahan. Selama ini drama bahasa Inggris sudah menjadi agenda tahunan dan sudah pada tahun ke empat tampil pada acara perpisahan dan selalu ditunggu-tunggu penonton.
d. Hasil yang dicapai.
Mahasiswa menerapkan langsung beberapa teknik (role-play) yang ada dalam metode The Total Physical Response dengan cara berdemonstrasi di depan kelas, dan Mahasiswa mampu menjelaskan dan menerapkan metode pembelajaran Total Physical Response dalam proses belajar mengajar di kelas.
3. The natural approach (NA)
NA dirintis pada tahun 1976 oleh seorang linguis bernama Tracy D. Terrel. Pandangannya adalah penguasaan bahasa lebih banyak bertumpu pada pemerolehan (acquisition), bukan pembelajaran (learning). NA juga bekerja sama dengan Teori Monitor yang diajukan oleh Stephen D. Krashen.
Istilah NA atau pendekatan alamiah didasarkan atas pandangan bahwa penguasaan (mastery) suatu bahasa lebih banyak bertumpu pada pemerolehan (acquisition) bahasa itu dalam konteks yang alamiah dan kurang pada pembelajaran aturan-aturan yang secara sadar dipelajari satu persatu. Karena adanya kaitannya antara pemerolehan dan pembelajaran, logislah jika perkembangan terakhir pendekatan alamiah ini bergandengan tangan dengan teori monitor yang diajukan oleh Stephen D Krashen pada tahun 1978. Kerjasama antara Terrel dan Krashen menghasilkan buku metode yang lengkap untuk metode ini, yakni sebuah buku yang berjudul The Natural Approach : Language Acquisition in The Clasroom.
Dalam NA, siswa harus didorong untuk berkomunikasi. Kompetensi komunikasi siswa tidak harus sempurna karena dalam kehidupan nyata ada hal-hal di luar bahasa yang membantunya memahami ajaran yang ia dengar. Dengan kata lain, pelajar NA kurang mulus dari segi linguistic. Krashen berpedoman bahwa hal ini wajar karena orang dewasa telah melampui keplastisan otaknya, tidak seperti anak kecil saat memperoleh bahasa ibunya.
NA menyajikan banyak kosakata dan koreksi melalui latihan atau PR. Situasi, fungsi, dan topik dikombinasikan untuk mengembangkan kemampuan dasar pelajar dalam berkomunikasi. Hanya dikatakan bahwa NA lebih baik daripada Metode Langsung.
a. Prinsip Dasar NA
Prinsip dasar pembelajaran The Natural approach adalah sebagai berikut.
1. Apersepsi
Pada tahap ini, siswa mengungkapkan pengetahuaanya tentang lafal, nada, tekanan, dan intonasi pada sebuah puisi.
2. Eksplorasi
Pada tahap ini, guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada peserta didik apa yang harus dicapai.
3. Elabolasi
Pada tahap elaborasi, siswa akan mendapatkan contoh puisi serta mengeksplorasi dari hasil membaca puisi. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok untuk memahami dan mendiskusiakannya. Setiap perwakilan kelompok membacakan puisi di depan, dan siswa yang lainnya memperhatikan atau menyimak pembacaan puisi. Dalam tahap ini guru akan memberikan umpan balik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa.
4. Klarifikasi
Pada tahap ini, guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok. Diskusi kelas dilakukan untuk memperoleh pembenaran materi tentang hasil proses pembelajaran membaca.
5. Penutup
Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan hal-hal yang sulit dan yang belum diketahui. Setelah itu guru merefleksi dan menanyakan kesulitan yang dihadapi siswa dalam membacakan puisi.
b. Teknik Pelaksanaan Pengajaran.
Prinsip-prinsip pendekatan alamiah (NA)
1. Pada tahap awal bertindak sebagai pendengar. Oleh karena itu ia tidak diwajibkan menguasai sebuah kata dan gramatika yang diucapkan si penutur asli. Penutur asli adalah ‘msein’ yang mampu mengkreasikan segala macam wujud bahasa selama wujud itu dimungkinkan di dalam sistem bahasa yang bersangkutan.
2. Pada tahap berikutnya, pembelajar bertindak selaku pembicara. Sebagai pembicara pada mulanya si pembelajar juga tidak diharapkan menguasai apalagi secara sempurna semua bentuk gramatika,lafal yang baik, kata-kata yang tepat dan lain-lainnya.
3. Banyaknya kesalahan dan ketidaktepatan yang dilakukan oleh pembelajar pada taraf permulaan adalah hal yang wajar, sama halnya dengan anak kecil yang belajar bahasa ibunya sendiri. Anak kecil dibarengi dengan pertumbuhan biologisnya dan dirangsang oleh masukan-masukan kebahasaan yang datang dari alam sekitarnya.
4. Bahasantara (interlanguage) merupakan ragam yang pasti ada pada pembelajar yang sedang belajar bahasa kedua. Oleh karena itu, keberadaannya tidak perlu dirisaukan. Implikasi dari sikap ini adalah bahwa koreksi terhadap kesalahan pembelajar tidak dilakukan pada waktu proses belajar di kelas, melainkan di luar kelas pada waktu pelatihan-pelatihan atau pekerjaan rumah yang khusus dimaksudkan untuk itu.
5. Penekanan pada komunikasi mengharuskan pendekatan alamiah menyajikan kosakata dalam jumlah banyak. Hal ini diperlukan karena di dalam pendekatan alamiah, komprehensi dan produksi benar-benar dibedakan. Selama pembelajar belum merasa siap untuk berbicara, ia tidak diminta berbicara.
c. Tahap-tahap Penguasaan.
menurut Bambang Setiadi,dkk (2004; 4.7) dapat dilihat dari tahap-tahap penguasaan sebagai berikut:
1. Tahap pre-production, anak berpartisipasi dalam kegiatan kelompok tanpa harus memberikan respon atau berbicara selain bahasa asing yang dipelajari. Kegiatan seperti ini misalnya dengan cara memperagakan atau menunjukkan perintah, ungkapan atau gambar-gambar yang diceritakan guru.
2. Tahap early- production , anak diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan sederhana yang diajukan oleh guru. Jawaban anak terdiri dari satu kata atau satu frase pendek.
3. Tahap speech-emergent, anak sudah terlibat dalam kegiatan bermain peran (role play) dan permainan (games)
d. Hasil yang dicapai.
Pengajaran bahasa dikatakan sebagai sebuah proses yang diperoleh karena mempunyai ciri bahwa bahasa aktif dalam otak bawah sadar (Subconcious) dan intuitif hal ini dapat diamati pada anak kecil yang dapat memahami dan mengetahui bahasa ibu yang menjadi bahasa asing bagi kita.
4. The Sillent Way
a. Prinsip Dasar
Silence dianggap sebagai cara yang terbaik untuk pembelajaran, karena dengan silence para pembelajar berkonsentrasi pada tugas yang diselesaikan dan cara-cara potensial untuk penyelesaiannya. Silence, yang menghindari pengulangan, menjadi alat bantu bagi kesadaran, konsentrasi, dan kesiapan mental.
b. Teknik Pelaksanaan Pengajaran
1. pembelajaran dipermudah jika si pembelajar mendapatkan dan menciptakan hal baru
2. pembelajaran dipermudah dengan menggunakan objek fisik
3. pembelajaran dipermudah dengan pemecahan masalah yang melibatkan materi yang diajarkan.
c. Tahap-tahap penguasaan
Pembelajar bukanlah hanya pendengar melainkan juga ikut berperan aktif dalam pembelajaran. (Bruner 1966:83). Hal ini sesuai dengan Silent Way yang memandang pembelajaran sebagai suatu aktivitas pencarian hal baru yang kreatif dan aktivitas pemecahan masalah.
d. Hasil yang Dicapai
1. meningkatnya potensi intelektual
2. bergesernya pemahaman dari ekstrinsik ke intrinsic
3. pembelajaran melalui penemuan oleh diri sendiri
4. membantu fungsi memori
5. Suggestopedy
a. Prinsip Dasar
. Metode ini memang menekankan pada pemberian sugesti oleh guru terhadap siswa, sehingga terbentuk situasi yang sangat mendukung bagi siswa untuk berimajiasi dan berkreasi menuangkan pikiran dan ide-idenya ke dalam sebuah puisi.
b. Teknik Pelaksanaan Pengajaran
Metode ini dapat dilakukan dengan banyak cara yang tujuan pokoknya pada pemberian sugesti pada siswa. Sehingga dengan sugesti itu siswa diharapkan memperoleh ketenangan baik secara fisik maupun psikis dalam pembelajaran bahasa. Penggunaan instrumen musik yang mampu menenangkan dan membangkitkan daya imajinasi siswa dapat digunakan dalam metode ini.
c. Tahap-tahap penguasaan
Kondisi siswa yang santai, tenang, dan tanpa paksaan dalam belajar, akan membentuk situasi kolektif yang mendukung juga untuk pembelajaran dalam kelas. Situasi kelas yang tenang, santai, tidak ada peraaan paksaan pada siswa akan sangat mendukung untuk proses selanjutnya.
d. Hasil yang Dicapai
. Dengan adanya kondisi dan situasi yang mendukung, masalah yang dihadapi guru seperti dikemukakan sebelumnya, dapat teratasi dengan penggunaan metode yang tepat.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pada dasarnya antara metode pembelajaran bahasa dan metode-metode lain, tak banyak bedanya. Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah apa yang dimaksud oleh tujuan pembelajaran itu sendiri. Semua situasi pembelajaran, apakah baik atau jelek, mencakup beberapa aspek; yaitu:
1. Teknik dasar
2. Teknik pelaksanaan pengajaran
3. Tahap-tahap penguasaan
4. Hasil yang dicapai
Dalam makalah ini dapat saya simpulkan bahwa untuk mempelajari pemerolehan bahasa secara detail kita dirujuk bukan hanya untuk memahami materinya saja tetapi mengarah pada teori dan praktiknya.
B. Saran.
Cara-cara penyajian materi perlu dipikirkan karena tak mungkin diajarkan sesuatu dengan hasil baik jika tidak dipikirkan cara-cara penyajian mana yang dapat memperoleh hasil sebagaimana yang diinginkan oleh tujuan yang ingin dicapai.bagi pembaca pahami teori-teori tentang pemerolehan bahasa dari makalah ini lah kita dapat membuka cakrawala dunia.